Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) mencatatkan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,57 triliun, naik 9,03% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,11 triliun.
Kenaikan laba tersebut sejalan dengan meningkatnya pendapatan dari penyaluran dana. Hingga September 2025, pendapatan dari penyaluran dana tercatat sebesar Rp22,23 triliun, tumbuh 15,24% dari Rp19,29 triliun pada kuartal III/2024.
Secara rinci, pendapatan dari piutang naik 13,26% menjadi Rp12,14 triliun dibandingkan Rp10,72 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan dari bagi hasil tumbuh lebih tinggi, yakni 29,27% menjadi Rp7,45 triliun dari sebelumnya Rp5,76 triliun.
Dari sisi distribusi bagi hasil, bagi hasil untuk pemilik dana investasi juga meningkat 18,15% menjadi Rp6,90 triliun dibandingkan Rp5,84 triliun pada September 2024.
Setelah memperhitungkan distribusi bagi hasil tersebut, pendapatan setelah distribusi bagi hasil tercatat sebesar Rp15,33 triliun, naik 13,98% dari Rp13,45 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, beban risiko turut meningkat. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) naik 11,19% menjadi Rp1,89 triliun dibandingkan Rp1,69 triliun pada kuartal III/2024.
Dari sisi intermediasi, penyaluran pembiayaan BSI tumbuh 12,68% menjadi Rp300,26 triliun hingga akhir September 2025, dari Rp266,46 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan juga meningkat 3,32% menjadi Rp10,62 triliun dari Rp10,28 triliun. Total aset Bank Syariah Indonesia tercatat sebesar Rp416,56 triliun, tumbuh 12,36% dibandingkan Rp370,72 triliun per September 2024.
Adapun, dana simpanan wadiah naik 9,11% menjadi Rp77,08 triliun dari Rp70,64 triliun. Adapun dana investasi non-profit sharing meningkat signifikan 17,68% menjadi Rp271,30 triliun dibandingkan Rp230,58 triliun pada kuartal III/2024.
Selain mencatat pertumbuhan laba, rasio keuangan BSI menunjukkan kinerja yang relatif terjaga hingga akhir kuartal III/2025. Tingkat Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) berada di level 21,59%, meningkat dari 21,38% pada periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan permodalan BSI masih kuat di atas ketentuan minimum regulator.
Rasio aset produktif bermasalah dan aset nonproduktif bermasalah terhadap total aset naik menjadi 1,45% dibandingkan 1,25% pada September 2024. Namun, rasio aset produktif bermasalah terhadap total aset produktif justru sedikit membaik ke 1,46% dari sebelumnya 1,52%.
Sementara itu, Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) terhadap aset keuangan produktif tercatat 2,81%, turun tipis dari 2,98% setahun sebelumnya.
Dari sisi kualitas pembiayaan, non-performing financing (NPF) gross membaik menjadi 1,84% dari 1,97%, sedangkan NPF net sedikit menurun ke 0,55% dari 0,56%.
Kemudian, Return on Assets (ROA) tercatat 2,39%, sedikit menurun dari 2,47%, sementara Return on Equity (ROE) juga turun ke 16,85% dari 17,59%. Net Imbalan (NI) berada di posisi 5,64%, meningkat dari 5,55%, dan Net Operating Margin (NOM) sedikit terkoreksi ke 2,72% dari 2,81%.
Dari sisi efisiensi, Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) tercatat 71,47%, naik dari 69,83%, sementara Cost to Income Ratio (CIR) juga meningkat menjadi 51,08% dari 48,99% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun rasio pembiayaan bagi hasil terhadap total pembiayaan naik menjadi 44,67% dari 41%, menunjukkan peningkatan kontribusi segmen bagi hasil terhadap portofolio pembiayaan.
Sementara itu, Financing to Deposit Ratio (FDR) atau rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga berada di 86,29%, sedikit menurun dari 88,59% pada September 2024, mencerminkan likuiditas yang tetap longgar.