#30 tag 24jam
BI Kalbar perkuat digitalisasi sistem pembayaran QRIS di perbatasan
Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Barat memperkuat digitalisasi sistem pembayaran di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia melalui perluasan penggunaan ... [507] url asal
Pontianak (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Barat memperkuat digitalisasi sistem pembayaran di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia melalui perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
"Penguatan digitalisasi keuangan tersebut termasuk QRIS Cross Border, untuk mendukung transaksi lintas negara yang lebih mudah, aman, dan efisien bagi masyarakat maupun pelaku usaha," kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Reynaldi Akbar Ariesha di Pontianak, Senin.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Layanan Perbankan Nusantara (LENTERA) Batas Negeri 2026 yang berlangsung di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau.
Program tersebut merupakan sinergi Bank Indonesia bersama pemerintah daerah, perbankan, instansi vertikal, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat layanan kebanksentralan di wilayah perbatasan.
Reynaldi Akbar Ariesha mengatakan kawasan perbatasan memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi lintas negara sehingga memerlukan dukungan sistem pembayaran yang modern serta inklusif.
Selain memperkuat penggunaan Rupiah sebagai simbol kedaulatan negara, Bank Indonesia juga terus memperluas akseptasi pembayaran digital melalui QRIS dan QRIS Cross Border agar masyarakat serta pelaku usaha dapat melakukan transaksi secara lebih praktis, termasuk dalam aktivitas ekonomi antara Indonesia dan Malaysia.
Hingga Mei 2026, jumlah merchant QRIS di Kalimantan Barat telah mencapai lebih dari 539 ribu merchant dengan mayoritas merupakan pelaku usaha mikro. Capaian tersebut menunjukkan semakin luasnya adopsi sistem pembayaran digital sebagai sarana transaksi yang cepat, aman, dan efisien.
"Melalui edukasi QRIS Cross Border, kami berharap transaksi ekonomi di kawasan perbatasan dapat berlangsung semakin mudah dan terintegrasi sehingga mampu mendorong aktivitas perdagangan serta meningkatkan daya saing pelaku UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah)," katanya.
Dalam kegiatan LENTERA Batas Negeri 2026, Bank Indonesia juga memberikan edukasi mengenai QRIS Cross Border, program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah, perlindungan konsumen, serta literasi keuangan kepada masyarakat perbatasan.
Selain edukasi, kegiatan tersebut menghadirkan Pasar Batas Nusantara yang melibatkan 23 UMKM binaan Rumah BUMN Sanggau. Selama pelaksanaan kegiatan, UMKM berhasil menjual 131 produk dengan total omzet mencapai Rp4,54 juta, sekaligus menjadi sarana promosi produk lokal yang didukung transaksi pembayaran digital.
Bank Indonesia juga menghadirkan Rupiah Corner Perbatasan sebagai pusat edukasi interaktif mengenai keaslian Rupiah, sistem pembayaran digital, dan peran bank sentral. Sementara itu, kegiatan business matching mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli, distributor, investor, serta lembaga pembiayaan untuk memperluas akses pasar.
Di sisi lain, BI Kalbar terus memastikan layanan kebanksentralan menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T). Hingga Juni 2026, layanan kas keliling telah dilaksanakan di 12 titik wilayah 3T dengan nilai penukaran uang mencapai Rp2,78 miliar, sedangkan melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat, BI telah melayani penukaran uang sebesar Rp15,6 miliar di lima pulau terluar Kalimantan Barat.
Sepanjang 2026, Bank Indonesia Kalimantan Barat juga telah menyelenggarakan 74 kegiatan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah yang menjangkau lebih dari 22 ribu peserta sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Melalui sinergi bersama pemerintah daerah, perbankan, dan berbagai instansi, Bank Indonesia optimistis penguatan digitalisasi sistem pembayaran di kawasan perbatasan tidak hanya meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat, memperluas akses keuangan, serta memperkokoh kedaulatan Rupiah di wilayah beranda terdepan Indonesia.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dari tradisi, Nyobeng jadi potensi wisata perbatasan
Aroma embun masih tercium di antara perbukitan hijau yang mengelilingi Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan ... [2,115] url asal
Di tengah kampung berdiri Rumah Balok, rumah adat yang menjadi pusat berbagai ritual Nyobeng
Pontianak (ANTARA) - Aroma embun masih tercium di antara perbukitan hijau yang mengelilingi Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Udara pagi yang sejuk menyelimuti kampung kecil di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia itu ketika satu per satu warga mulai meninggalkan rumah mereka.
