Hujan deras mengiringi pemakaman kenegaraan Try Sutrisno di TMP Kalibata, dipimpin Presiden Prabowo, sebagai penghormatan atas jasa almarhum. [480] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Hujan deras mengguyur kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, saat prosesi pemasukan liang lahat Wakil Presiden ke-6 RI Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, Senin (2/3/2026).
Guyuran hujan turun tepat ketika peti jenazah yang diselimuti bendera Merah Putih mulai diturunkan ke liang lahad. Meski intensitas hujan cukup tinggi, prosesi pemakaman kenegaraan tetap berlangsung khidmat sesuai tata upacara militer.
Presiden Prabowo Subianto yang bertindak sebagai inspektur upacara tetap berdiri tegap di bawah tenda dan pengawalan protokoler. Para prajurit TNI yang mengusung dan menurunkan peti jenazah juga tetap menjalankan tugas dengan disiplin, meski seragam mereka basah diguyur hujan.
Tembakan salvo kehormatan tetap dilepaskan, menandai penghormatan terakhir negara kepada almarhum. Suara dentuman peluru kehormatan berpadu dengan derasnya hujan yang membasahi kompleks pemakaman.
Sejumlah tamu undangan dan keluarga almarhum tampak berteduh di bawah tenda yang telah dipersiapkan sebelumnya. Petugas makam dan protokoler bergerak cepat memastikan area liang lahat tetap aman dan tidak tergenang, agar prosesi berjalan lancar.
Setelah peti jenazah diturunkan, Presiden Prabowo secara simbolis memulai penimbunan tanah meski hujan masih turun. Keluarga almarhum kemudian bergantian menaburkan bunga di atas pusara.
Suasana haru terasa semakin kuat ketika hujan belum juga reda hingga prosesi peletakan karangan bunga selesai dilakukan diiringi lagu “gugur bunga”. Beberapa pelayat menyebut hujan yang turun saat pemakaman sebagai simbol kesedihan alam atas kepergian salah satu putra terbaik bangsa.
Try Sutrisno wafat pada pukul 06.58 WIB dalam usia 90 tahun. Negara memberikan penghormatan terakhir melalui upacara pemakaman militer di TMP Kalibata sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara.
Sekadar informasi, Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung upacara pemakaman kenegaraan Wakil Presiden ke-6 RI Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).
Dalam kapasitasnya sebagai inspektur upacara, Presiden menyampaikan penghormatan terakhir atas nama negara, bangsa, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Upacara dimulai sekitar pukul 13.39 WIB setelah jenazah diberangkatkan dari rumah duka dan sebelumnya disalatkan. Peti jenazah yang diselimuti bendera Merah Putih diusung prajurit TNI menuju liang lahad, diiringi penghormatan militer dan tembakan salvo.
Dalam amanatnya, Presiden Prabowo menyampaikan pernyataan resmi negara atas wafatnya almarhum yang meninggal dunia pada pukul 06.58 WIB di Jakarta.
“Saya Presiden Republik Indonesia atas nama negara, bangsa, dan Tentara Nasional Indonesia dengan ini mempersembahkan kepada persada Ibu Pertiwi jiwa raga dan jasa-jasa almarhum Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, jabatan Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia periode 1993—1998, Panglima ABRI periode 1988—1993, putra dari Bapak Subandi (alm), yang telah meninggal dunia demi kepentingan serta keluhuran negara dan bangsa,” tandas Prabowo.
Presiden Ke-8 RI itu melanjutkan agar rekam jejak dari Try Sutrisno turut menjadi bekal perjalanan dan juga contoh bagi generasi sekarang serta yang akan datang.
“Semoga jalan dharma bakti yang ditempuhnya dapat menjadi suri teladan bagi kita semua dan arwahnya mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Besar,” pungkas Prabowo.
AS merespons kematian Raja Jawa sangat luar biasa dan tak disangka-sangka. Gedung Putih menggelar misi udara khusus demi menghormati Sultan. [687] url asal
Jakarta, CNBC Indonesia - Malam itu di Washington DC, suasana Hotel Embassy Row mendadak mencekam. Seorang tamu bernama Dorodjatun tiba-tiba jatuh sakit. Perutnya menolak makanan yang baru saja dia santap. Segelas air yang diberikan sang istri, Norma, pun tak membantu.
Muntah itu kembali datang. Tubuhnya kian dingin, membuat sang istri Norma segera menyelimuti suaminya dengan sweater dan menelepon KBRI untuk segera memanggil ambulans. Dorodjatun pun langsung dibawa ke George Washington Hospital.
Di rumah sakit, para dokter berpacu melawan waktu. Dada sang Sultan dihentak, berbagai prosedur darurat dijalankan. Namun, satu jam berlalu tanpa hasil. Seorang dokter akhirnya keluar dengan wajah muram dan menyampaikan kabar yang tak ingin didengar siapa pun:
Dorodjatun, atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Hamengkubuwono IX, wafat pada 2 Oktober 1988, tepat hari ini 37 tahun lalu, akibat serangan jantung mendadak.
