#30 tag 24jam
Kisah Mak Netty dan Fitri, Kartini Era Kini di Ekosistem Grab
Di momen Hari Kartini, ada Mak Netty, Mitra Pengemudi GrabBike yang menjadi tulang punggung keluarga di usia 50 tahun, dan Fitri Farhatani, Mitra UMKM yang bangun... | Halaman Lengkap [1,236] url asal
#grab #grab-financial-group #kartini-masa-kini #umkm #ovo
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/04/26 14:44
v/206441/
JAKARTA - Lebih dari 445.000 Mitra Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Mitra Pengemudi di seluruh Indonesia telah mengakses pendanaan senilai lebih dari Rp6 triliun melalui GrabModal by OVO Finansial sejak layanan pendanaan ini diluncurkan. Di balik angka tersebut, ada ribuan kisah perempuan tangguh yang memanfaatkan akses finansial ini untuk bertahan, bangkit, dan membangun kembali kehidupan keluarganya.Di momen Hari Kartini, dua di antaranya adalah Mak Netty, Mitra Pengemudi GrabBike yang menjadi tulang punggung keluarga di usia lebih dari 50 tahun, dan Ibu Fitri Farhatani, Mitra UMKM yang membangun kembali tabungan keluarga dari dapur rumah kontrakan setelah menjadi korban penipuan digital.
Melalui GrabModal by OVO Finansial, para mitra dapat mengakses layanan pendanaan yang telah berizin serta diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan proses cepat, cicilan ringan, dan skema pembayaran yang menyesuaikan pola pendapatan harian.
Ekonomi Digital RI Hampir USD100 Miliar, Menko Airlangga Sebut AI Mesin Pertumbuhan Baru
Kisah keduanya memperlihatkan bagaimana akses pendanaan yang tepat dapat menjadi pembeda nyata bagi perempuan yang sedang menghadapi titik terberat dalam hidup, baik ketika harus mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga maupun ketika harus memulai kembali dari nol.
"Boleh Nangis, Tapi Tetap Harus Berjalan," Kisah Mak Netty di atas Motor
Hal ini benar-benar dialami Mak Netty, Mitra Pengemudi Grab yang bergabung sejak 2018, yang memulai perjalanannya bersama GrabBike di usia lebih dari 50 tahun. Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai pengajar sebelum akhirnya berhenti untuk merawat orang tuanya yang sakit.
Ketika suaminya kemudian jatuh sakit dan membutuhkan pengobatan rutin, Mak Netty mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga. Di tengah kondisi fi nansial yang terbatas, ia tetap bekerja dan memanfaatkan GrabModal by OVO Finansial untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pinjaman pertamanya, sekitar Rp2 juta, digunakan untuk membayar biaya berobat suaminya. “Namun, ketika kondisi kesehatan suami semakin menurun, saya harus bekerja lebih keras lagi dan lebih aktif untuk membantu biaya pengobatannya, sekaligus untuk kebutuhan keluarga,” tutur Mak Netty.
Ia juga pernah menggunakannya saat handphone yang menjadi alat utamanya untuk bekerja rusak, sehingga bisa segera kembali bekerja tanpa harus berhenti di tengah kondisi sulit.
Ketika Ride-Hailing Menjadi Alat Disrupsi EV: Grab Gandeng GAC Sediakan Taksi Listrik
Meski usianya tak lagi muda dan sang suami telah berpulang, Mak Netty tetap memilih untuk bekerja dan hidup mandiri. Ia sempat menghadapi pandangan dari sebagian keluarga yang meremehkan pilihannya bekerja sebagai pengemudi ojek online. Namun, baginya, yang terpenting adalah tetap bisa berdiri di atas kaki sendiri.
"Selama pekerjaannya baik dan tidak melanggar aturan, kenapa harus malu? Yang penting kita semua bisa membantu kehidupan keluarga," ujar Mak Netty.
Semangat itu juga Mak Netty bawa ke Komunitas Wiramudi Jakarta Selatan, tempat ia aktif berbagi pengalaman, memberi semangat, dan mendorong sesama Mitra Pengemudi perempuan. Melalui komunitas tersebut, Mak Netty mendorong rekan-rekannya untuk tetap percaya diri dalam bekerja, mandiri, dan tidak mudah menyerah dalam tantangan pekerjaan maupun kehidupan.