Beberapa warga terlihat memanggul peralatan pertanian, berjalan menyusuri jalan setapak menuju ladang yang membentang di lereng-lereng bukit. Bagi masyarakat Dayak Bidayuh di wilayah ini, kehidupan masih berjalan mengikuti ritme alam yang telah diwariskan turun-temurun.
Ladang bukan sekadar tempat bercocok tanam. Di sanalah identitas, nilai kehidupan, dan kebudayaan mereka tumbuh serta dipelihara dari generasi ke generasi.
Padi yang ditanam di ladang menjadi sumber kehidupan utama masyarakat. Namun lebih dari itu, hasil panen juga menjadi penanda berakhirnya satu siklus kehidupan sekaligus awal dari perayaan budaya terbesar yang dimiliki masyarakat Dayak Bidayuh, yakni Nyobeng.
Di wilayah perbatasan yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Sarawak, Malaysia, tradisi tersebut tidak lahir sebagai pertunjukan wisata yang sengaja diciptakan untuk menarik pengunjung. Nyobeng tumbuh secara alami dari kehidupan agraris masyarakat yang selama ratusan tahun menggantungkan hidup pada hasil ladang.
Ketika musim panen berakhir dan padi telah tersimpan rapi di lumbung, masyarakat memasuki masa syukur yang diwujudkan melalui pelaksanaan gawai adat. Dari momentum inilah tradisi Nyobeng dilaksanakan.
Kepala Dusun Sebujit Baru Novel Andika mengatakan, pelaksanaan Nyobeng selalu berkaitan erat dengan selesainya musim panen.
"Nyobeng dilaksanakan setelah masyarakat selesai panen. Jadi ini merupakan bentuk syukur masyarakat atas hasil panen yang diberikan Tuhan sekaligus penghormatan kepada leluhur yang selama ini menjaga kampung dan kehidupan masyarakat," katanya.
Bagi masyarakat Dayak Bidayuh, keberhasilan panen bukan hanya hasil kerja keras manusia, tetapi juga bagian dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur yang dipercaya turut menjaga keseimbangan kehidupan. Karena itu, rasa syukur tidak dirayakan secara individual, melainkan menjadi perayaan bersama seluruh komunitas.
Di tengah kampung berdiri Rumah Balok, rumah adat yang menjadi pusat berbagai ritual Nyobeng. Bangunan kayu berusia puluhan tahun itu menjadi saksi perjalanan panjang sejarah masyarakat Dayak Bidayuh di Sebujit Baru.
Di dalam rumah adat tersebut, para tetua adat memimpin berbagai prosesi yang sarat makna. Denting gong bertalu-talu mengiringi tarian tradisional. Generasi muda mengenakan pakaian adat lengkap, sementara para orang tua berkumpul menceritakan kembali kisah-kisah leluhur kepada anak cucu mereka.
Di sinilah Nyobeng memainkan perannya sebagai jembatan antargenerasi. Tradisi ini menjadi ruang kolektif untuk memperkuat ikatan sosial, menjaga memori budaya, sekaligus memastikan nilai-nilai leluhur tetap hidup di tengah arus modernisasi yang terus bergerak hingga ke kawasan perbatasan.

Potensi wisata budaya
Keunikan Nyobeng tidak hanya terletak pada ritual adatnya. Tradisi ini juga menjadi simbol kuat hubungan kekeluargaan masyarakat Dayak Bidayuh yang melampaui batas negara.
