Bisnis.com, JAKARTA – BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) tengah mengalami aksinet sellasing yang cukup deras. Namun, analis masih menaruh asa terhadap saham emiten milik konglomerat Anthoni Salim itu dengan ekspektasi perbaikan kinerja pada kuartal akhir 2025.
Dalam risetnya yang dipublikasikan 4 Desember 2025, BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa ICBP mengalami aksi jual asing senilai Rp217 miliar sepanjang sebulan terakhir. Hal itu memperparah posisi kepemilikan asing di ICBP yang menyusut hingga Rp2,6 triliun sepanjang tahun berjalan 2025.
Melansir data Stockbit, sejumlahfund managerasing memang tercatat meninggalkan ICBP pada periode November 2025. Dana pensiun asing yang tercatat menggenggam saham ICBP sebesar 2,63% pada Oktober 2025, menyusut menjadi 2,10% pada November 2025.
Begitu juga dengan reksa dana asing yang semula menggenggam 4,21% saham ICBP, kini hanya menggenggam sekitar 3,50% saham produsen Indomie itu. Kepemilikan perusahaan asing juga tercatat menyusut di ICBP dengan tersisa 0,89% kepemilikan di saham Anthoni Salim.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim dan Sabela Nur Amalina juga menilai,kepemilikan domestik di saham ICBP tercatat mencapai titik terendah dalam 2 tahun terakhir.
Kombinasi aksi net sell itu yang membuat harga saham ICBP tertekan 2,96% selama sepekan terakhir perdagangan. Koreksi itu juga berkontribusi terhadap harga saham ICBP yang tercatat jeblok 27,91% sepanjang tahun berjalan 2025.
Menurut Christy dan Sabela, sebagian sekuritas telah melakukan penurunan peringkat terhadap ICBP lantaran beberapa faktor, seperti pertumbuhan yang melambat di tengah melemahnya daya beli masyarakat, tekanan margin, hingga dikeluarkannya ICBP dari indeks MSCI belakangan.
Meskipun begitu, BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa tidak ada penurunan yang signifikan terhadap kinerja fundamental ICBP belakangan. Salah satunya tecermin darilaba usaha ICBP yang mencapai Rp12,74 triliun pada periode Januari-September 2025 atau tumbuh 6% secara tahunan. Kinerja tersebut dipengaruhi oleh kenaikan penjualan neto konsolidasi dari Rp55,49 triliun pada 9 bulan 2024 menjadi Rp56,27 triliun pada 9 bulan 2025.
Namun, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 13% menjadi Rp7,11 triliun akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang menyebabkan rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari kegiatan pendanaan.
“Ke depannya kami memperkirakan kinerja penjualan yang lebih baik di kuartal IV/2025 dibandingkan kuartal III/2025, didukung oleh stimulus bantuan tunai pemerintah yang dicairkan pada November 2025 untuk mendukung konsumsi akhir tahun,” kata analis dalam risetnya, dikutip Jumat (5/12/2025).
Belum lagi, analis BRI Danareksa dalam risetnya menekankan pada peluang membaiknya ICBP pada kuartal akhir 2025 lantaran didorong oleh potensi pesanan awal untuk musim perayaan Idul Fitri yang jatuh pada Maret 2026.
Memasuki 2026, analis BRI Danareksa Sekuritas memprediksi kinerja ICBP bakal semakin membaik. Menurutnya, kombinasi kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan lewat kebijakan fiskal yang kian ekspansif dan bantuan sosial yang lebih tinggi akan memperbaiki daya beli masyarakat secara bertahap.
Para analis BRI Danareksa Sekuritas bahkan memprediksi pendapatan ICBP pada tahun penuh 2026 akan tumbuh 6%year-on-year(YoY), dengan didorong oleh pertumbuhan volume sebesar 4,1% dan kenaikan harga jual rata-rata sebesar 1,6%. Hal ini yang diprediksi bakal mendorong pertumbuhan laba inti hingga 7,3% YoY pada FY26.
“Kami juga memperkirakan peningkatan margin bertahap di FY26, didukung oleh harga kentang dan CPO yang sedikit moderat hingga stabil, di samping harga gandum yang terus menguntungkan,” katanya.
Belum lagi, ICBP dinilai memiliki ketahanan dengan harga mie instan yang terjangkau. Hal itu dinilai memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi ICBP untuk melakukan penyesuaian harga. Analis memprediksi ICBP bakal mampu mencatatkan pendapatan senilai Rp79,60 triliun pada 2026, dengan laba bersih senilai Rp10,41 triliun.
Sejalan dengan faktor-faktor tersebut, Analis BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasibeliterhadap ICBP dengan target harga Rp11.500 per saham.
Sementara itu, analis JP Morgan menyematkan peringkat overweight untuk saham ICBP dengan target harga Rp12.900 per saham. Menurut analis JP Morgan, performa saham ICBP merosot karena tertekan oleh kinerja Pinehill yang lebih lemah dari ekspektasi, margin earnings before interest and tax (EBIT) segmen mi instan yang tertekan oleh kenaikan harga CPO, serta dikeluarkannya saham ICBP dari indeks MSCI standard cap.
"Kami meyakini fundamental akan membaik tahun depan dan kami tidak menutup kemungkinan adanya peluang kenaikan harga mi instan di Indonesia akibat tekanan inflasi. Dikombinasikan dengan biaya bahan baku yang kondusif (gandum, minyak sawit, dan kemasan yang cenderung menurun), kami memperkirakan margin EBIT mi instan dapat menunjukkan kejutan positif tahun depan," paparnya dalam riset.
Berdasarkan data JP Morgan, saat ini ICBP diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) 10 kali dari estimasi 2026, dengan dividend yield sekitar 3,5%. JP Morgan meyakini bahwa sedikit peningkatan pertumbuhan saja dapat mendorong valuasi untuk kembali naik ke kisaran belasan persen.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.