Pengalaman yang ia lalui pun menjadikannya sosok yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memberi inspirasi bagi komunitasnya. Kini meski usianya tak lagi muda dan sang suami telah berpulang, Mak Netty tetap memilih untuk bekerja dan hidup mandiri.
“Selama pekerjaannya baik dan tidak melanggar aturan, kenapa harus malu? Yang penting kita semua bisa membantu kehidupan keluarga,” ujar Mak Netty.
Saat ini anaknya telah berumah tangga, dan ia memilih untuk tidak bergantung maupun merepotkan siapa pun, termasuk anaknya sendiri. “Selama saya masih diberi kesehatan dan tenaga, saya akan terus bekerja. Saya tidak ingin merepotkan siapa pun, termasuk anak saya yang sudah berumah tangga. Saya tidak mau mengganggu,” katanya.
Perjalanan Ibu Fitri Membangun Kembali dari Dapur: Kehilangan Rp120 Juta hingga Membeli Tunai Rumah
Jika Mak Netty berjuang di jalan sebagai Mitra Pengemudi, kisah lain datang dari Fitri Farhatani, Mitra UMKM pemilik usaha Pecel Ayam Sambal Rampai Harjatani di Serang, Banten, yang membangun kembali kehidupannya dari dapur rumah kontrakan.Sebelum menjadi pelaku usaha rumahan, Fitri sempat bekerja selama hampir lima tahun di rumah sakit swasta, sebelum memutuskan berhenti setelah melahirkan anak pertamanya. Sempat mencoba berjualan pakaian secara online dan membuka usaha lain, Fitri beberapa kali berada di titik ragu dan kehilangan arah.

Titik terendah datang ketika tabungan keluarga sejumlah Rp120 juta hilang akibat penipuan digital dengan modus phising melalui tautan palsu yang menyebabkan rekening diakses tanpa izin. Peristiwa tersebut tidak hanya mengguncang kondisi keuangan, tetapi juga membawa tekanan besar dalam rumah tangga mereka, bahkan hingga berada di titik hampir berpisah. Bagi Fitri, momen tersebut menjadi titik balik untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan keluarganya.
Dengan modal Rp200 ribu dari ibunya, Fitri mulai berjualan makanan dari rumah pada tahun 2024. Tak disangka, di hari pertama berjualan, dagangannya habis hanya dalam waktu sekitar dua jam. Sejak saat itu, usahanya perlahan berkembang dan menjadi sumber penghidupan baru bagi keluarga.
“Awalnya saya berharap bisa dapat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu sehari, itu saja sudah Alhamdulillah. Tapi ternyata usaha ini bisa jadi harapan baru untuk keluarga kami,” ujar Fitri.
Di awal, usaha ini dijalankan hampir seorang diri, di tengah hubungan yang masih terasa dingin. Namun seiring waktu, suaminya mulai ikut membantu, dan perlahan hubungan mereka kembali membaik. Bagi Fitri, usahanya bukan hanya menghadirkan pemasukan, tetapi juga memulihkan harapan di dalam rumah tangganya.
Seiring usaha berkembang, Fitri mulai membutuhkan peralatan yang lebih memadai agar operasional lebih lancar. Ia pun memanfaatkan GrabModal by OVO Finansial, yang awalnya dicoba dengan nominal kecil, sebelum kemudian dengan pinjaman Rp10 juta digunakan untuk membantu pengembangan usahanya.
Bagi Fitri, yang paling terasa bukan hanya tambahan modal, tetapi juga rasa tenang. Kini, usaha rumahan Fitri telah berkembang pesat. Dari dapur sederhana, ia berhasil mengembalikan tabungan keluarga yang sempat hilang, bahkan membeli rumah secara tunai pada tahun 2026. Meski rumah tersebut masih dalam tahap renovasi, pencapaian itu menjadi bukti nyata dari perjalanan panjang yang berhasil ia lewati bersama keluarganya.
Kartini Masa Kini: Tangguh di Jalanan, Berdaya di Dapur Rumah
Di momen Hari Kartini, kisah Mak Netty dan Fitri menunjukkan bahwa perempuan Indonesia punya daya juang yang luar biasa dalam bentuk yang sangat nyata. Ada yang berjuang di atas motor untuk menjaga keluarga tetap bertahan, ada pula yang membangun kembali harapan dari dapur rumah kontrakan.Keduanya memperlihatkan bahwa perempuan bisa menjadi sosok yang tangguh, mandiri, dan berdaya ketika keadaan menuntut mereka untuk melangkah lebih jauh.