Setiap kali Nyobeng digelar, ribuan kerabat Dayak Bidayuh dari berbagai wilayah di Sarawak, Malaysia, berdatangan ke Desa Hlibuei. Mereka menempuh perjalanan berjam-jam melintasi perbatasan untuk menghadiri perayaan yang sama.
Pada momentum tersebut, garis batas negara yang memisahkan Indonesia dan Malaysia seolah kehilangan maknanya.
Di setiap rumah warga, meja-meja dipenuhi makanan tradisional, kopi hangat, tuak, serta berbagai hidangan khas yang disiapkan untuk menyambut tamu. Tawa dan percakapan dalam bahasa Bidayuh terdengar hampir di setiap sudut kampung.
Keluarga yang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak bertemu kembali berkumpul dalam suasana penuh keakraban.
Anak-anak bermain bersama tanpa mempersoalkan kewarganegaraan. Orang-orang tua mengenang hubungan keluarga yang telah terjalin jauh sebelum batas negara modern dibentuk.
Selama beberapa hari, Sebujit Baru berubah menjadi ruang besar persaudaraan lintas batas yang memperlihatkan kuatnya ikatan budaya masyarakat Dayak Bidayuh.
"Di balik kemeriahan budaya tersebut, Nyobeng juga menghadirkan manfaat ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat setempat," kata Novel Andika.
Ribuan pengunjung yang datang setiap tahun menciptakan perputaran ekonomi di desa yang selama ini bergantung pada sektor pertanian.
Warung-warung dadakan bermunculan di sepanjang jalan desa. Warga menjual makanan tradisional, hasil kebun, kerajinan tangan, hingga berbagai cendera mata khas perbatasan.
Pemuda desa membantu mengatur parkir kendaraan, menyediakan jasa transportasi lokal, serta menjadi pemandu bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan budaya masyarakat Dayak Bidayuh.
Beberapa rumah warga bahkan mulai dimanfaatkan sebagai tempat menginap bagi tamu yang datang dari luar daerah maupun luar negeri.
Bagi masyarakat Hlibuei, Nyobeng kini tidak hanya menjadi instrumen pelestarian budaya, tetapi juga membuka sumber pendapatan tambahan yang semakin penting bagi ekonomi keluarga.
Besarnya antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah pengunjung yang terus meningkat setiap tahun. Pada pelaksanaan Nyobeng tahun ini, lebih dari 300 kendaraan roda empat dari luar memadati kawasan Desa Hlibuei, sementara jumlah pengunjung mencapai ribuan orang yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Barat maupun dari Malaysia.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kawasan perbatasan menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata budaya.
Berbeda dengan destinasi yang dibangun secara artifisial, Nyobeng menawarkan pengalaman yang autentik. Pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan budaya, tetapi juga merasakan langsung kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi leluhur sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.
"Keaslian itulah yang kini menjadi daya tarik utama wisata budaya di berbagai belahan dunia," kata Novel.
Ketika banyak tradisi mulai tergerus modernisasi, masyarakat Dayak Bidayuh di Sebujit Baru justru berhasil mempertahankan warisan budaya mereka tanpa kehilangan makna dan nilai aslinya.
"Saya dan keluarga baru pertama kali datang ke Sebujit untuk menyaksikan gawai Nyobeng. Ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Perayaannya spektakuler dan sarat makna budaya," kata Zikri, warga Sarawak.
Dia menyatakan sangat berminat untuk datang kembali dan akan mengajak sahabatnya pada perayaan tahun depan.
Sementara itu, Hermandari, warga Jakarta yang sengaja datang ke Sebujit menyatakan tertarik untuk datang langsung ke sebujit setelah melihat keseruan Nyobeng di media sosial.
"Saya mengikuti setiap ritual dan pelaksanaannya dan ini benar-benar menarik. Saya kebetulan sangat suka dengan budaya, termasuk ciri khas setiap rumah adat dan Nyobeng ini salah satu budaya yang menarik," tuturnya.

