Bisnis.com, SEMARANG — Di tengah meningkatnya konflik antara USA-Israel vs Iran, beredar spekulasi yang menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengalami cedera atau bahkan meninggal dunia.
Dilansir dari laman Tasnim News Agency, Kamis (12/3/2026), spekulasi ini muncul setelah media dan sumber berbahasa Ibrani banyak bermunculan dengan pembahasan mengenai kemungkinan cedera atau kematian dari Netanyahu. Mengenai isu ini, Tasnim News Agency merangkum beberapa indikator yang memicu spekulasi mengenai kematian Netanyahu.
Mengenai spekulasi ini, Tasnim News Agency telah merangkum sejumlah indikator pemicu dari munculnya isu ini. Pertama, hilangnya eksistensi Netanyahu setelah video terakhirnya yang diunggah di akun pribadinya dan hampir empat hari sejak gambar terakhirnya dipublikasikan.
Selain itu, beberapa pernyataan yang dikaitkan dengan Netanyahu hanya berupa teks.
Kedua, sebelum video Netanyahu yang terakhir, setidaknya satu video atau terkadang tiga video biasanya dirilis setiap hari. Namun, tidak adanya satu pun video selama tiga hari terakhir telah meningkatkan spekulasi.
Selanjutnya, sejumlah sumber berbahasa Ibrani melaporkan bahwa pada tanggal 8 Maret 2026, muncul laporan yang menunjukkan bahwa perimeter keamanan di sekitar rumah Netanyahu telah diperketat, khususnya untuk menangkal potensi serangan drone bunuh diri.
Lebih lanjut, dikatakan juga bahwa dua utusan Amerika Serikat, yakni Jared Kushner dan Steve Witkoff, membatalkan perjalanan kunjungan mereka ke Israel secara mendadak pada Selasa (10/3/2026).
Terakhir, indikator yang memicu spekulasi ini adalah dari Istana Élysée yang tidak menyebutkan tanggal percakapan telepon antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan Netanyahu dalam laporan berita tentang panggilan tersebut, dan hanya teks dari percakapannya saja yang dirilis.
Menanggapi spekulasi ini, media Israel The Jerusalem Post langsung memberikan bantahan. The Jerusalem Post mengungkapkan bahwa berita yang ditulis oleh Tasnim News Agency tidak berdasar karena tidak adanya bukti yang disertakan mengenai serangan terhadap Netanyahu.
“Potongan informasi ini mengikuti pola yang sudah familiar dalam perang informasi Iran dan pro-Iran, di mana potongan-potongan informasi publik yang sebenarnya disatukan menjadi narasi dramatis, lalu disebarkan seolah-olah mengarah pada peristiwa tersembunyi,” tulis The Jerusalem Post, dikutip Kamis (12/3/2026).
Selain itu, The Jerusalem Post juga menyebutkan bahwa selama konflik yang berkembang pesat, ketiadaan video baru, pernyataan resmi yang samar, atau perubahan jadwal pejabat yang berkunjung dapat dengan cepat menjadi bahan mentah untuk teori konspirasi.
“Dalam kehidupan publik Israel, pengamanan di sekitar pemimpin senior sering berubah selama perang, dan komunikasi resmi sering diterbitkan dalam bentuk teks. Tidak ada dari hal-hal tersebut, secara terpisah, yang dapat dijadikan bukti pembunuhan atau cedera serius,” tulis media Israel tersebut.