Roy Suryo mengenakan kaus bertuliskan Raja Jawa saat datang ke PN Surakarta untuk menjadi saksi sidang perkara ijazah mantan Presiden Jokowi, Rabu (18.2.2026).... | Halaman Lengkap [505] url asal
SOLO - Pakar Telematika, Roy Suryo datang ke Pengadilan Negeri (PN) Surakarta untuk menjadi saksi yang dihadirkan kuasa hukum pengugat Citizen Lawsuit (CLS) ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu (18/2/2026). Roy datang mengenakan kaus bertuliskan Raja Jawa.
"Karena sama Pak Dr Taufik (kuasa hukum penggugat) nggak boleh membuka-buka yang banyak, saya buka kaus saja hari ini. Jadi hari ini saya akan membuktikan untuk kesaksian, insya Allah kita akan bersama-sama melawan kezoliman Raja Jawa. Makanya Raja Jawa yang benar tuh adil bukan zolim," kata Roy Suryo.
Roy Suryo mengatakan, dirinya akan mengikuti apa yang nanti diinginkan oleh para kuasa hukum dirinya akan menjelaskan tentang ilmu telematika.
Sebelumnya di tempat terpisah, Roy Suryo membandingkan sejumlah penelitiannya selama ini dengan meneliti ijazah Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tersangka kasus tudingan ijazah palsu Jokowi ini pernah meneliti rekaman suara Presiden ke-3 RI BJ Habibie dan foto Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
"Saya melakukan ini (penelitian) bukan soal ijazah atau lewat pendidikan Gibran saja," ungkap Roy Suryo dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV, Selasa (17/2/2026).
Roy mengungkapkan sejak 1999 dirinya sudah melakukan sejumlah penelitian. Salah satunya yaitu rekaman suara Presiden ke-3 RI BJ Habibie dengan Jaksa Agung saat itu Andi Muhammad Ghalib.
“Waktu itu saya yang memeriksa rekaman suaranya, jadi bocor rekaman di istana, tidak ada orang yang berani meneliti, dan saya orang yang berani meneliti," ucap Roy Suryo.
Namun, menurut Roy Suryo, respons pemerintah saat itu luar biasa. Roy mengaku diundang ke Badan Intelijen ABRI untuk menjelaskan penelitiannya.
"Saya mempresentasikan kenapa bisa meyakinkan dengan itu 100%, waktu itu saya bilang 100%. Kesimpulannya klir itu rekaman kebocoran di istana, jadi benar. Jadi apresiasi yang diterima, kemudian penyelidikan ke dalam jangan sampai berikutnya bocor lagi," jelas Roy Suryo.
Setahun kemudian pada 2000, ia kembali melakukan penelitian dengan skandal foto Gus Dur bersama seorang wanita bernama Aryanti Sitepu. Meskipun banyak kalangan yang tidak suka dengan penelitiannya, namun hal itu berujung baik juga.
"Saya juga yang memeriksa, dan itu tak mudah, pertama banyak sekali teman-teman Banser yang mau nyerang, mau nyerang tapi mempertanyakan, bagus, mereka tidak menghujat saya," jelas Roy.
"Saya jelaskan detailnya, dan Gus Dur dijebak nama hotelnya Hotel Raden di Jalan Raden Saleh, klir, hotelnya kita datengin semua. Blablabla selesai," ungkap dia.
Bahkan sejumlah skandal anggota dewan juga pernah diungkapnya dalam menggunakan penelitian. Anehnya, kata Roy, hanya Jokowi lah objek penelitian yang dinilainya keberatan dan bahkan melakukan pelaporan terhadap dirinya.
"Anggota DPR puluhan yang saya periksa, bahkan saya dihadirkan di MKD untuk meneliti, ada yang sama artis, teman sesama anggota dewan," kata Roy.
"Baru kali ini ada kita menerbitkan sampai buku pertama judulnya adalah Jokowi's White Paper dan itu bersama Rismon dan Tifauzia kemudian orangnya (Jokowi) keberatan dan tidak hanya keberatan tapi langsung dituntut," ujar Roy.
Kendati demikian, Roy mengaku hanya bisa tersenyum melihat respons dari Jokowi. Ia hanya meyakinkan bahwa penelitiannya didasarkan oleh metodologi yang sah.
"Kami senyum saja, jadi artinya semua (penelitian) juga menggunakan program yang reliable, program yang sudah terpercaya," tandas Roy Suryo.
AS merespons kematian Raja Jawa sangat luar biasa dan tak disangka-sangka. Gedung Putih menggelar misi udara khusus demi menghormati Sultan. [687] url asal
Jakarta, CNBC Indonesia - Malam itu di Washington DC, suasana Hotel Embassy Row mendadak mencekam. Seorang tamu bernama Dorodjatun tiba-tiba jatuh sakit. Perutnya menolak makanan yang baru saja dia santap. Segelas air yang diberikan sang istri, Norma, pun tak membantu.
Muntah itu kembali datang. Tubuhnya kian dingin, membuat sang istri Norma segera menyelimuti suaminya dengan sweater dan menelepon KBRI untuk segera memanggil ambulans. Dorodjatun pun langsung dibawa ke George Washington Hospital.