Kabar itu seketika menjalar lintas benua. Di Jakarta, tangis langsung pecah tatkala sekretaris pribadi Sultan HB IX mendapat telepon pada dini hari tanggal 3 Oktober.
"Meity Minami, sekretaris pribadi Sultan, langsung menjerit dan pecah tangisnya mengejutkan seisi rumah dua lantai, tempat Sultan menghabiskan waktunya kalau sedang di Jakarta," ungkap Julius Pour dalam autobiografi Takhta untuk rakyat: celah-celah kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX (1982).
Indonesia kehilangan bukan hanya seorang raja Jawa, tetapi juga negarawan yang pernah menjabat Wakil Presiden RI dan menjadi salah satu tokoh kunci dalam mempertahankan republik di masa-masa genting.
AS Turut Berduka
Salah satu cuplikan yang tak diketahui banyak orang soal kematian Sultan adalah respons Amerika Serikat. Sebagai negara tempat meninggalnya Sultan, respons Gedung Putih ternyata luar biasa dan tak disangka-sangka.
Usai mendapat nota diplomatik dari RI, AS langsung memutuskan menggelar Dukungan Misi Udara Khusus (Special Air Mission Support) untuk mengantar kepulangan Sultan. Dalam surat rahasia bertanggal 4 Oktober 1988 yang kini sudah dibuka untuk publik, Sekretaris Eksekutif Gedung Putih Melvyn Levitsky mengungkap, AS melakukan demikian sebagai bentuk penghormatan dan citra baik negara.
"Hal ini akan dipandang luas di Indonesia sebagai bentuk niat baik Amerika dan penghormatan terhadap seorang tokoh yang memadukan peran penguasa Jawa turun-temurun, sekaligus pahlawan nasional, pejuang kemerdekaan, serta Wakil Presiden pasca-kemerdekaan dan Gubernur Yogyakarta," tulis Melvyn.
Bagi AS, Sultan adalah tokoh besar yang sangat populer dan unik di Indonesia. Banyak orang menaruh hormat kepadanya, terlebih almarhum punya jasa besar bagi Indonesia.
"Sultan berusia 76 tahun adalah tokoh unik dan populer dalam sejarah Indonesia. [...] Karena atas alasan ini, Sultan sangat dihormati di seluruh Indonesia dan mungkin hanya kalah dari Presiden Soeharto sendiri dalam hal rasa hormat dan penghargaan dari masyarakat Indonesia pada umumnya," tulis Sekretaris Eksekutif Gedung Putih, George P. Cole, dalam surat "MEMORANDUM FOR DIRECTOR, WHITE HOUSE MILITARY OFFICE" tanggal 3 Oktober 1988.
Pemerintah AS kemudian menyiapkan Air Force Two, pesawat berkelir putih dan biru, lengkap dengan pengawalan jet tempur, untuk membawa jenazah Sultan dan keluarga ke Tanah Air. Air Force Two adalah tanda panggil atau sebutan untuk pesawat khusus Wakil Presiden AS.
Pada saat bersamaan, AS juga mengutus Duta Besar-nya di Indonesia bertemu langsung Soeharto untuk menyampaikan duka cita atas nama Presiden Ronald Reagan. AS mengatakan akan memfasilitasi sepenuhnya kepulangan jenazah Wakil Presiden ke-3 RI itu, dari Washington DC ke Jakarta.
Namun, Presiden Soeharto meminta agar pesawat itu hanya mengantarkan jenazah hingga Hawaii. Dari sana, jenazah akan dibawa pulang ke Indonesia menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Pemerintah AS pun menghormati keputusan itu.
Pada 5 Oktober 1988, Air Force Two lepas landas membawa jenazah Sultan Hamengkubuwono IX. Penghormatan militer penuh diberikan. Di Hawaii, upacara kehormatan kembali digelar sebelum jenazah diserahkan kepada pihak Indonesia. Tak hanya itu, seluruh biaya ditanggung penuh oleh pemerintah AS.
"Dukungan pesawat ini sebaiknya diberikan tanpa biaya penggantian (non-reimbursable)," tulis Gedung Putih.
Jenazah Sultan kemudian sampai di Jakarta keesokan harinya dan langsung dimakamkan di Yogyakarta pada 8 Oktober 1988. Sepanjang jalan, ribuan warga tumpah ke jalan mengantarkan ambulans ke tempat peristirahatan terakhir. Mereka menangis melepas kepergian raja Jawa yang sangat bijaksana dan sederhana. Setelah itu, sosok Sri Sultan HB IX yang pernah menyamar menjadi supir truk dan hobi jajan di pinggir jalan kini tinggal kenangan.