Bisnis.com, JAKARTA - World Economic Forum (WEF) menempatkan Adaptabilitas dan Kecerdasan Emosional sebagai bagian dari keterampilan masa depan, yang sangat berkaitan dengan kompetensi lintas budaya.
Bank Dunia juga mencatat bahwa Asia Timur dan Pasifik menjadi motor pertumbuhan ekonomi dunia, dengan kinerja yang kerap melampaui rata-rata global.
Dinamika kawasan ini menjadikannya laboratorium penting untuk memahami perilaku pasar internasional, sekaligus menegaskan urgensi menghadirkan pengalaman belajar berperspektif global bagi mahasiswa.
Di tengah percepatan globalisasi dan integrasi ekonomi dunia, kolaborasi internasional dalam pendidikan tinggi menjadi kebutuhan strategis.
Dr. William Shanon, Lecturer in Marketing dari University of Canterbury mengatakan kolaborasi merupakan kesempatan yang sangat baik bagi para mahasiswa untuk terhubung dan berbagi wawasan.
Menurutnya, dengan cara itu, mahasiswa belajar melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Ini adalah contoh nyata pembelajaran internasional lintas budaya dan bagaimana kolaborasi ide dari berbagai budaya dapat menghasilkan wawasan yang lebih kaya.
Christian Widi Nugraha, GM Head of Creative and Digital Marketing PT Kino Indonesia, mengatakan kolaborasi dua negara dapat menghasilkan kebutuhan dan sudut pandang yang berbeda. Kami dari industri pun dapat memberikan informasi dan edukasi yang bermanfaat bagi calon pemasar baru, sehingga ke depan mereka bisa menghasilkan inovasi dari sudut pandang pemasaran.
Angelica Natasha, M.M., Head Of Cooperation & Partnership School of Business and Economics Universitas Prasetiya Mulya mengatakan melalui kolaborasi lintas negara, mahasiswa belajar melihat konsumen tidak hanya sebagai data, tetapi sebagai bagian dari konteks budaya yang kompleks.
"Kompetensi seperti inilah yang kami bangun sejak semester pertama agar mereka siap menjadi pemasar global yang adaptif dan berdaya saing," ujarnya yang menjelaskan saat ini Program Studi S1 International Marketing Universitas Prasetiya Mulya kembali menyelenggarakan Immersion Program bersama University of Canterbury (UC), New Zealand.
Dia mengatakan dengan cara ini, mahasiswa diajak memahami bagaimana perilaku konsumen dan consumer insight dianalisis dalam konteks pasar global melalui interaksi lintas budaya secara langsung.
Menurutnya, melalui rangkaian kegiatan meliputi group discussion, guest lecture, hingga final presentation yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mempresentasikan temuan dan rekomendasi berbasis riset konsumen.
"Ini merupakan bentuk konkret dari komitmen kami menghadirkan pembelajaran yang relevan, global, dan berbasis pengalaman nyata," kata dia.