Budaya unik Dayak Bidayuh
Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Bengkayang memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan tradisi Nyobeng sebagai upaya nyata menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Perwakilan DAD Bengkayang, Rudi MPD, mengatakan pelaksanaan Nyobeng tahun 2026merupakan kebanggaan bersama masyarakat adat Dayak, khususnya Suku Bidayuh, yang hingga kini masih konsisten menjaga tradisi turun-temurun tersebut.
“Kita bersyukur bisa hadir dalam kegiatan ini. Ini adalah sesuatu yang luar biasa, karena Nyobeng bukan hanya milik satu kelompok, tetapi milik kita bersama sebagai warisan budaya,” kata Rudi dalam sambutannya pada pembukaan acara, di Desa Hlibuei.
Ia menuturkan, pada pelaksanaan tahun ini, berbagai pertunjukan adat ditampilkan sejak awal acara, termasuk suguhan minuman khas Dayak Bidayuh serta atraksi budaya yang menjadi daya tarik utama bagi para tamu undangan dan wisatawan.
Salah satu atraksi yang menjadi perhatian adalah panjat bambu “putar balik”, yang disebutnya sebagai ikon khas yang hanya ada di Kabupaten Bengkayang dan tidak ditemukan di daerah lain.
“Ini luar biasa dan menjadi ikon tersendiri. Dibutuhkan kekuatan, konsentrasi, dan ketahanan fisik yang tinggi untuk melakukan atraksi ini,” ujarnya.
Rudi juga menyampaikan apresiasi kepada panitia dan pengurus adat yang telah menyelenggarakan kegiatan Nyobeng 2026 dengan baik, sehingga dapat berjalan lancar dan menarik perhatian banyak pengunjung, termasuk wisatawan dari luar negeri.
Ia menyebutkan, pada tahun ini terdapat tamu dari berbagai daerah dan negara, termasuk wisatawan dari Malaysia seperti Kuala Lumpur dan Sarawak, serta pengunjung dari negara lain seperti India dan Thailand yang turut menyaksikan langsung tradisi tersebut.
“Ini menunjukkan bahwa budaya Nyobeng sudah dikenal luas, bahkan hingga ke mancanegara. Kita patut bersyukur karena budaya ini terus hidup dan berkembang,” katanya.
Selain itu, DAD Bengkayang juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bengkayang yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan adat tersebut. Kehadiran Bupati, Sekretaris Daerah, dan Ketua DPRD Bengkayang menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian budaya lokal.
“Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan budaya Dayak, khususnya Nyobeng di Kecamatan Siding,” ujarnya.
Rudi menegaskan pentingnya peran semua pihak, terutama tokoh adat dan generasi muda, untuk terus menjaga keberlanjutan tradisi Nyobeng agar tidak hilang tergerus zaman.
Ia berharap pelestarian budaya ini dapat terus diperkuat sehingga menjadi warisan yang dapat dinikmati dan dipahami oleh generasi mendatang.
Pembenahan infrastruktur
Untuk memaksimalkan potensi pariwisata budaya di perbatasan Bengkayang, pemkab setempat menegaskan komitmennya untuk membenahi infrastruktur pariwisata di kawasan perbatasan sebagai langkah memperkuat pengembangan destinasi wisata budaya Nyobeng di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding.
Komitmen tersebut disampaikan Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis.
Menurut Sebastianus, tradisi Nyobeng tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga telah berkembang menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung setiap tahun.
Karena itu, pengembangan kawasan budaya tersebut harus dibarengi dengan peningkatan infrastruktur pendukung agar mampu memberikan kenyamanan bagi wisatawan tanpa menghilangkan keaslian tradisi yang telah diwariskan leluhur.
“Kita ingin kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang lebih baik. Karena itu perlu penataan bersama agar ke depan bisa menarik lebih banyak wisatawan,” kata Sebastianus di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding.
Bagi Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Nyobeng bukan lagi sekadar agenda budaya tahunan, melainkan aset strategis yang memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.
Tingginya minat wisatawan tersebut, menurut Sebastianus, menjadi alasan penting bagi pemerintah daerah untuk mulai menata kawasan wisata budaya Nyobeng secara lebih terencana.