Bagi Mak Netty, semangat Kartini adalah tentang tidak malu bekerja dan terus kuat menghadapi hidup. Sementara itu bagi Fitri, Kartini masa kini adalah perempuan yang berdaya, punya penghasilan sendiri, tetapi tetap tidak melupakan perannya di dalam keluarga. Meski latar belakang dan jalan hidup mereka berbeda, keduanya punya benang merah yang sama: tidak menyerah pada keadaan.
“Boleh nangis, tapi tetap harus jalan,” kata Mak Netty.
“Jangan pernah takut untuk memulai. Perempuan juga harus berdaya dan percaya pada diri sendiri,” ujar Fitri.
Melalui kisah para mitra seperti Mak Netty dan Fitri, GrabModal by OVO Finansial secara konsisten hadir sebagai solusi pendanaan yang dapat diakses oleh para Mitra Pengemudi dan Mitra UMKM di ekosistem Grab.
Dengan proses yang cepat, cicilan ringan, dan fl eksibilitas yang menyesuaikan kebutuhan mitra, layanan ini diharapkan dapat membantu para mitra tetap produktif, menjaga kestabilan fi nansial, dan terus melangkah menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Di Hari Kartini ini, Kartini masa kini tidak selalu berdiri di panggung besar. Mereka hadir di jalanan Jakarta di atas motor GrabBike, di dapur rumah kontrakan di Serang, dan di setiap keputusan kecil untuk bangkit lagi hari ini.
Melalui GrabModal by OVO Finansial, Grab dan OVO Finansial berkomitmen untuk terus menghadirkan akses pendanaan yang cepat, ringan, dan fl eksibel bagi para mitra perempuan di seluruh Indonesia, agar setiap langkah perjuangan mereka tidak berhenti di tengah jalan.
Kartini Masa Kini Industri Migas, Perempuan Penggerak Energi Negeri
Di balik produksi energi nasional, ada perempuan tangguh yang bekerja di garis depan. [354] url asal
#perempuan-dalam-industri-migas #kartini-masa-kini #operator-produksi #kesetaraan-gender-di-tempat-kerja #pertamina #kontribusi-perempuan #lingkungan-kerja-inklusif #energi-nasional #peran-perempuan-di
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah deru mesin dan ritme operasi yang tak pernah berhenti, ada langkah-langkah anggun di balik layar produksi migas negeri. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang berjaga di garis terdepan. Di lapangan migas, mereka boleh minoritas. Namun, perannya tetap menjadi bagian penting dalam setiap aliran energi.
Di pundak mereka, semangat Raden Ajeng Kartini hidup dalam bentuk yang berbeda. Bukan hanya sekadar gagasan, tetapi keberanian untuk hadir, berperan, dan bertahan di ruang-ruang kerja yang penuh tantangan, di dunia kerja yang didominasi laki-laki.
Seperti pesan yang pernah ditinggalkan Kartini, “Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.” Semangat itu kini menemukan wujudnya dalam langkah-langkah nyata perempuan masa kini.
Di sebuah stasiun pengumpul migas, di antara pipa-pipa yang mengalirkan produksi minyak, Nadia Silvia menjalankan perannya sebagai operator di Stasiun Pengumpul Bambu Besar Pertamina EP Field Subang. Berbekal ketelitian, ia memastikan proses produksi minyak dan gas bumi berjalan optimal. Di balik pekerjaannya, ada keyakinan sederhana yang ia bawa setiap hari, bahwa perempuan juga mampu berkontribusi menjadi bagian dari penggerak energi negeri.
Di fasilitas produksi lainnya, Andi Nandayani menjalankan tugasnya sebagai plant operator di Zulu Flowstation milik PHE ONWJ. Di tengah teriknya lapangan lepas pantai di Laut Jawa dan kompleksitas operasional, ia hadir sebagai garda terdepan yang menjaga keselamatan. Setiap pengecekan dan respons cepat terhadap potensi risiko adalah bentuk tanggung jawabnya dalam memastikan operasi tetap selamat, stabil, dan efisien.
