Bisnis.com, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) akan segera memulai program asuransi untuk melindungi pelayaran di Selat Hormuz, sebagai upaya memulihkan aliran pasokan minyak dan gas. Namun demikian, Iran tetap melarang kapal terkait AS-Israel melintasi Selat Hormuz selama mereka masih menyerang Tanah Persia.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan rencana pemberlakuan asuransi itu pada Kamis malam waktu setempat (26/3/2026), dalam rapat kabinet Presiden AS Donald Trump. Pernyataan itu diungkapkan sang menteri beberapa pekan setelah Trump pertama kali mengumumkan rencana asuransi di jalur perairan vital dunia tersebut.
Walau rencana ini pertama kali diumumkan pada 3 Maret 2026 lalu, hingga kini belum ada bukti bahwa kapal-kapal yang memanfaatkan inisiatif tersebut telah melewati selat Hormuz, seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (31/3/2026).
“Pasar minyak memiliki pasokan yang cukup. Kami telah mengambil tindakan untuk memastikan pasokan minyak yang terdampar di laut dapat tersedia bagi pasar global," ujar Bessent dalam pertemuan kabinet tersebut.
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar seperlima dari seluruh aliran minyak dan gas, termasuk gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia.
Dalam kesempatan yang sama, Bessent memuji program reasuransi maritim ini, yang bekerja sama dengan satuan militer Komando Sentral AS, sebagai tindakan yang “berani” dari Trump. Menurutnya, skema ini akan memberikan tingkat keamanan yang sebelumnya belum pernah terlihat bagi kapal-kapal yang berlayar di wilayah Teluk Persia.
Pernyataan Bessent itu disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran atas lonjakan harga minyak dan gas akibat serangan AS-Israel ke Iran. Selain itu, terdapat juga ancaman bahwa guncangan pasokan energi akan terus bertahan sekalipun perang telah berakhir.
Walaupun pada pekan lalu Trump menyatakan bahwa pemerintah Iran mengizinkan 10 tanker berlayar melalui Selat Hormuz, sebagian besar kapal komersial masih menghindari perairan itu sejak serangan di wilayah dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Serangan-serangan yang dilakukan kedua belah pihak pun melebar ke Selat Hormuz hingga menyasar kapal yang melintas dan mengakibatkan selat tersebut, secara efektif, tertutup. Iran juga ikut menarget infrastruktur penyulingan dan pemrosesan gas di kawasan, sebagai respons atas serangan AS-Israel ke berbagai sarana dan infrastruktur Iran, yang membuat sebagian pasokan terhenti dan makin merumitkan peluang penyelesaian konflik secara cepat.
Melalui rencana reasuransi kapal Trump, instansi US International Development Finance Corporation (DFC) milik pemerintah AS akan memberikan jaminan asuransi dengan pengawalan kapal untuk membantu memastikan pelayaran yang aman bagi tanker-tanker minyak dan kapal lainnya melalui Selat Hormuz.
Biaya Asuransi Melonjak Tinggi
Saat ini, pengasuransian kapal masih dapat dilakukan, tetapi dengan biaya yang sangat tinggi. Biaya pertanggungan pelayaran telah melonjak hingga sekitar 5% dari nilai sebuah kapal, meningkat sekitar lima kali lipat dari angka yang ada pada permulaan konflik.
Biaya pertanggungan tersebut bahkan juga berkali-kali lipat lebih besar dari angka awal yang biasa terlihat pada periode ketika konflik relatif minim terjadi, yaitu yang hanya sepersekian persen dari nilai sebuah kapal.
Chief Executive Officer (CEO) pasar asuransi Lloyd's of London pun mengatakan bahwa pihaknya akan terus memberikan pertanggungan bagi kapal-kapal yang melakukan perjalanan melintasi jalur air vital tersebut.
Hal itu menunjukkan bahwa ancaman serangan militer dari Iran merupakan rintangan utama bagi para kapal untuk melalui Selat Hormuz, karena bukan ketiadaan asuransi.
Bessent mengatakan bahwa pihaknya melihat bahwa semakin banyak tanker yang keluar dan masuk kawasan Teluk Persia. Dia menyebut hal itu baru merupakan permulaan pemulihan kondisi lalu lintas pelayaran.
“Saya yakin bahwa lalu lintas pelayaran akan terus meningkat setiap harinya bahkan sebelum kita mengamankan selat tersebut,” katanya.
Strategi AS Hadapi Lonjakan Harga Minyak
Kenaikan harga bahan bakar dinilai dapat mengancam capaian ekonomi yang telah dicapai dari pemerintahan Trump dan menciptakan beban politik bagi partai politiknya.
Meski demikian, Bessent melihat bahwa ekonomi AS kini lebih mampu menahan disrupsi energi jangka pendek karena Trump telah mendorong peningkatan produksi minyak dan gas domestik. Dia juga menyebut bahwa warga AS bersedia menerima harga yang lebih tinggi dalam jangka pendek, apabila akan tercipta kestabilan pada jangka panjang.
“Banyak orang meremehkan tekad rakyat Amerika untuk menghadapi volatilitas jangka pendek demi 50 tahun keamanan yang akan kita miliki setelah ini berlalu,” ungkap Bessent.
Menanggapi perkembangan harga energi, pemerintahan Trump telah mengambil tindakan-tindakan untuk meredam harga dan mengatasi beberapa kekhawatiran terkait pasokan minyak.
Salah satu langkah tersebut adalah penerbitan pengecualian atas regulasi maritim yang membatasi pengangkutan kargo antarpelabuhan AS untuk kapal yang dibangun, berbendera, dan dimiliki oleh AS. Pemerintah AS juga telah melepaskan jutaan barel minyak mentah dari cadangan darurat negara.
Terdapat pula opsi-opsi kebijakan lain yang bisa diambil, seperti penangguhan pajak bensin federal. Trump mengatakan bahwa kebijakan yang harus disetujui lembaga legislatif AS tersebut merupakan sesuatu yang pihaknya simpan sebagai opsi cadangan jika mereka merasa bahwa itu memang diperlukan.
Opsi lain yang bisa diambil Trump bersifat lebih keras dan memaksa, yaitu dengan mengambil alih kendali atas minyak Iran. Walaupun Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut pekan lalu, hal itu bisa merujuk pada penyitaan atau pendudukan Pulau Kharg, pusat produksi minyak Iran. (Laurensius Katon Kandela)