Bisnis.com, JAKARTA – Para ahli menilai obat penurun berat badan efektif membantu mengontrol nafsu makan dan menurunkan berat badan, namun tetap perlu diimbangi perubahan gaya hidup agar hasilnya bertahan jangka panjang.
Penggunaan obat seperti Ozempic dan Mounjaro terus meningkat di kalangan masyarakat. Obat ini bekerja dengan menekan nafsu makan melalui hormon yang memberi sinyal kenyang ke otak, sehingga seseorang merasa lebih cepat kenyang dan makan dalam porsi lebih sedikit.
Profesor kedokteran dari University of Washington, David Cummings, menilai efektivitas obat ini masih perlu dilihat dalam jangka panjang dan tidak bisa dijadikan solusi tunggal dalam menangani obesitas. Menurutnya, obat ini memang menjadi terobosan besar, tetapi tetap tidak bisa menggantikan peran perubahan gaya hidup.
“Ini mungkin yang paling mendekati obat ajaib, tapi tetap bukan jawaban akhir untuk obesitas,” ujarnya dalam wawancara yang dikutip dari BBC, Senin (6/4/2026).
Berdasarkan hasil studi ilmiah dan uji klinis yang dirangkum BBC, obat jenis GLP-1 ini mampu menurunkan berat badan sekitar 14% hingga 20% dalam kurun 72 minggu. Meski demikian, tidak semua orang merasakan hasil yang sama karena sekitar 10–15% pengguna hanya mengalami penurunan berat badan yang sangat kecil.
Temuan lain menunjukkan penggunaan obat ini umumnya tidak berlangsung lama. Analisis terhadap lebih dari 9.000 pasien mencatat rata-rata penggunaan hanya sekitar 39 minggu sebelum akhirnya dihentikan, baik karena biaya, akses, maupun keputusan pribadi.
Setelah penggunaan obat dihentikan, risiko kenaikan berat badan kembali menjadi perhatian utama. Dalam jurnal Springer Nature Link, mencatat berat badan dapat naik kembali dengan cepat, bahkan hingga empat kali lebih cepat dibanding program diet biasa, termasuk kenaikan sekitar 1,5 kilogram dalam delapan minggu setelah berhenti.
Profesor dari University of Glasgow, Naveed Sattar, menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan dengan fenomena “food noise”, yaitu dorongan terus-menerus untuk memikirkan makanan yang muncul setelah penggunaan obat dihentikan. Selain itu, perubahan hormon membuat nafsu makan meningkat sementara metabolisme tubuh menurun, sehingga berat badan lebih mudah kembali naik.
Dia menambahkan, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh lingkungan modern yang memudahkan akses terhadap makanan tinggi kalori. Kemudahan ini membuat seseorang semakin sulit mempertahankan pola makan sehat dalam jangka panjang.
“Sekarang makanan ada di mana-mana, bahkan dalam hitungan menit kita bisa memesan ribuan kalori,” katanya.
Di sisi lain, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa penggunaan obat saja tidak cukup untuk mengatasi obesitas. Perubahan gaya hidup seperti menjaga pola makan sehat dan meningkatkan aktivitas fisik tetap menjadi faktor utama dalam menjaga berat badan.
Selain manfaatnya, obat penurun berat badan juga memiliki sejumlah efek samping seperti gangguan pencernaan, pankreatitis, hingga batu empedu. Meski begitu, penelitian besar terhadap dua juta orang menunjukkan adanya manfaat tambahan, seperti kesehatan jantung yang lebih baik dan penurunan risiko penyakit tertentu.
Peneliti dari Stanford School of Medicine, Maya Adam, menilai perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari justru lebih berpengaruh dalam jangka panjang. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi minuman manis, rutin bergerak, dan menjaga pola tidur dinilai mampu membantu menjaga berat badan tetap stabil.
“Menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan obat, perubahan kecil sehari-hari justru yang paling berpengaruh,” ujarnya.
Dengan tren penggunaan yang terus meningkat, masyarakat diimbau untuk tidak hanya mengandalkan obat sebagai solusi cepat. Kombinasi antara pengobatan, pola hidup sehat, dan edukasi dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan secara berkelanjutan.