Sementara itu, di fasilitas produksi Power & Gas Pabelokan Island, langkah perempuan lain bergerak dalam ritme yang berbeda. Syifa Khairunnisa, Jr. Officer Warehouse & Distribution PHE OSES, memastikan setiap peralatan dan perlengkapan material operasional tercatat, tersimpan, dan terdistribusi dengan tepat. Dari ruang gudang hingga jalur distribusi, perannya menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran operasi yang sering kali tak terlihat, namun krusial.
Di atas offshore platform yang diterpa ombak dan angin, Chagita Salisa Nabillah menjalankan perannya sebagai Chief Operator Produksi PHE OSES. Ia memastikan produksi tetap berjalan selamat dan andal. Di tempat itu pula, ia mencatatkan langkah penting sebagai perempuan yang mengambil peran operator produksi, membuka jalan bagi perempuan lainnya untuk melangkah lebih jauh.
Di Balik Terang Kartini: Jejak Sunyi Sosrokartono
Setiap tanggal 21 April selalu kita peringati hari lahir Raden Ajeng Kartini sebagai hari emansipasi wanita. Namun, masih banyak generasi muda yang tidak memahami.... | Halaman Lengkap [960] url asal
#opini #hari-kartini #ra-kartini #kartini-masa-kini
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 21/04/26 14:42
v/197896/
Agus WidjajantoPemerhati Sosial Budaya dan Sejarah Bangsanya
Setiap tanggal 21 April selalu kita peringati hari lahir Raden Ajeng Kartini sebagai hari emansipasi wanita. Namun, masih banyak generasi muda yang tidak memahami—bahkan tidak benar-benar mengenal—siapa Kartini dan apa yang melatarbelakangi terbitnya buku beliau yang kemudian dijadikan ikon perjuangan perempuan. Maka, penting bagi kita untuk meluruskan fakta agar tidak terjadi simpang-siur dalam memahami sejarah:
Fakta soal buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”:
1. Isinya Surat-surat Kartini
Buku itu bukan karangan utuh Kartini. Isinya merupakan kumpulan surat Kartini kepada sahabat penanya di Belanda, terutama Rosa Abendanon dan Stella Zeehandelaar, yang ditulis pada rentang tahun 1899–1904. Surat-surat ini merekam kegelisahan, pemikiran, sekaligus visi besar Kartini tentang perempuan dan bangsanya.
2. Yang Menyusun: J.H. Abendanon
Yang mengumpulkan dan menerbitkan pertama kali pada tahun 1911 adalah J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, sekaligus suami Rosa Abendanon. Judul aslinya adalah Door Duisternis tot Licht. Dari sinilah gagasan Kartini mulai dikenal luas oleh dunia.
3. Peran R.M.P. Sosrokartono
Sosrokartono adalah kakak kandung Kartini. Ia dikenal sebagai wartawan perang pertama Indonesia, poliglot yang menguasai 24 bahasa, serta pernah menempuh pendidikan di Leiden. Banyak sejarawan menyebut bahwa ia turut “mengedit” dan memilih surat mana yang layak terbit.
Ia juga menjaga adiknya dari tekanan keluarga serta membantu menyalurkan surat-surat tersebut ke Eropa. Dengan demikian, jasanya sangat besar sebagai kurator sekaligus pelindung gagasan Kartini.
4. Kenapa disebut “Bapak Bangsa”?
Sosrokartono memang tokoh besar. Ia memperkenalkan istilah “Darmo Gandul” vs “Gatoloco”, mendirikan sekolah rakyat, serta memiliki konsep kebangsaan jauh sebelum Sumpah Pemuda. Soekarno bahkan pernah menyebut Sosrokartono sebagai “gurunya pemimpin”. Meski demikian, gelar resmi “Bapak Bangsa” memang tidak ada—lebih sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya.
Jadi benarkah buku itu “tulisan adik Sosrokartono”?
Kartini adalah adik kandung Sosrokartono. Namun narasi bahwa “Sosrokartono yang menulis” jelas keliru. Yang menulis tetap Kartini. Sosrokartono berperan sebagai kakak, mentor, sekaligus penjaga agar suara adiknya sampai ke dunia. Tanpa Sosrokartono, sangat mungkin surat-surat itu tidak pernah keluar dari Jepara.
