Bisnis.com, JAKARTA — Singapore Exchange Ltd. (SGX) berupaya menarik lebih banyak perusahaan asal China dan Asia Tenggara untuk mencatatkan saham di Singapura guna mendongkrak momentum penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO).
Melansir Bloomberg pada Kamis (5/2/2026) Kepala Global Sales and Origination SGX, Pol de Win, mengatakan bahwa pihaknya optimistis mekanisme pencatatan ganda (dual listing) terbaru dengan Nasdaq Inc. yang dijadwalkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini akan menarik lebih banyak perusahaan berpertumbuhan tinggi.
Meski demikian, saham SGX tercatat melemah pada Kamis (5/2/2026) setelah pendapatan paruh pertama tahun fiskal perseroan meleset dari proyeksi analis.
“Pipeline kami kini lebih besar dibandingkan enam bulan lalu. Kami melihat kesepakatan baru dan transaksi baru masuk ke pipeline dengan laju yang lebih cepat.” ujar de Win, yang sebelumnya bekerja di Goldman Sachs Group Inc. sebelum bergabung dengan SGX pada 2021.
Sebagai sinyal kebangkitan pasar, total dana yang dihimpun dari pencatatan saham melonjak ke level tertinggi dalam enam tahun terakhir sebesar US$1,9 miliar pada tahun lalu.
Dalam perkembangan positif lainnya, penyedia data kekayaan intelektual Patsnap dikabarkan tengah mempertimbangkan pencatatan ganda di Hong Kong dan Singapura, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut. Selain itu, unit real estate investment trust (REIT) milik Boustead Singapore Ltd. juga disebut-sebut berencana melantai di bursa Singapura paling cepat pada Maret mendatang.
Langkah-langkah tersebut ditempuh untuk menghidupkan kembali pasar modal Singapura setelah jumlah perusahaan yang keluar dari bursa (delisting) lebih banyak dibandingkan perusahaan baru yang tercatat hampir setiap tahun selama lebih dari satu dekade.
Pemerintah Singapura pun turut mengambil langkah tambahan untuk meningkatkan aktivitas perdagangan, termasuk rencana mengalokasikan dana sebesar S$5 miliar atau sekitar US$3,9 miliar untuk membeli saham lokal guna memperkuat pemulihan pasar ekuitas.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Kamis (5/2/2026) pagi, laba bersih SGX naik tipis 0,8% secara tahunan menjadi S$342,7 juta untuk periode enam bulan hingga 31 Desember 2026.
Nilai transaksi harian rata-rata sekuritas juga meningkat 20% secara tahunan menjadi S$1,51 miliar. Meski demikian, saham SGX sempat turun hingga 1,7% setelah pengumuman kinerja tersebut.
Tertinggal dari Pesaing
SGX masih tertinggal dibandingkan bursa regional lain seperti Hong Kong dan India di tengah persaingan memperebutkan lonjakan pencatatan saham di Asia sepanjang setahun terakhir.
Perusahaan-perusahaan China, khususnya dari sektor teknologi, cenderung memilih Hong Kong, dengan nilai IPO di kota tersebut mencapai sekitar US$5 miliar hanya dalam satu bulan terakhir. Bursa Tokyo juga gencar menarik startup dari berbagai negara Asia.
Menurut de Win, SGX saat ini tengah membangun pipeline IPO yang solid, baik dari sektor tradisional seperti properti maupun sektor teknologi.
Dia menambahkan, skema pencatatan ganda dengan Nasdaq berpotensi menarik perusahaan yang sebelumnya tidak mempertimbangkan Singapura sebagai lokasi pencatatan saham.
“Jika melihat pasokan perusahaan yang masuk saat ini, banyak di antaranya berasal dari sektor berpertumbuhan tinggi dan ekonomi baru,” katanya.