Berbagai fasilitas dasar seperti area parkir, sarana sanitasi, ruang publik, akses menuju lokasi kegiatan, hingga pengembangan fasilitas pendukung wisata lainnya menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian agar kawasan budaya tersebut mampu berkembang secara berkelanjutan.
Ia menilai, pengembangan wisata budaya di perbatasan memiliki prospek yang besar karena menawarkan pengalaman autentik yang sulit ditemukan di daerah lain.
Tradisi Nyobeng yang tetap dijalankan secara alami oleh masyarakat Dayak Bidayuh menjadi kekuatan utama yang dapat menarik wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan dan budaya masyarakat perbatasan.
Menurut dia, penguatan sektor pariwisata budaya tidak dapat dipisahkan dari pembangunan infrastruktur yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus berupaya menyelesaikan berbagai persoalan yang masih menjadi hambatan dalam pengembangan kawasan wisata budaya di perbatasan.
Selain infrastruktur fisik, Pemkab Bengkayang juga terus memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya melalui fasilitasi kegiatan adat dan dukungan anggaran yang diberikan setiap tahun.
Sebastianus menegaskan pembangunan kawasan wisata budaya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga nilai-nilai adat yang menjadi identitas masyarakat Dayak Bidayuh.
Ia menilai keberhasilan pengembangan wisata budaya tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlangsungan tradisi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang berharap pengembangan infrastruktur pariwisata di kawasan Nyobeng dapat menjadikan Desa Hlibuei sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan Kalimantan Barat.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan, kawasan perbatasan yang selama ini dikenal sebagai beranda terdepan Indonesia di utara Kalimantan itu diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelestarian budaya Dayak Bidayuh, tetapi juga tumbuh sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.

Dukungan Provinsi
Komitmen pengembangan pariwisata perbatasan juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kalbar Sugeng Hariadi, menegaskan bahwa pembenahan destinasi wisata di kawasan perbatasan tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan.
Menurut dia, berbagai destinasi wisata budaya dan alam di kawasan perbatasan memiliki daya tarik yang besar. Namun, pengembangannya harus diiringi dengan perbaikan fasilitas dasar yang mampu memberikan kenyamanan bagi pengunjung tanpa mengurangi nilai budaya dan keaslian destinasi.
"Kita terus mendorong agar destinasi-destinasi wisata diperbaiki dan disempurnakan. Yang paling penting adalah bagaimana mewujudkan pariwisata berkelanjutan, menjaga kebersihan lingkungan, kenyamanan pengunjung, serta menyiapkan sanitasi yang memadai di setiap destinasi wisata," katanya.
Sugeng menjelaskan, Kementerian Pariwisata telah membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mengusulkan peningkatan fasilitas pendukung wisata melalui program yang akan dilaksanakan pada tahun mendatang.
Berbagai kebutuhan dasar seperti peningkatan akses jalan menuju destinasi, pembangunan toilet umum, tempat ibadah, hingga fasilitas pelayanan wisata lainnya dapat diusulkan oleh pemerintah kabupaten dan kota untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat.
Menurut dia, langkah tersebut menjadi peluang penting bagi daerah-daerah perbatasan yang memiliki potensi wisata besar, namun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.
"Kementerian Pariwisata sudah meminta daerah untuk mengusulkan kebutuhan fasilitas yang perlu diperbaiki maupun dilengkapi. Ini menjadi kesempatan bagi daerah untuk mempercepat pengembangan destinasi wisata," ujarnya.