Ini selaras dengan prinsip intelijen: Sosrokartono bekerja di belakang layar. Ia tidak mencari nama, tetapi mengatur agar “cahaya” Kartini dapat terbit. Don't lie, don't tell the truth dalam konteks pergerakan: biar Belanda yang menerbitkan, biar aman secara politik, tetapi isinya tetap menusuk kolonialisme.
Menarik, bukan? Sosok yang menjadi simbol emansipasi perempuan justru “dibidani” oleh jaringan intelektual keluarga dan strategi politik kakaknya. Ini sejalan dengan prinsip The Art of War: “Menang lewat orang lain, tanpa musuh sadar siapa lawannya.”
Sosrokartono adalah “guru senyap” sang Proklamator, Soekarno — yang mengajarkan teknik perang pikiran jauh sebelum Indonesia merdeka.
Tiga peran Sosrokartono ke Soekarno:
1. Guru Politik: “Politik itu Perang Tanpa Darah”
Soekarno mengenal Sosrokartono sekitar tahun 1927 melalui koran Bahagia. Sosrokartono mengajarkan strategi politik tingkat tinggi: tidak reaktif, tidak membuka seluruh kartu, dan membuat lawan berada dalam ketidakpastian. Prinsip “don't lie, but don't tell the truth” menjadi warisan penting yang digunakan Soekarno saat menghadapi Belanda, Jepang, hingga dinamika global AS-Soviet. Ia berbicara “Non-Blok”, tetapi manuvernya sangat strategis.
2. Guru Kebatinan Jawa: “Ilmu Titen dan Rasa”
Sosrokartono mengajarkan Soekarno kebatinan Jawa yang bukan klenik, melainkan filsafat kekuasaan. Konsep “sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” menjadi landasan. Artinya: kuat tanpa pamer kekuatan. Inilah yang membuat pidato Soekarno mampu “menghipnotis” — bermain di ranah rasa, bukan sekadar logika.
3. Guru Diplomasi: “Darmo Gandul vs Gatoloco”
Sosrokartono membedakan dua tipe pemimpin: Darmo Gandul (bergantung pada asing) dan Gatoloco (liar tapi jujur). Soekarno kemudian mengambil jalan ketiga: “Satyam Eva Jayate” — kebenaran yang menang. Hal ini terlihat dalam Konferensi Asia-Afrika 1955, di mana Indonesia memimpin dunia tanpa kekuatan militer.
Hubungannya ke Intelijen dan Perang Pikiran:
Sosrokartono adalah intelijen dalam wujud filsuf. Ia tidak memegang senjata, tetapi memberikan “radar” kepada Soekarno untuk membaca niat manusia. Soekarno sendiri mengatakan bahwa kemampuannya membaca tokoh-tokoh dunia berasal dari didikan Sosrokartono.
Dengan demikian, ketika disebut “intelijen adalah jantung negara”, Sosrokartono adalah contoh jantung versi sipil—yang memompa ide ke pemimpin, lalu pemimpin memompanya ke rakyat.
Sayangnya, setelah 1965, jejak Sosrokartono perlahan dikaburkan. Karena ajarannya berbahaya bagi penjajahan model baru: pemimpin yang kuat secara batin tidak mudah dibeli.
Sekarang pertanyaannya: siapa “Sosrokartono” bagi pemimpin hari ini? Siapa yang mengajarkan strategi, kesenyapan, dan prinsip? Sejarah akan selalu mencari jalan nya sendiri untuk melahirkan sosro kartono sosro kartono baru.
Kalau dulu Soekarno memiliki Sosrokartono, generasi muda saat ini juga membutuhkan sosok serupa agar tidak kalah dalam perang pikiran. Dan ini selaras dengan strategi Sun Tzu: mundur untuk maju, kalah pamor untuk menang strategi.
Jejak Sosrokartono:
1. Puncak karier di Eropa: 1908–1925. Lulus Leiden, menguasai 24 bahasa. Wartawan perang New York Herald Tribune, meliput Perang Dunia I. Penerjemah resmi Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa. Statusnya sangat elite, bahkan berpotensi menjadi warga kehormatan Eropa.
2. Titik balik: “Untuk apa semua ini kalau bangsaku masih gelap?” Tahun 1925 ia pulang ke Indonesia. Tidak membawa harta, tidak mengejar jabatan. Ia memilih tinggal di Bandung, membuka sekolah kecil Darmo Kondo, dan mengajar tanpa pamrih.
