Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan minyak Saudi Aramco melaporkan lonjakan laba sebesar 26% pada kuartal I/2026. Pertumbuhan positif itu disebabkan oleh pipa timur-barat milik perusahaan memungkinkan mereka untuk mengirimkan jutaan barel minyak ke luar wilayah Teluk Persia.
Lonjakan itu membuat laba Saudi Aramco mencapai US$33,6 miliar hingga kuartal I/2026, seperti dilansir dari The Guardian, Rabu (13/6/2026). Sementara itu, pendapatan perusahaan naik hampir 7% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year/YoY) menjadi US$115,15 miliar.
Peningkatan laba perusahaan minyak milik Arab Saudi itu terjadi walaupun saat ini perang di Asia Barat alias Timur Tengah masih terjadi. Pertumbuhan pun bahkan terjadi ketika Saudi Aramco menghadapi serangan-serangan terhadap infrastrukturnya serta penghentian ekspor melalui pelabuhan-pelabuhannya di Teluk Persia.
Melansir Euronews, pendapatan Saudi Aramco sebagian meningkat karena harga minyak mentah dan bahan bakar yang lebih tinggi. Namun, meskipun hal itu sebagian diimbangi oleh volume penjualan minyak mentah serta produk olahan dan kimia yang lebih rendah.
Presiden dan Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco Amin Nasser menyebut bahwa pipa timur-barat milik perusahaannya, yang mempunyai kapasitas minyak hingga 7 juta barel per hari, menjadi salah satu kunci dari kinerja baik dari salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia itu.
Sebagai perbandingan, Saudi Aramco memproduksi 11,1 juta barel minyak per hari pada kuartal IV/2025.
“[Pipa kami] telah membuktikan dirinya sebagai arteri pasokan yang penting, membantu mengurangi dampak dari guncangan energi global dan memberikan bantuan bagi para pelanggan yang terkena dampak kendala pelayaran di Selat Hormuz,” ucapnya.
Selat Hormuz memang telah secara efektif tertutup sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari 2026, yang memulai perang di Asia Barat itu. Selat tersebut biasanya dilalui oleh sekitar 20% dari pasokan minyak dan gas dunia.
Gangguan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga energi global, dengan minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, diperdagangkan pada harga sekitar US$100 per barel. Harga itu sekitar 40% lebih tinggi daripada harga sebelum konflik.
Pipa timur-barat Saudi Aramco memungkinkan perusahaan itu untuk mengirimkan minyak dari pantai timurnya ke pelabuhan Laut Merah di Yanbu, yang berada di wilayah barat Arab Saudi, tanpa harus menuju Selat Hormuz.
Saudi Aramco juga mengatakan bahwa mereka akan mempertahankan dividen per kuartalnya sebesar $21,9 miliar. Pada akhir 2025, mereka meningkatkan pembayaran sebesar 3,5%.
Arab Saudi sangat bergantung pada dividen Aramco untuk mendanai pengeluaran domestiknya. Pemerintah negara itu secara langsung memiliki lebih dari 80% saham perusahaan tersebut, sementara investor kedaulatannya, Dana Investasi Publik (Public Investment Fund), yaitu dana investasi nasional Arab Saudi, memegang 16% sahamnya.
Saudi Aramco kini mempekerjakan lebih dari 76.000 orang di seluruh dunia dan merupakan salah satu bisnis serta produsen minyak terbesar di dunia.
Blokade Selat Hormuz Punya Dampak Jangka Panjang
Sebelumnya, Nasser pernah memperingatkan bahwa blokade Selat Hormuz yang terus berlanjut akan menjadi “bencana" bagi pasar minyak global. Dia pun menyebut bahwa butuh waktu berbulan-bulan bagi pasar untuk kembali normal, bahkan apabila jalur perairan penting itu segera dibuka kembali.
Waktu bulanan itu, menurutnya, diperlukan pasar minyak untuk menyeimbangkan dirinya kembali.
“Akan tetapi, jika perdagangan dan pelayaran tetap dibatasi lebih dari beberapa pekan dari hari ini, kami mengantisipasi gangguan pasokan akan terus berlanjut dan pasar baru akan normal pada 2027,” tulisnya dalam surel kepada Bloomberg.
Meski begitu, Nasser, dalam kesempatan berbeda, menyatakan bahwa gangguan yang bersumber dari perang di Asia Barat tidak memengaruhi keuangan atau operasi perusahaannya secara signifikan.
“Peristiwa baru-baru ini telah dengan jelas menunjukkan kontribusi vital minyak dan gas terhadap ketahanan energi dan ekonomi global, serta merupakan pengingat nyata bahwa pasokan energi yang dapat diandalkan adalah hal yang sangat kritis,” ungkapnya.
Saat ini, AS masih menunggu tanggapan dari Iran terhadap proposalnya mengenai kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang yang sudah berjalan lebih dari 2 bulan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, telah terjadi pertempuran di dan di sekitar Selat Hormuz. Serangan-serangan terjadi pasca pengumuman dan penundaan misi angkatan laut AS dari Presiden AS Donald Trump yang bertujuan untuk membuka selat itu. (Laurensius Katon Kandela)