Bisnis.com, JAKARTA — Pengemudi ojek online (ojol) mengeluhkan sistem bonus yang tidak jelas serta pemotongan pendapatan yang dinilai cukup besar. Kondisi ini membuat sebagian driver kehilangan semangat untuk bekerja saat Ramadan.
Hal ini berdampak pada sulitnya pengguna dalam mengakses layanan ojek online saat memesan melalui aplikasi.
Seorang pengemudi ojek online bernama Tedy mengatakan saat ini banyak driver yang mulai kehilangan semangat bekerja akibat bonus yang tidak jelas serta potongan pendapatan yang cukup besar.
Dia mengatakan pada masa pandemi Covid-19, driver bersedia beroperasi hingga tengah malam. Bahkan, sejak pukul 00.00 mereka sudah mulai mencari penumpang karena termotivasi oleh bonus yang ditawarkan.
“Dulu bonusnya besar, tapi setelah Covid sudah tidak ada lagi. Sekarang sudah tidak ada bonus, jadi banyak yang malas narik,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (11/3/2026).
Menurut driver tersebut, para pengemudi memahami pada masa pandemi banyak perusahaan mengalami kesulitan finansial. Namun, mereka berharap ketika kondisi ekonomi mulai membaik, sistem bonus dapat kembali diterapkan. Sayangnya, hingga saat ini belum ada kabar mengenai hal tersebut.
Selain itu, terdapat program baru yang disebut paket hemat yang menurut para driver cukup memberatkan. Meski demikian, banyak pengemudi terpaksa mengambil program tersebut agar tetap bisa mendapatkan pesanan.
Driver ojol mengeluhkan program tersebut sering memberikan jarak penjemputan yang cukup jauh sekitar 2 hingga 3 kilometer, sementara jarak pengantaran tidak berbeda jauh.
“Kalau tidak ambil orderan itu, pesanan jadi sepi. Jadi terpaksa diambil juga,” katanya.
Selain itu, dalam program hemat juga terdapat potongan pendapatan per trip. Driver menjelaskan program tersebut memberikan potongan tertentu, misalnya jika driver telah menyelesaikan 10 perjalanan maka akan ada potongan sekitar Rp20.000. Sementara jika hanya menyelesaikan empat perjalanan, potongannya sekitar Rp3.000.Menurut driver ojol, kebijakan tersebut cukup memberatkan.
“Kalau saya setiap hari narik, sebulan bisa dipotong sampai Rp600.000. Belum lagi biaya perawatan seperti oli dan bensin yang bisa mencapai Rp1,5 juta per bulan,” jelasnya.
Para driver mengeluhkan tuntutan kerja yang semakin berat, sementara pendapatan tidak sesuai dengan harapan. Dalam sehari, driver menargetkan pendapatan sekitar Rp300.000. Namun, dengan berbagai potongan serta biaya operasional, banyak pengemudi yang akhirnya kehilangan semangat untuk bekerja.
Sebagian dari mereka sebenarnya ingin mencari pekerjaan lain. Namun, kondisi saat ini membuat peluang kerja cukup terbatas, terutama bagi pengemudi yang sudah berusia tidak lagi muda.
Para driver berharap adanya kebijakan yang lebih memperhatikan kesejahteraan mereka. Sistem bonus yang lebih adil diharapkan dapat kembali diterapkan agar para pengemudi ojek online lebih bersemangat dalam bekerja. (Nur Amalina