3. Alasannya: Perang Pikiran harus Dimenangkan di Dalam Negeri
Prinsip The Art of War: “Menundukkan musuh tanpa bertempur.” Sosrokartono memahami bahwa penjajahan tidak cukup dilawan dengan fisik, tetapi dengan kecerdasan.
Maknanya buat konteks sekarang:
1. Intelijen sejati tidak selalu terlihat.
2. Perang pikiran dimenangkan melalui pendidikan.
3. Strategi besar sering disembunyikan di balik kesederhanaan.
Bandingkan dengan kondisi hari ini. Banyak anak muda Indonesia berprestasi memilih menetap di luar negeri. Namun, siapa yang bersedia kembali dan menjadi “Sosrokartono”—tidak populer, tetapi membangun generasi?
Soekarno memiliki Sosrokartono. Lalu, generasi 2026 memiliki siapa?
Itulah pertanyaan besarnya. Negara bisa membangun infrastruktur, membeli alutsista, tetapi tanpa “Sosrokartono baru”, kita berisiko kalah dalam perang pikiran sebelum benar-benar bertanding—terutama di era dunia bipolar dengan arus informasi tanpa batas yang mudah menggerus jati diri bangsa.
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Hari Kartini 2026
Presiden Prabowo Subianto, menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Kartini yang jatuh pada hari ini, Selasa (21.4.2026). Ucapan tersebut disampaikan Prabowo... | Halaman Lengkap [142] url asal
#hari-kartini #ra-kartini #kartini-masa-kini #kaum-perempuan #presiden-prabowo-subianto
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 21/04/26 10:40
v/197587/
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto, menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Kartini yang jatuh pada hari ini, Selasa (21/4/2026). Ucapan tersebut disampaikan Prabowo melalui unggahan di akun Instagram resminya @Prabowo.Dalam unggahan tersebut, Prabowo membagikan sebuah foto bernuansa monokrom yang menampilkan potret pahlawan emansipasi perempuan, Raden Ajeng Kartini.
Unggahan itu bertuliskan pesan singkat "Selamat Hari Kartini, 21 April 2026," lengkap dengan nama dan jabatan Prabowo Subianto di bagian bawah sebagai Presiden Republik Indonesia.
Melalui unggahan tersebut, Kepala Negara tampak ingin mengajak seluruh masyarakat untuk terus meneladani semangat perjuangan Kartini dalam memajukan pendidikan dan hak-hak kaum perempuan.
Diketahui, peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April sendiri didasarkan pada Keputusan Presiden No. 108 Tahun 1964, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Kartini yang telah membuka jalan bagi pendidikan dan kemandirian perempuan di tanah air.
Lihat video: Peringati Hari Kartini, Transportasi Jakarta Gratis
Kartini Masa Kini Vini Diar dan Simpul Pemberdayaan Rumah Nyonya
Vini Diar, pendiri Rumah Nyonya di Bandung, memberdayakan perempuan melalui kerajinan macramé. Dengan dukungan BRI, ia mengembangkan bisnis berkelanjutan dan menginspirasi banyak orang untuk memulai u [1,089] url asal
#macrame #vini-diar #rumah-nyonya #kartini-masa-kini #pemberdayaan-perempuan #kerajinan-tangan #bisnis-macrame #pelatihan-macrame #umkm-bandung #produk-ramah-lingkungan #macrame-indonesia #bri-umkm #ma
(Bisnis.Com - Terbaru) 21/04/26 09:20
v/197462/
Bisnis.com, JAKARTA - Lebih dari seabad lalu, Raden Ajeng Kartini memperjuangkan kesetaraan melalui pendidikan bagi kaum perempuan. Semangat itu tidak pernah padam. Di berbagai penjuru Indonesia, perempuan-perempuan tangguh terus melanjutkan cita-cita Kartini dengan caranya masing-masing, salah satunya melalui kewirausahaan yang memberdayakan sesama.
Di Bandung, Vini Diar Mutiara Sumantri membuktikan hal itu lewat senimacramé, kerajinan simpul tali yang memiliki akar sejarah panjang sejak abad ke-13, denganbrandRumah Nyonya. Kisahnya bermula pada 2015, ketika ia melihat kerajinan tali-temali dijual dengan harga mahal di sebuah mal di Jakarta. Kala itu, di Bandung belum ada yang memproduksi kerajinan serupa. Rasa penasaran pun mendorongnya belajar secara otodidak dari kanal media sosial.
