Bisnis.com, JAKARTA — Industri internet rumah memasuki babak baru seiring dengan aksi merger PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (Moratelindo) dan PT Eka Mas Republik (MyRepublic) yang membentuk entitas baru bernama PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MoraRepublic).
Chief Regulatory & Corporate Affairs Officer MoraRepublic Resi Y. Bramani menjelaskan penggabungan tersebut bertujuan menciptakan ekosistem digital yang saling melengkapi dengan menggabungkan kekuatan backbone dan layanan hingga ke rumah pelanggan.
“Sinergi ini akan memperkuat kualitas layanan yang lebih cepat dan stabil, memperluas jangkauan, serta membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar bagi pelanggan, karyawan, dan perusahaan secara keseluruhan,” kata Resi kepada Bisnis, Jumat (1/5/2026).
Menurut Resi, integrasi antara infrastruktur backbone Moratelindo dan layanan fiber to the home (FTTH) MyRepublic akan menghasilkan layanan yang lebih optimal, stabil, andal, dan memiliki jangkauan lebih luas.
Dari sisi harga, dia memastikan tidak ada perubahan langsung akibat merger tersebut. Perusahaan tetap berfokus pada peningkatan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan tanpa menaikkan tarif.
Melalui penggabungan ini, MoraRepublic mengedepankan strategi end-to-end dengan mengoptimalkan infrastruktur terintegrasi, mulai dari backbone, data center, hingga lastmile ke pelanggan. Strategi ini disebut menjadi pembeda utama dalam persaingan industri.
Selain itu, perusahaan juga memperkuat proposisi nilai melalui pengembangan layanan tambahan dan strategi cross-selling.
“Guna menghadirkan pengalaman digital yang lebih komprehensif dan relevan dengan kebutuhan pelanggan,” kata Resi.
Sebelum merger efektif pada 22 April 2026, Moratelindo (Oxygen.id) memiliki hampir 300.000 pelanggan ritel, 17.000 pelanggan enterprise, dan hampir 1 juta homepass. Sementara itu, MyRepublic memiliki sekitar 1,5 juta pelanggan ritel dengan hampir 8,7 juta homepass.
Setelah merger, MoraRepublic memiliki lebih dari 1,8 juta pelanggan ritel dan lebih dari 9,7 juta homepass.
Di tengah dinamika ini, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (XLSmart) menilai konsolidasi di industri telekomunikasi, termasuk fixedbroadband, merupakan dinamika bisnis yang wajar untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi.
“Seperti yang juga disampaikan manajemen XLSMART, merger pada dasarnya bertujuan membangun industri yang lebih sehat, kompetitif, dan berkelanjutan,” kata GH Corporate Communication and Sustainability XLSmart Reza Mirza.
Pandangan serupa disampaikan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM). Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan konsolidasi merupakan fase alami dalam siklus pematangan industri yang padat modal dan membutuhkan investasi jangka panjang.
“Konsolidasi akan mendorong efisiensi, memperkuat skala bisnis, serta meningkatkan kualitas layanan secara keseluruhan,” kata Seno.
Dia menambahkan, Telkom berada dalam posisi siap beradaptasi sekaligus memanfaatkan peluang dari perubahan lanskap industri, didukung infrastruktur luas dan layanan terintegrasi. Ke depan, menurut Seno, daya saing tidak hanya ditentukan oleh ekspansi jaringan, tetapi juga kemampuan menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan pelanggan.
Telkom terus memperkuat posisi melalui optimalisasi dan monetisasi aset jaringan, peningkatan kualitas layanan end-to-end, serta pengembangan produk untuk segmen ritel dan enterprise. Selain itu, Telkom juga memperkuat kapabilitas digital infrastructure dan menjaga konsistensi pengalaman pelanggan di seluruh touchpoint.
“Dengan pendekatan ini, Telkom tidak hanya beradaptasi terhadap dinamika industri, tetapi juga secara aktif membentuk arah pertumbuhan pasar ke depan,” kata Seno.
Telkom menilai tren konsolidasi masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan, didorong oleh kebutuhan efisiensi, tekanan margin, serta tuntutan peningkatan kualitas layanan.
“Dalam lanskap tersebut, pemain yang mampu mengintegrasikan infrastruktur, layanan digital, dan ekosistem akan memiliki posisi yang lebih unggul dalam memenangkan persaingan,” kata Seno.
Persaingan Ketat Dorong Konsolidasi
Direktur ICT Institute Heru Sutadi menilai bisnis internet di Indonesia saat ini berada dalam kondisi persaingan yang sangat ketat.
“Sehingga persaingannya itu sudah hyper-competition, sangat-sangat ketat,” kata Heru.
Dia menjelaskan bahwa tidak semua pemain dapat bertahan atau berkembang dengan tingkat persaingan tersebut. Oleh karena itu, konsolidasi menjadi salah satu solusi yang akan makin sering terjadi, baik secara vertikal maupun horizontal.
Heru juga menilai ke depan akan makin banyak peristiwa merger, tidak hanya antarpenyedia layanan internet (ISP), tetapi juga dengan layanan pendukung seperti penyedia jaringan fiber atau satelit, sebagai upaya memperkuat daya saing.
Menurutnya, ketatnya persaingan dipengaruhi banyaknya jumlah pemain. Saat ini terdapat lebih dari 1.200 hingga 1.500 perusahaan penyedia layanan internet, belum termasuk pemain ilegal.
“Yang ilegal ini mungkin lebih banyak lagi, sehingga memang ada dorongan untuk konsolidasi,” katanya.
Selain untuk memperbesar skala usaha, konsolidasi juga dilakukan untuk melengkapi ekosistem layanan, baik dari sisi wilayah operasional maupun teknologi jaringan.
Integrasi, termasuk antara backbone dan layanan ritel, dinilai dapat memperkuat posisi perusahaan di pasar. Meski demikian, dampak konsolidasi belum terlihat secara langsung karena jumlah pemain yang masih sangat besar.
Heru menilai diperlukan waktu untuk mencapai struktur industri yang lebih ideal, mengingat belum ada kajian pasti mengenai jumlah optimal penyedia layanan internet di Indonesia.
“Ada juga harus nasional atau mungkin juga beberapa provinsi gitu ya,” katanya.
Pengamat telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Joseph Matheus Edward menilai merger dapat meningkatkan efisiensi belanja modal (capex) dan operasional (opex).
“Sehingga biaya yang sampai ke masyarakat akan lebih terjangkau segala lapisan. Dengan banyaknya ISP dan NSP tentu akan terjadi banyak kolaborasi,” kata Ian.
Dia menambahkan, efisiensi tersebut berpotensi menurunkan biaya layanan di tingkat pelanggan sekaligus meningkatkan kualitas. Selain itu, pemain kecil berpeluang menjadi reseller sesuai keunggulan masing-masing.
“Untuk pemain kecil dapat ditarik sebagai reseller karena masing-masing punya kekhasan,” katanya.
Pengamat telekomunikasi Kamilov Sagala menilai merger memungkinkan konsolidasi dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, hingga keuangan, sehingga perusahaan dapat lebih kompetitif di tengah pasar yang sensitif terhadap harga dan kualitas layanan.
“Dengan jumlah pemain yang masih banyak dan harga juga banyak mulai jadi sikon bisnis kurang bergairah, maka dampak integrasi ini bisa sedikit bertahan pelaku bisnis tersebut,” kata Kamilov.