Khusus untuk kawasan perbatasan Kalimantan Barat, Sugeng mengatakan pemerintah provinsi terus mendorong penguatan destinasi melalui peningkatan fasilitas pendukung sekaligus pengembangan berbagai atraksi dan event wisata yang melibatkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
Menurut dia, posisi geografis Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia memberikan peluang besar untuk mengembangkan wisata lintas batas berbasis budaya, sejarah, dan kearifan lokal.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalbar bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat promosi melalui kalender event pariwisata yang terintegrasi serta berbagai platform digital guna memperluas jangkauan promosi wisata.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Pelindo dan Pemprov Kalbar bahas pengadaan Tol dukung Pelabuhan Kijing
Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Achmad Muchtasyar menegaskan, komitmen perusahaan dalam mendorong percepatan pengembangan Pelabuhan Kijing ... [473] url asal
Kami menganggap Kijing ini sebagai motor untuk menggerakkan ekonomi, tidak hanya di Kalimantan Barat, tetapi juga nasional. Karena itu, prospek itu harus kita dukung dengan kelengkapan utama, terutama akses jalan yang memadai untuk peti kemas,
Pontianak (ANTARA) - Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Achmad Muchtasyar menegaskan, komitmen perusahaan dalam mendorong percepatan pengembangan Pelabuhan Kijing sebagai motor penggerak ekonomi, tidak hanya bagi Kalimantan Barat tetapi juga secara nasional.
"Kami menganggap Kijing ini sebagai motor untuk menggerakkan ekonomi, tidak hanya di Kalimantan Barat, tetapi juga nasional. Karena itu, prospek itu harus kita dukung dengan kelengkapan utama, terutama akses jalan yang memadai untuk peti kemas," kata Achmad usai menggelar diskusi bersama Gubernur Kalbar di Pontianak, Jumat.
Menurut dia, Pelabuhan Kijing memiliki prospek besar untuk mendukung arus logistik dan ekspor-impor, khususnya melalui layanan peti kemas.
Namun, optimalisasi pelabuhan tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur utama, terutama akses jalan yang memadai bagi angkutan peti kemas.
Ia mengapresiasi dukungan penuh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terhadap rencana pembangunan jalan tol menuju kawasan pelabuhan.
Pelindo bersama pemerintah daerah, lanjutnya, tengah berupaya mencari investor guna merealisasikan pembangunan jalan tol tersebut.
"Alhamdulillah Pak Gubernur mendukung penuh. Insya Allah kita bisa mendapatkan investor untuk membangun jalan tol tersebut dalam mendukung Pelabuhan Kijing. Situasinya sangat kondusif, dan kami optimistis ini bisa berjalan dengan baik," kata Dirut Pelindo.
Selama ini, wacana pemindahan aktivitas peti kemas dari Pelabuhan Dwikora Pontianak kerap mengemuka, terutama karena tingginya potensi kemacetan dan risiko kecelakaan akibat lalu lintas truk kontainer di jalan-jalan dalam kota.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menegaskan bahwa penguatan Pelabuhan Kijing menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan tersebut.
Namun, ia mengakui, keberadaan jalan tol menjadi syarat utama agar pemindahan arus peti kemas dapat berjalan aman dan efektif.
"Supaya Pelabuhan Kijing memadai menerima peti kemas untuk dipindahkan, akses jalan tol itu sangat diperlukan. Beban berat mobil pengangkut peti kemas akan lebih aman jika melewati jalan tol. Kalau lewat jalan masyarakat, selain belum memadai, potensi kemacetan dan kecelakaan juga tinggi," kata Norsan.
Ia menyebut, keterbatasan akses tersebut sebagai “bottleneck” yang harus segera dibuka agar operasional pelabuhan dapat maksimal.
Saat ini, Pelabuhan Kijing telah beroperasi dan melayani ekspor non-peti kemas seperti curah dan kargo tertentu, namun layanan peti kemas internasional dinilai belum optimal.
"Sekarang sudah beroperasi, tetapi belum maksimal. Kelengkapannya harus dipenuhi, dan masalah jalan tol ini tidak bisa kita paksakan lewat jalan biasa karena pasti macet," tuturnya.
Pemprov Kalbar bersama Pelindo, lanjut Norsan, terus berkoordinasi untuk mempercepat realisasi proyek jalan tol melalui skema investasi.
Ia berharap dukungan infrastruktur tersebut dapat mempercepat transformasi Pelabuhan Kijing menjadi gerbang logistik internasional sekaligus mengurangi beban lalu lintas angkutan peti kemas di kawasan perkotaan Pontianak.
"Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, Pelabuhan Kijing diharapkan mampu meningkatkan daya saing logistik Kalimantan Barat dan menarik lebih banyak trafik perdagangan internasional di masa mendatang," katanya.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Kalbar jadi lokasi hilirisasi peternakan ayam terintegrasi
Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) ditetapkan sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program hilirisasi peternakan ayam terintegrasi berskala nasional, yang ... [320] url asal
Pontianak (ANTARA) - Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) ditetapkan sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program hilirisasi peternakan ayam terintegrasi berskala nasional, yang akan dibangun di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak.
"Kegiatan groundbreaking (peletakan batu pertama) untuk program tersebut direncanakan digelar di Kawasan Industri Mandor (KIM), Kabupaten Landak, pada Januari ini," kata Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan di Landak, Selasa.
Norsan mengatakan, Pemprov Kalbar menyambut baik rencana pelaksanaan ground breaking hilirisasi peternakan ayam terintegrasi di wilayah Kalimantan Barat.
"Saya menyambut baik kegiatan hilirisasi peternakan ayam terintegrasi yang dilaksanakan di Kalimantan Barat. Diharapkan program ini dapat membantu masyarakat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan daging ayam dan telur, sehingga harga yang diterima masyarakat bisa lebih terjangkau dengan kualitas yang baik," tuturnya.
Ia menilai, kehadiran industri peternakan ayam terintegrasi akan memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus menekan fluktuasi harga komoditas pangan strategis, khususnya daging ayam dan telur ayam, di Kalimantan Barat.
Sementara itu, Chief Executive Officer Firmansyah Khatulistiwa Group, Hendra Firmansyah, menjelaskan bahwa program hilirisasi peternakan ayam terintegrasi tersebut akan dilaksanakan secara serentak di 13 provinsi di Indonesia. Untuk Kalimantan Barat, pelaksanaannya dipusatkan di Kawasan Industri Mandor, Kabupaten Landak.
"Ground breaking hilirisasi peternakan ayam terintegrasi ini akan dilaksanakan serentak di 13 provinsi dan dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia dari Jawa Timur. Kami berharap Bapak Gubernur Kalimantan Barat dapat mengikuti kegiatan tersebut secara virtual," katanya.
Ia menambahkan, program hilirisasi ini merupakan bagian dari kebijakan nasional yang bertujuan untuk pemerataan pembangunan sektor peternakan, mengatasi potensi kelangkaan telur dan daging ayam, serta menciptakan lapangan pekerjaan baru di daerah.
Menurut Hendra, melalui sistem peternakan ayam terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir, diharapkan rantai pasok dapat berjalan lebih efisien, sehingga memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat, khususnya di wilayah sekitar kawasan industri.
"Program hilirisasi peternakan ayam terintegrasi tersebut juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan nilai tambah produk peternakan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis sektor riil," tuturnya.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Majukan Pelaku Usaha di Pontianak, Kementerian UMKM Gelar MikroDOTS Gratis
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyelenggarakan Desk on The Street (MikroDOTS) di Kota Pontianak. Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah... | Halaman Lengkap [277] url asal
#pelaku-umkm #bantuan-umkm #kementerian-umkm #maman-abdurrahman #pemprov-kalbar
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/11/25 12:22
v/47961/
PONTIANAK - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyelenggarakan Desk on The Street (MikroDOTS) di Kota Pontianak. Kegiatan tersebut merupakan upaya memperkuat ekosistem UMKM yang inklusif dan kolaboratif.Kegiatan ini mempertemukan langsung para pengusaha UMKM dengan berbagai institusi pendukung seperti lembaga pembiayaan, pemberi perizinan, dan penyedia pelatihan. Acara dikemas melalui fun walk bersama masyarakat bertepatan dengan Car Free Day (CFD), dalam suasana interaksi sehingga menjadi lebih cair dan dekat.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan MikroDOTS dirancang sebagai ruang terbuka yang menyatukan pemerintah pusat, provinsi, dan kota bersama pemangku kepentingan untuk mendukung UMKM yang tumbuh, berkembang, dan terlindungi.