Perjalanannya tidak instan. Vini yang berlatar belakang sarjana kependidikan ini butuh waktu enam jam hanya untuk menyelesaikan dua simpul sederhana. Setelah makin mahir, ia mulai memproduksi berbagai kerajinanmacramédan memasarkannya melalui media sosial. Respons pasar begitu positif, sehingga pada 2016 ia memberanikan diri mendirikan usaha sendiri dengan nama Rumah Nyonya, sebuahbrandkerajinanmacraméyang mengusung konsep produk ramah lingkungan, multifungsi, dan estetis.
Vini pun rajin mendesain ragam penerapan macramé, mulai dari aksesoris masker, taplak meja, hiasan dinding, pembatas buku, wadah tumbler, hingga dekorasi pernikahan bergayawedding rustic. Pada 2017, konsistensinya membuahkan hasil. Vini meraih titel juara dalam D-Sign Challenge di NET TV.
BERBAGI ILMU
Di tahun yang sama, ia mulai mengajarkan teknik simpul kepada para tetangga di lingkungan rumahnya, langkah awal dari misi pemberdayaan yang kelak menjangkau seluruh Indonesia.
“Saya memang senang mengajar karena turun dari Ibu saya yang merupakan seorang guru. Saya berpikir, kalau saya butuh enam jam untuk belajar, makanya dalam mengajar, saya ajari secara detail, karena saya tidak ingin orang lain awalnya susah belajar seperti saya,” papar Vini.
Berawal dari pelatihan berskala kecil, kegiatan tersebut terus berkembang dan menjangkau lebih luas. Keterlibatan dalam aktivitas sosial, seperti berbagi ilmu kepada penyandang disabilitas, turut memperlebar jalannya. Seiring waktu, permintaan untuk mengisi berbagai pelatihan pun semakin meningkat, tidak hanya di Bandung dan wilayah Jawa Barat, tetapi juga meluas ke berbagai kota di seluruh Indonesia.
Rekam jejaknya panjang, mulai dari memberi pelatihan untuk Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Lapas Anak Sukamiskin, Lapas Perempuan Kelas 2A Bandung, SLB YPAC Bandung, komunitas korban bencana banjir bandang Sukabumi, korban gempa Cianjur, kader PKK, hingga puluhan UMKM binaan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung.
“Sudah tidak terhitung jumlahnya yang menginformasikan kalau mereka sudah mulai membuka usaha macramé setelah mengikuti pelatihan dari saya. Ada juga yang awalnya hendak cuti kuliah karena ketiadaan biaya, tapi karena menekunimacramé, bisa membayar biaya kuliahnya,” kenang Vini.
Ia mengaku tidak pernah merasa tersaingi ketika para muridnya kemudian sukses membuka usaha sendiri. “Malah saya ikut berbangga karena telah mendidik mereka,” tuturnya.
Berkat konsistensi itu, pada 2018, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menganugerahinya penghargaan “Perempuan Inspiratif”. Rumah Nyonya juga konsisten mengisi gelaran Dekranasda Jawa Barat, Teras Indonesia di IKEA Bandung, hingga Apresiasi Kreasi Indonesia yang digelar Kemenparekraf di Pekanbaru.
Pada 2020, produk-produknya menembus pameran bergengsi, di antaranya IFEX di Jakarta International Exhibition serta Handarty Korea Seoul International Exhibition. Bahkan di masa pandemi, saat banyak usaha justru terpuruk, Rumah Nyonya yang kini menjadi UMKM binaan BRI ini justru kebanjiran pesanan.

NAIK KELAS
Sebagai nasabah BRI, Vini memperoleh akses dukungan pembiayaan yang relevan dengan kebutuhan usahanya. Seiring pertumbuhan yang semakin pesat, Rumah Nyonya membutuhkan tambahan modal untuk meningkatkan kapasitas produksi. BRI pun memberikan dukungan melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang diperoleh pada masa pandemi dan berhasil diselesaikan tepat waktu. Permodalan tersebut menjadi penggerak utama yang memungkinkan Rumah Nyonya tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang di tengah situasi krisis.
