Bisnis.com, JAKARTA — Beda cerita dengan rencana merger PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) dan PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) yang akhirnya kandas, sejumlah bank lain justru mampu menuntaskan merger maupun konsolidasi strategis dalam beberapa tahun terakhir. Berikut daftar bank yang berhasil merger dalam beberapa tahun terakhir.
Selama hampir tiga tahun, MNC Bank dan Bank Nobu menjalani proses panjang yang mencakup pembentukan tim merger, transaksi silang saham, hingga wacana merger paksa dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada awalnya, merger kedua bank ini ditargetkan rampung pada Agustus 2023.
Namun demikian, rencana ambisius tersebut resmi berakhir pada November 2025, bersamaan dengan masuknya investor baru ke dalam struktur pemegang saham NOBU.
Hanwha Life telah mengantongi seluruh persetujuan dari OJK, antara lain melalui Surat OJK No. S-11/PB.02/2025 (24 Januari 2025), Surat OJK No. SR-107/PB.02/2025 (21 April 2025), serta Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK No. KEPR-29/D.03/2025 (21 April 2025) yang menyatakan Hanwha Life dan Seung Youn Kim lulus Penilaian Kemampuan dan Kepatutan sebagai calon pemegang saham pengendali dan ultimate shareholder Bank Nobu.
Dengan diterimanya pemberitahuan perubahan data perseroan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI pada 30 Juni 2025, pengambilalihan ini dinyatakan telah efektif dan sah secara hukum. Kini Hanwha Life menggenggam 40% kepemilikan saham Bank Nobu.
Kemudian, pada 22 November 2025, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan bahwa proses merger antara BABP dan NOBU dihentikan. “Harapannya agar masing-masing bank dapat lebih fokus pada target-target pertumbuhan yang telah direncanakan sebelumnya,” ujar Dian.
Sebagai gantinya, OJK meminta pemegang saham pengendali kedua bank memperkuat struktur permodalan, baik melalui setoran modal tambahan maupun dengan menghadirkan investor strategis baru. “Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan skala usaha dan daya saing masing-masing bank,” katanya.
Deretan Bank yang Sukses Merger
Berbeda dengan pasangan MNC dan Nobu, sejumlah bank berikut berhasil menuntaskan merger, konsolidasi, maupun integrasi strategis yang memperkuat permodalan, memperluas jangkauan bisnis, sekaligus memenuhi ketentuan regulator terkait pemenuhan modal inti. Berikut daftarnya:
Bank Syariah Indonesia (BSI)
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) yang menjadi salah satu merger terbesar dalam sejarah perbankan Indonesia. Bank ini resmi terbentuk pada 1 Februari 2021 melalui penggabungan BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah.
Konsolidasi tiga bank syariah BUMN tersebut melahirkan bank syariah terbesar di Tanah Air dan menjadikan BSI sebagai pemain bank syariah signifikan di tingkat global dan menjadi bank syariah terbesar di Indonesia saat ini.
Wakil Direktur Utama BSI Bob T. Ananta menyampaikan merger 3 bank syariah yang diinisiasi pemerintah berdampak pada percepatan pertumbuhan perusahaan. "Aset BSI tumbuh agresif di mana dalam empat tahun tumbuh mencapai 14,28% [CAGR] semula Rp239,58 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp408,61 triliun pada akhir 2024. Total aset tersebut mendongkrak BSI masuk ke peringkat enam," ujarnya.
Hingga kuartal III/2025, BSI catat mencatatkan laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp5,57 triliun, naik 9,03% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,11 triliun.
OCBC NISP
PT Bank Commonwealth resmi dilebur ke dalam PT Bank OCBC NISP Tbk. pada 2024. Integrasi ini memperkuat posisi OCBC Indonesia dalam segmen ritel dan wealth management, sekaligus memperluas basis nasabah yang sebelumnya menjadi kekuatan Commonwealth.
Skemanya yaitu Bank Commonwealth akan menggabungkan diri dengan OCBC Indonesia. Kemudian, OCBC Indonesia akan menjadi perusahaan penerima penggabungan. Proses penggabungan berjalan dan rampung pada 1 September 2024.
Terkait dengan aksi tersebut, Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja optimistis bahwa merger ini akan membawa sinergi. Menurutnya, merger ini juga mencerminkan komitmen dalam peningkatan layanan Nasabah dan pemanfaatan peluang yang ada di pasar perbankan nasional. “Dengan menyatukan kekuatan yang dimiliki, OCBC siap melayani basis nasabah yang lebih luas dengan solusi perbankan yang lebih komprehensif," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (2/8/2024).