Di rumah sakit, para dokter berpacu melawan waktu. Dada sang Sultan dihentak, berbagai prosedur darurat dijalankan. Namun, satu jam berlalu tanpa hasil. Seorang dokter akhirnya keluar dengan wajah muram dan menyampaikan kabar yang tak ingin didengar siapa pun:
Dorodjatun, atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Hamengkubuwono IX, wafat pada 2 Oktober 1988, tepat hari ini 37 tahun lalu, akibat serangan jantung mendadak.
Kabar itu seketika menjalar lintas benua. Di Jakarta, tangis langsung pecah tatkala sekretaris pribadi Sultan HB IX mendapat telepon pada dini hari tanggal 3 Oktober.
"Meity Minami, sekretaris pribadi Sultan, langsung menjerit dan pecah tangisnya mengejutkan seisi rumah dua lantai, tempat Sultan menghabiskan waktunya kalau sedang di Jakarta," ungkap Julius Pour dalam autobiografi Takhta untuk rakyat: celah-celah kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX (1982).
Indonesia kehilangan bukan hanya seorang raja Jawa, tetapi juga negarawan yang pernah menjabat Wakil Presiden RI dan menjadi salah satu tokoh kunci dalam mempertahankan republik di masa-masa genting.
AS Turut Berduka
Salah satu cuplikan yang tak diketahui banyak orang soal kematian Sultan adalah respons Amerika Serikat. Sebagai negara tempat meninggalnya Sultan, respons Gedung Putih ternyata luar biasa dan tak disangka-sangka.
Usai mendapat nota diplomatik dari RI, AS langsung memutuskan menggelar Dukungan Misi Udara Khusus (Special Air Mission Support) untuk mengantar kepulangan Sultan. Dalam surat rahasia bertanggal 4 Oktober 1988 yang kini sudah dibuka untuk publik, Sekretaris Eksekutif Gedung Putih Melvyn Levitsky mengungkap, AS melakukan demikian sebagai bentuk penghormatan dan citra baik negara.
"Hal ini akan dipandang luas di Indonesia sebagai bentuk niat baik Amerika dan penghormatan terhadap seorang tokoh yang memadukan peran penguasa Jawa turun-temurun, sekaligus pahlawan nasional, pejuang kemerdekaan, serta Wakil Presiden pasca-kemerdekaan dan Gubernur Yogyakarta," tulis Melvyn.
Bagi AS, Sultan adalah tokoh besar yang sangat populer dan unik di Indonesia. Banyak orang menaruh hormat kepadanya, terlebih almarhum punya jasa besar bagi Indonesia.
"Sultan berusia 76 tahun adalah tokoh unik dan populer dalam sejarah Indonesia. [...] Karena atas alasan ini, Sultan sangat dihormati di seluruh Indonesia dan mungkin hanya kalah dari Presiden Soeharto sendiri dalam hal rasa hormat dan penghargaan dari masyarakat Indonesia pada umumnya," tulis Sekretaris Eksekutif Gedung Putih, George P. Cole, dalam surat "MEMORANDUM FOR DIRECTOR, WHITE HOUSE MILITARY OFFICE" tanggal 3 Oktober 1988.
Pemerintah AS kemudian menyiapkan Air Force Two, pesawat berkelir putih dan biru, lengkap dengan pengawalan jet tempur, untuk membawa jenazah Sultan dan keluarga ke Tanah Air. Air Force Two adalah tanda panggil atau sebutan untuk pesawat khusus Wakil Presiden AS.
Pada saat bersamaan, AS juga mengutus Duta Besar-nya di Indonesia bertemu langsung Soeharto untuk menyampaikan duka cita atas nama Presiden Ronald Reagan. AS mengatakan akan memfasilitasi sepenuhnya kepulangan jenazah Wakil Presiden ke-3 RI itu, dari Washington DC ke Jakarta.
Namun, Presiden Soeharto meminta agar pesawat itu hanya mengantarkan jenazah hingga Hawaii. Dari sana, jenazah akan dibawa pulang ke Indonesia menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Pemerintah AS pun menghormati keputusan itu.
Pada 5 Oktober 1988, Air Force Two lepas landas membawa jenazah Sultan Hamengkubuwono IX. Penghormatan militer penuh diberikan. Di Hawaii, upacara kehormatan kembali digelar sebelum jenazah diserahkan kepada pihak Indonesia. Tak hanya itu, seluruh biaya ditanggung penuh oleh pemerintah AS.
"Dukungan pesawat ini sebaiknya diberikan tanpa biaya penggantian (non-reimbursable)," tulis Gedung Putih.
Jenazah Sultan kemudian sampai di Jakarta keesokan harinya dan langsung dimakamkan di Yogyakarta pada 8 Oktober 1988. Sepanjang jalan, ribuan warga tumpah ke jalan mengantarkan ambulans ke tempat peristirahatan terakhir. Mereka menangis melepas kepergian raja Jawa yang sangat bijaksana dan sederhana. Setelah itu, sosok Sri Sultan HB IX yang pernah menyamar menjadi supir truk dan hobi jajan di pinggir jalan kini tinggal kenangan.