Bisnis.com, JAKARTA - Kehadiran peran ayah dalam pola pengasuhan menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak, tidak hanya di Indonesia. Tidak hanya kehadiran dalam mendukung secara finansial, tetapi juga secara fisik dan intens menjadi hal penting yang akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Kebersamaan aktivitas anak usia dini dengan orang tua dapat mempererat hubungan antara mereka. Berdasarkan Susenas MSBP 2021, sekitar sembilan dari sepuluh anak usia dini melakukan aktivitas makan atau belajar makan bersama orang tua mereka. Sekitar tujuh dari sepuluh anak usia dini berbincang-bincang bersama dengan orang tua. Kedua aktivitas ini sangat bagus untuk menambah literasi anak usia dini.
Peran aktif orang tua/wali dalam pengasuhan anak usia dini sangatlah diperlukan. Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh Jessica Ball & Ken Moselle berjudul Fathers ’ Contributions to Children's Well-being, menyebutkan bahwa faktor kenakalan anak dipengaruhi salah satunya oleh keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Sementara itu, dalam buku berjudul Psychology of the Child yang ditulis Robert Irving Watson dan Henry Clay Lindgren menyebutkan bahwa sekelompok anak yang kurang mendapat perhatian cenderung mengalami penurunan kemampuan akademis, keterbatasan dalam aktivitas sosial, dan pada anak laki-laki, ciri-ciri maskulinitas mereka menjadi kurang jelas.
Kehadiran ayah dalam pengasuhan merupakan kontribusi aktif yang melibatkan aspek fisik, afektif, dan kognitif. Selain berinteraksi secara positif, seorang ayah yang mendampingi anak juga dapat memperhatikan setiap aspek perkembangan anak, sehingga anak merasakan kedekatan dan kenyamanan dalam pengasuhan ayahnya. Karena itu, kolaborasi setara dalam pengasuhan menjadi hal penting yang harus dilakukan agar perkembangan anak juga ideal sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan data BPS bertajuk Profil Anak Usia Dini 2024, masih terdapat sekitar 7,10% anak di perkotaan yang berada di bawah pengasuhan orang tua tunggal. Di pedesaan, persentase ini lebih tinggi karena mencapai 7,96%.
Kendati demikian, mayoritas anak-anak di Indonesia memang masih tinggal bersama ayah dan ibu kandung mereka. Namun, belum tentu kehadiran orang tua eksis dalam menjalani aktivitas keseharian kehadiran anak-anak tersebut.
Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia, Rose Mini, menyebutkan bahwa, dari data BPS, sekitar 20,1% anak-anak tumbuh tanpa kehadiran ayah. Rose menjelaskan bahwa kondisi fatherless dapat muncul karena berbagai alasan. Ada anak-anak yang kehilangan ayah karena sudah meninggal, tetapi ada pula yang ayahnya masih hidup, tapi lebih banyak sibuk bekerja daripada berada di rumah.
Beberapa anak juga tinggal bersama kakek dan nenek akibat perceraian orang tua atau kondisi tertentu. Namun, kondisi ini menunjukkan bahwa banyak anak yang tidak mendapatkan stimulasi atau kelekatan dengan ayah. “Di Indonesia, rata-rata anak memang lebih lekat dengan orang tua wanita atau ibu. Sebab, secara antropologi, asosiasi ayah pencari nafkah, ibu mengasuh anak masih begitu kuat. Jadi, seolah-olah pengasuhan jadi kewajiban ibu semata. Padahal, tidak seharusnya begitu karena mestinya berimbang,” ungkapnya.
Kesenjangan peran antara ayah dan ibu dalam keluarga berpotensi menghambat potensi individu dan keluarga secara keseluruhan. Ketika seorang ayah tidak terlibat aktif, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh istri, tetapi juga oleh anak-anak yang kehilangan figur teladan kesetaraan.
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan pembagian peran yang tidak seimbang cenderung mengulangi pola yang sama ketika mereka dewasa. Data penelitian menunjukkan bahwa banyak anak, terutama di area rural, harus memutuskan antara melanjutkan sekolah atau bekerja membantu keluarga karena keterbatasan dukungan keluarga.
"Istri saya ketika baru melahirkan. Saya sebagai suami, itu saya terpanggil, saya ngelihat istri saya kayak begitu, apa yang bisa saya bantu? Karena bentuk support apapun yang kita bisa kasih, itu membantu banget terutama untuk wanita secara emosional dan secara mental mereka untuk menjalani sesuatu," kata Denny Sumargo, seorang public figure dan content creator.
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, dan di sinilah prinsip kesetaraan peluang harus dimulai. "Kalau laki-laki bisa nge-support si wanita, maka laki-laki itu akan menjadi laki-laki yang paling berbahagia. Coba deh kalian lihat, secara data, semua laki-laki stres itu berawal dari hubungan dengan wanita yang tidak bagus," katanya.
Penerapan prinsip kesetaraan dalam keluarga dimulai dari kesadaran bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran penting dan saling melengkapi. Tidak ada peran yang lebih superior atau inferior tetapi kolaborasi untuk mencapai tujuan bersama dalam membangun keluarga yang harmonis dan kuat.
Lilik Nila E, psikolog klinis RS Mitra Bangsa menegaskan bahwa jika orang tua ingin anaknya tumbuh tanpa merasakan dampak fatherless yang berlebihan, maka ada beberapa hal utama yang harus dimaksimalkan, yakni kebutuhan finansial, perhatian, dan waktu. Pertama, dari sisi finansial, pastikan anak merasa kebutuhannya terpenuhi. Ini memang hal yang bersifat primer, tapi menjadi dasar penting. Kedua, perhatian. Ketiga, waktu. “Tiga hal ini kalau dimaksimalkan, saya yakin, meski tidak ada orang tua yang sempurna, dampak dari fatherless bisa sangat diminimalkan,” jelas Lilik.
Dalam rangka kampanye #BaiknyaBarengBareng, OCBC menilai perlunya mendorong kehadiran peran ayah dalam pengasuhan anak. Brand & Communication Division Head OCBC Aleta Hanafi mengatakan masih ada pandangan lama yang mengkotak-kotakkan peran berdasarkan peran gender. Padahal, perlu ada kolaborasi bersama untuk dapat mencapai tujuan yang lebih baik.
“Kami berharap agar batasan-batasan yang mengkotak-kotakkan tadi bisa semakin menipis,” ujarnya.
OCBC menyadari bahwa menciptakan lingkungan bagi anak secara bersama-sama membutuhkan upaya kolektif. Melalui kampanye #BaiknyaBarengBareng, OCBC berharap bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan untuk perubahan budaya dapat memberikan dampak menghadirkan kolaborasi setara untuk ayah dan bunda.