Bisnis.com, MEDAN – Dunia tari Indonesia memiliki harapan baru dengan hadirnya D3 Academy & Studio yang bermimpi besar membawa seni budaya Indonesia ke panggung internasional maupun ruang digital global.
Didirikan oleh tiga praktisi tari berpengalaman di Indonesia, D3 Academy & Studio memperkenalkan diri sebagai sanggar tari yang tak biasa yang memadukan antara pendidikan tari, pengembangan talenta, dan produksi konten kreatif dalam satu ekosistem profesional.
Executive Director D3 Academy & Studio Lusy Ekawati yang juga merupakan salah satu penggagas berdirinya sanggar tari ini mengatakan kehadiran D3 Academy & Studio merupakan cita-cita lama. Berawal dari pertemuan silaturahmi komunitas tari Padepokan Tari Bagong Kussudiardja dan LKB Saraswati bimbingan I Gusti Kompyang, Lusy menyebut timbul kerinduan dari para alumni untuk kembali menari dan membangun akademi profesional yang relevan dengan perkembangan zaman.
Apalagi, lanjutnya, para guru mereka yang merupakan maestro seni Indonesia berpesan agar warisan seni tersebut dapat diteruskan ke generasi muda dan ditampilkan ke pentas dunia. Hal ini yang menjadi landasan visi besar D3 Academy & Studio untuk mencetak penari dan performer berkelas dunia.
”Apa yang diwariskan para guru kepada kami ingin kami teruskan kepada generasi berikutnya. Kami ingin melanjutkan warisan tersebut melalui ekosistem yang kuat, pemanfaatan teknologi, dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masa kini,” kata Lusy dalam keterangan yang diterima Bisnis, Minggu (7/6/2026).
Direktur sekaligus Koreografer Tari Tradisional D3 Academy & Studio, Wiwiek Santoso menjelaskan bahwa akademi ini mengusung pendekatan pembelajaran yang berbeda dari sanggar tari konvensional. Penekanan pembelajaran di D3 Academy & Studio adalah pada pengalaman praktik dan kesempatan tampil di atas panggung.
”Kami percaya bahwa belajar tari tidak cukup hanya melalui latihan di studio. Karena itu, kami memberikan porsi besar pada praktik dan pengalaman pentas,” ujar Wiwiek.
Wiwiek sendiri telah berkecimpung lebih dari 30 tahun sebagai penari profesional, pengajar, dan koreografer. Dia menilai pelestarian tari tradisional membutuhkan sistem pendidikan yang lebih terstruktur dan profesional. Hal ini karena tari tradisional adalah warisan berharga bangsa yang harus dijaga keberlanjutannya dari generasi ke generasi.
Akademi sanggar tari yang baru berdiri ini pun disebutnya mengajarkan tari dengan metode yang lebih modern, sistematis, profesional, dan bersertifikat.
”Kami percaya setiap orang memiliki potensi menjadi bintang, dan tugas kami adalah melatih, membimbing, serta mengantarkan mereka menuju panggung yang lebih besar," tambah Wiwiek.
Menjawab Era Digital dan Generasi Kreatif
Direktur Koreografer Tari Modern D3 Academy & Studio Rinda Soemarno menyebut perkembangan dunia digital telah membuka peluang baru bagi seni tari untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Rinda yang berpengalaman lebih dari tiga dekade di dunia tari, termasuk sepuluh tahun berkarya di Amerika Serikat saat bertugas sebagai diplomat Indonesia di Washington DC, memahami bagaimana seni pertunjukan dapat berkembang melalui pemanfaatan media digital.
"Saat ini tari menjadi salah satu media ekspresi yang sangat diminati generasi muda. Melalui tari, mereka dapat membangun kepercayaan diri, berekspresi, tampil di berbagai panggung, bahkan dikenal dunia melalui media sosial," ujar Rinda.
Menjawab kebutuhan tersebut, D3 Academy & Studio menghadirkan berbagai program pengembangan talenta yang dirancang untuk membentuk performer profesional sekaligus kreator konten yang mampu bersaing di era digital.
Salah satu program unggulan yang diperkenalkan adalah Foreigners Class for Mastering Traditional Dances, sebuah kelas khusus bagi wisatawan mancanegara, diplomat, ekspatriat, dan profesional asing yang tinggal atau bekerja di Indonesia.
"D3 Academy & Studio ingin memberikan pengalaman yang unik. Peserta akan dilatih dari nol hingga mampu menguasai tarian tradisional, tampil percaya diri di depan publik, bahkan memiliki peluang untuk dikenal melalui platform digital hanya dalam waktu satu bulan," jelas Rinda.