Merger ini diharapkan dapat memperluas akses bagi nasabah terhadap jaringan luas dan kapabilitas OCBC di kawasan Asean, Greater China, dan wilayah lainnya, terutama dalam corporate banking.
Lebih lanjut, integrasi nasabah ritel dan UKM Commonwealth diyakini menguatkan posisi pasar OCBC. Dengan memiliki jaringan yang kini mencakup lebih dari 200 cabang di kota-kota besar Indonesia, OCBC berkomitmen untuk memajukan layanan perbankan ritel dan UKM serta memperkuat posisi strategis dalam pasar yang ditargetkan.
Bank Permata
PermataBank mengalami perubahan kepemilikan setelah Bangkok Bank mengakuisisi mayoritas saham pada 2020. Usai akuisisi, Bank Permata dan kantor cabang Bangkok Bank di Indonesia efektif bergabung pada 21 Desember 2020.
Proses integrasi operasional kemudian diselesaikan, menjadikan PermataBank bagian dari jaringan regional Bangkok Bank dan memperkokoh posisinya di pasar lokal. Melalui penggabungan ini, operasional Bangkok Bank di Jakarta dan Surabaya dilakukan sebagai Bank Permata.
Sementara, kantor cabang Bangkok Bank di Medan ditutup dan semua transaksi perbankan dilayani oleh Bank Permata.
BCA Syariah
Pada 10 Desember 2020, PT Bank BCA Syariah mengumumkan bahwa PT Bank Interim Indonesia efektif bergabung. Presiden Direktur BCA saat itu, Jahja Setiaatmadja, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Komisaris BCA, menyampaikan proses merger BCA syariah dengan Bank Interim merupakan proses penggabungan biasa dan sederhana.
BCA pun menegaskan tidak melakukan mutilasi pada Bank Interim Indonesia dengan mengambil teknologi maupun staf-staf untuk dipindahkan ke anak usaha BCA lainnya yakni Bank Royal. "Tidak dimutilasi, hanya simple merger, penggabungan dua entitas," katanya kepada Bisnis, Senin (12/10/2020).
Usai penggabungan tersebut, BCA Syariah mendapatkan tambahan modal sekitar Rp300 miliar, yang meningkatkan modal inti di kisaran Rp2,7 triliun dan aset perseroan menjadi Rp9,2 triliun.
OJK Dorong Konsolidasi hingga Merger
Sejalan dengan dinamika konsolidasi sektor perbankan, OJK kini tengah mengkaji penghapusan kategori Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) I.
Menjelang perubahan kebijakan tersebut, OJK telah mengirimkan imbauan formal kepada bank-bank kecil pada akhir Oktober 2025 untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Dalam dokumen yang diterima Bisnis, OJK memberikan empat arahan utama salah satunya yakni konsolidasi hingga merger.
Evaluasi komprehensif kondisi bisnis, termasuk struktur keuangan, model bisnis, serta prospek pertumbuhan jangka menengah dan panjang.
Mengidentifikasi peluang konsolidasi dan kolaborasi, baik dengan sesama bank KBMI I maupun pihak eksternal, untuk memperkuat permodalan dan memperluas skala usaha.Penguatan infrastruktur teknologi informasi sebagai bagian dari transformasi digital dan peningkatan kualitas layanan.
Sebagaimana diketahui KBMI I banyak ditempati oleh bank daerah maupun BPR. Dari sisi BPR dan BPD, dorongan konsolidasi juga terus menguat.
Advisor Banking & Finance Development Centre, Moch Amin Nurdin, menilai proses penyatuan bank daerah tidaklah mudah. “Memang sulit menyatukan dua pemegang saham dalam satu entitas. Ego kedaerahan masih tinggi, khususnya di BPD,” ujarnya kepada Bisnis.
Dia menambahkan bahwa proses menuju konsolidasi menyeluruh, baik dari sisi produk maupun sistem, memerlukan waktu yang panjang.
Meski demikian, langkah konsolidasi tetap dinilai positif apabila dilakukan secara komprehensif. Menurutnya, ketentuan modal minimum akan terpenuhi melalui laporan keuangan konsolidasi dari bank-bank yang melakukan kerja sama usaha (KUB).