“Selama ini kita tidak ingin menimbulkan kesan bahwa UMKM berjalan sendiri, pemerintah berjalan sendiri. Lewat acara ini, semuanya dibuat cair. Pemerintah adalah bagian dari setiap proses tumbuh-kembangnya UMKM,” ujarnya, Senin (24/11/2025).
Dalam kegiatan ini, masyarakat Pontianak dapat berkonsultasi langsung dengan lembaga pembiayaan, mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR), mengurus perizinan, sertifikasi, hingga legalisasi usaha. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, serta Pemerintah Kota Pontianak hadir mendampingi masyarakat secara penuh.
Acara ini juga menghadirkan zona pelatihan digital dan layanan bagi penyandang disabilitas agar seluruh lapisan masyarakat dapat terlibat aktif dalam pengembangan UMKM. Prinsip keterbukaan dan inklusivitas menjadi fondasi penting bagi layanan MikroDOTS, sehingga masyarakat merasa dekat dengan pemerintah dalam setiap upaya memulai maupun mengembangkan usaha.
Melalui program ini, pengunjung CFD dapat mengakses lima desk layanan usaha secara lengkap dan terpadu yang mencakup pembiayaan usaha, legalitas usaha, ruang inklusi, pemasaran dan digitalisasi, serta kemitraan dan konsultasi franchise.
Seluruh layanan tersebut tersedia gratis, terbuka untuk umum, dan disiapkan untuk membantu masyarakat menjadi lebih siap berusaha, meningkatkan rasa percaya diri, serta memberikan kemudahan dalam memulai dan mengembangkan bisnis.
KJRI Kuching dan Pemprov Kalbar perkuat kerja sama perbatasan
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching melakukan pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) untuk membahas potensi ... [292] url asal
Pontianak (ANTARA) - Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching melakukan pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) untuk membahas potensi peningkatan kerja sama di bidang perbatasan, ekonomi, dan sosial budaya pertemuan tersebut berlangsung di ruang kerja Wakil Gubernur Kalbar.
"KJRI Kuching siap menjadi jembatan untuk memperkuat promosi ekonomi dan budaya Kalimantan Barat di Sarawak. Kami juga mendorong agar Sarawak dapat membuka sudut promosi atau promotion corner di KJRI Kuching untuk memperkenalkan potensi ekonomi dan budaya Kalbar secara berkelanjutan," kata Konsul Jenderal (Konjen) RI Kuching Abdullah Zulkifli di Pontianak, Selasa.
Ia mengatakan hubungan Kalimantan Barat dan Sarawak memiliki nilai strategis karena berbatasan langsung di darat sepanjang lebih dari 1.000 kilometer.
Kondisi tersebut, menurut dia, membuka peluang kerja sama yang luas di berbagai sektor, termasuk perdagangan lintas batas, investasi, dan pertukaran budaya masyarakat.
Ia mengatakan konektivitas antara kedua wilayah kini semakin baik melalui jalur darat dengan layanan bus serta penerbangan langsung Kuching–Pontianak yang telah dibuka kembali sejak September 2025.
"Selain itu, hubungan sosial dan kekerabatan masyarakat di kedua wilayah juga menjadi modal penting dalam mempererat kolaborasi di masa depan," ujar dia.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan mengatakan pemerintah provinsi tentu menyambut baik inisiatif kerja sama tersebut dan menyatakan dukungan penuh terhadap langkah KJRI Kuching dalam memfasilitasi promosi potensi daerah.
"Banyak sektor yang bisa dikembangkan, termasuk kuliner khas Kalbar yang dapat menjadi daya tarik di Sarawak. Pemerintah Provinsi Kalbar berkomitmen untuk mendukung pembentukan Pusat Promosi Ekonomi dan Budaya Indonesia di Sarawak sebagai tindak lanjut dari kerja sama ini," kata Krisantus.
Ia juga menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat posisi Kalimantan Barat sebagai mitra strategis Sarawak dalam pembangunan kawasan perbatasan yang inklusif dan berkelanjutan.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2025
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)