Dukungan BRI tidak berhenti pada aspek pendanaan. Selain fasilitas KUR, BRI juga menghadirkan program pemberdayaan dan pendampingan usaha melalui Rumah BUMN BRI Bandung. Di sana, Vini, baik sebagai peserta maupun sebagai pemateri, memperoleh akses ke beragam program pengembangan yang dirancang untuk mendorong pelaku UMKM naik kelas.
Di Rumah BUMN BRI, pelaku usaha memperoleh beragam pendampingan, mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kapasitas bisnis hingga penguatan aspek digitalisasi. Hingga saat ini, BRI tercatat telah membina 54 Rumah BUMN serta menggelar 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM di berbagai wilayah di Indonesia. Khusus pada digitalisasi UMKM, program ini dirancang agar nasabah seperti Vini mampu memperluas jangkauan pemasaran melalui pemanfaatan kanal digital dan berbagai platformmarketplace.
“Salah satunya tentang pemasaran melaluimarketplace, yang sangat bermanfaat bagi saya. Saya merasakan banyak manfaat dari Rumah BUMN BRI, termasuk untuk dukungan operasional usaha,” ucap Vini.
Tak berhenti di situ, BRI juga mendorong pelaku usaha binaan untuk berpartisipasi dalam berbagai pameran dan bazar sebagai upaya memperluas akses pasar. Bagi Rumah Nyonya, kesempatan ini menjadi etalase strategis untuk memperkenalkan produk-produk kerajinan kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus membuka peluang kolaborasi dan kerja sama baru.
Ada satu hal yang membuat produk Rumah Nyonya kian istimewa, yakni penggunaan bahan baku yang berasal dari limbah tali pabrik sepatu. Pendekatan berbasis keberlanjutan ini menjadi identitas sekaligus nilai tambah yang membedakan Rumah Nyonya di tengah pasar yang semakin peduli terhadap isu lingkungan. Selaras dengan visi yang diusung sejak awal, Rumah Nyonya berkomitmen menghadirkan produk “Made in Indonesia” yang ramah lingkungan, multifungsi, dan estetis, hingga mampu bersaing di kancah global.
Seiring berkembangnya usaha, Vini kini memfokuskan diri menjadi penyedia bahanmacraméyang pasarnya sudah merambah hingga Malaysia. Ia telah menjalin relasi dengan produsen sepatu di berbagai titik di Jawa Barat untuk memasok limbah tali sebagai bahan baku.
“Saya bercita-cita untuk melepas bahan sebanyak 3 ton per bulan. Selain menyediakan bahan, kami hanya menerima pesanan besar yang ditangani oleh anak dan menantu saya, dengan mengajak mitra binaan yang sudah mengikuti pelatihan dari saya untuk menyelesaikan pesanan,” katanya.
Model bisnis ini sekaligus membentuk ekosistem pemberdayaan, dimana setiap pesanan dalam jumlah besar bagi Rumah Nyonya dapat menghadirkan tambahan penghasilan bagi puluhan mitra binaan yang tersebar di berbagai daerah. Dampak pemberdayaan yang diinisiasi Vini pun terasa nyata hingga saat ini. Di workshop Rumah Nyonya, Raisa Oktaria, mahasiswi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung jurusan Tata Busana, tampak terampil memilin tali bersama dua rekannya untuk menyelesaikan pesanan sebanyak 350 unit.
“Awalnya saya sama sekali tidak bisa. Saya baru belajar akhir Februari 2026. Pertama bikin simpul yang gampang, buat diri sendiri dahulu. Setelah makin mahir, saya bantuin mengerjakan pesanan,” ujar Raisa.
Dalam hitungan minggu, Raisa bahkan sudah berkreasi menciptakan rompi dengan teknikmacramé.
Keberhasilan Raisa dan para mitra binaan lainnya menjadi refleksi dari semangat yang selalu ditularkan oleh pendiri Rumah Nyonya ini. Vini berpesan kepada perempuan Indonesia agar tidak ragu untuk memulai usaha, apa pun bentuknya. “Mulai saja dan jalani usaha dengan semangat serta keuletan,” tegasnya.
Sebaik-baik manusia memang yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dari Bandung, Vini merajut pesan itu, simpul demi simpul, bersama BRI yang setia mendampingi perjalanannya.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)