Bisnis.com, JAKARTA — Iran masih mengalami pemadaman internet sejak Sabtu, (28/3/2026) atau setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel menghantam instalasi militer serta pusat komando negara itu. Kejadian itu memangkas lalu lintas data online di Iran hingga menyisakan sekitar 1% dari kondisi normal.
Kelompok pemantau internet NetBlocks mengatakan konektivitas mulai merosot tajam pada awal Sabtu pagi, bersamaan dengan berlangsungnya serangan militer itu.
"Pembatasan ini membatasi keterlibatan warga sipil pada momen krusial bagi masa depan negara, pasca terbunuhnya Ayatollah Khamenei dalam serangan udara AS dan Israel," kata NetBlocks dilansir dari The Register, Selasa (3/3/2026)
Data dari Cloudflare Radar juga mencatat lalu lintas internet Iran mendekati 0 di seluruh wilayah utama, termasuk Teheran, Fars, Isfahan, Alborz, dan Razavi Khorasan.
Sejumlah situs berita resmi dan layanan digital pemerintah turut dilaporkan tidak dapat diakses di kota-kota besar. Sementara beberapa layanan internal yang dikelola negara itu disebut masih dapat diakses secara terbatas.
Pola ini mencerminkan modus operandi yang sama dengan pemadaman-pemadaman sebelumnya. Seperti tautan internasional diputus, lalu lintas data anjlok drastis, dan Iran seolah lenyap dari peta routing global hampir dalam semalam.
Pemadaman internet berkepanjangan membawa konsekuensi finansial yang tidak kecil. Berdasarkan pengalaman dari pemadaman sebelumnya, gangguan konektivitas seperti ini dapat menguras jutaan dolar per hari akibat hilangnya transaksi penjualan, macetnya sistem pembayaran, dan terhentinya aktivitas bisnis secara umum.
Makin lama Iran berada dalam kondisi offline, makin besar tekanan yang akan dirasakan pelaku usaha maupun masyarakat biasa. Kondisi ini juga mempersempit akses warga terhadap informasi situasi aktual di lapangan.
Alternatif berbasis satelit seperti Starlink sempat menjadi solusi sementara pada pemadaman-pemadaman sebelumnya. Namun, menurut sejumlah laporan, otoritas Iran telah mengambil tindakan untuk mengganggu sinyal atau menyita perangkat tersebut, sehingga ruang komunikasi eksternal kian tertutup.
Dampak konflik ini tidak berhenti di perbatasan Iran. Amazon mengumumkan gangguan pada pusat data Timur Tengah miliknya di Uni Emirat Arab (UEA), tidak lama setelah misil Iran menghantam negara tersebut.
Perusahaan teknologi asal AS itu menyatakan gangguan disebabkan oleh "benda-benda yang menghantam pusat data, menimbulkan percikan api dan kebakaran."
Konflik ini juga berpotensi mengganggu jalur perdagangan udara dan laut yang vital bagi rantai pasok global. Lalu lintas kapal-kapal pengangkut barang yang melewati Selat Hormuz di dekat Iran dilaporkan mulai terhambat dan mengancam kelancaran arus logistik e-commerce internasional.
Iran memiliki sejarah panjang pemutusan akses internet di tengah krisis. Pada Januari lalu, pemadaman besar berlangsung selama berminggu-minggu seiring meluasnya demonstrasi, memutus negara itu dari sebagian besar jaringan internet global.
Menurut data yang dihimpun dari berbagai pemantau jaringan, pemadaman kali ini masuk dalam kategori yang paling parah, dengan cakupan wilayah terluas dan penurunan konektivitas paling drastis yang pernah tercatat.