Bisnis.com, JAKARTA — Sederet emiten pelayaran seperti PT Humpuss Maritim Internasional Tbk. (HUMI) hingga PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) bergeliat ekspansi menambah armada kapal pada tahun ini.
Terbaru, PT Cakra Buana Resources Energi Tbk. (CBRE) membeli kapal pipe-laying and lifting vessel dari Hilong Shipping Holding Limited senilai US$100 juta. Kapal tersebut merupakan produksi tahun 2012 asal China.
Pembelian kapal itu dilakukan sejalan dengan penambahan usaha CBRE di kegiatan lepas pantai (offshore). CBRE yang saat ini bergerak di bidang industri maritim, khususnya jasa pelayaran angkutan laut dalam negeri, berencana melakukan penambahan kegiatan usaha sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
Direktur Utama Cakra Buana Resources Energi Suminto Husin Giman menjelaskan bahwa perseroan pun telah mendapatkan persetujuan penambahan modal melalui rights issue dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pekan lalu, Kamis (18/12/2025).
CBRE berencana menggelar penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue sebanyak-banyaknya 48 miliar saham. Dana hasil rights issue di antaranya akan dimanfaatkan sebagai belanja modal (capital expenditure/capex) untuk penambahan armada kapal.
Suminto menjelaskan seiring dengan geliat ekspansinya itu, CBRE optimistis mampu mencatatkan kinerja positif baik dari sisi keuangan dan operasional. Perseroan menargetkan pendapatan mampu tumbuh 30% secara tahunan (year on year/YoY) pada 2026 seiring dengan ekspansi.
"Salah satu challenge yang paling besar itu ada di pengalaman dan modal. Maka, manuver yang kami lakukan ini diharapkan bisa memberikan dampak yang besar terhadap perseroan," kata Suminto dalam public expose pada beberapa waktu lalu.
Layar Terkembang HUMI dan PJHB
Emiten pelayaran milik Tommy Soeharto HUMI pun kian agresif memperkuat armadanya. Perseroan pada 2025 setidaknya telah membeli empat unit kapal baru. Sebanyak empat kapal yang telah diakuisisi yaitu Mac Singapore, Marlin 88, Trans Pacific 201, dan Jeneponto 01.
Direktur Utama Humpuss Maritim International Tirta Hidayat menyebutkan bahwa pembelian kapal dilakukan dalam rangka pengembangan bisnis dan sejalan dengan visi HUMI untuk mendukung pembangunan ekosistem maritim.
"Kami percaya, konektivitas yang kuat di pelabuhan akan menjadi kunci dalam memperlancar arus perdagangan dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Tirta dalam keterangannya.
Emiten yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada November 2025, PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk. (PJHB) pun langsung tancap gas ekspansi. PJHB telah meraup dana Rp158,4 miliar dari IPO.
Seluruh dana yang diperoleh dari IPO dipergunakan untuk belanja modal, yakni pembangunan tiga unit armada kapal baru dengan jenis landing craft tank (LCT).
“Kami memanfaatkan waktu dengan optimal. Setelah IPO, langsung bergerak. Ekspansi ini adalah fondasi peningkatan pendapatan dan kapasitas layanan kami di 2025 dan seterusnya,” kata Direktur Utama Pelayaran Jaya Hidup Baru Go Sioe Bie atau Abie dalam keterangan tertulis.
Seiring dengan geliat ekspansi itu, PJHB pun menargetkan pertumbuhan bisnis. Laba bersih PJHB ditargetkan dapat meroket lebih dari 50% pada 2026.
“Penambahan tiga kapal sekaligus akan membawa dampak langsung ke kapasitas dan revenue PJHB. Kami ingin memastikan momentum pasca-IPO benar-benar dirasakan investor,” ujar Abie.
Tambahan Armada SMDR dan CDIA
SMDR juga terpantau ancang-ancang ekspansi menambah armadanya. SMDR menambah empat kapal baru tahun ini. Dana capex yang disiapkan oleh SMDR mencapai US$236 juta sampai US$250 juta pada tahun ini. Selain itu, SMDR pun berekspansi dengan membuat entitas baru di Jepang.
Direktur Utama Samudera Indonesia Bani M. Mulia mengatakan pada tahun ini kondisi pasar cukup positif bagi Samudera Indonesia dalam menjalankan ekspansi. Meskipun, SMDR tetap berhati-hati terhadap kemungkinan risiko pasar.
"Kami melihat pasar cukup positif untuk tumbuh, untuk kami menambah kapasitas, beli kapal baru dan sebagainya. Akan tetapi karena ada fluktuasi ancaman, sebentar-sebentar ganti kebijakan, sebentar-sebentar ganti tarif, jadi kami tetap mengambil kesempatan dengan hati-hati," katanya dalam public expose.
Pada akhir tahun ini, emiten milik Prajogo Pangestu PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA), melalui anak usaha di pilar logistik, PT Chandra Shipping International (CSI) pun meluncurkan armada kapal logistik kimia cair terbaru berkapasitas 9.000 Deadweight Tonnage (DWT) bernama Novah.
Manajemen CDIA menjelaskan kehadiran kapal Novah memainkan peran strategis dalam memperkuat layanan infrastruktur industri CDI Group. Kehadiran kapal ini memastikan kelancaran rantai pasok sekaligus meningkatkan konektivitas perdagangan lintas negara.
Prospek Saham
Seiring dengan geliat ekspansi, sejumlah saham deretan emiten pelayaran pun kinclong. Harga saham SMDR misalnya naik 31,34% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak perdagangan perdana 2025 hingga perdagangan hari ini, Selasa (23/12/2025).
Kemudian, harga saham HUMI melesat 316% ytd. CDIA pun mencatatkan lonjakan harga saham 794,74% ytd. Bahkan, harga saham CBRE terbang 5.347,37% ytd.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama dan Steven Willie dalam risetnya menilai geliat ekspansi yang dijalankan oleh emiten pelayaran mampu mendongkrak peluang pendapatan baru. Untuk saham SMDR, NH Korindo Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp400 per lembar.
"Kami menyukai SMDR karena ekspansi Jepang baru-baru ini ke Asia Timur memposisikan armada mereka untuk kontrak pengiriman bersih yang bermigrasi antara Samudra Pasifik," tulis Ezaridho Ibnutama dan Steven Willie dalam risetnya.
Namun, terdapat tantangan bagi SMDR di antaranya penurunan tarif pengiriman yang menyebabkan kebocoran pendapatan sebagai akibat dari peningkatan jumlah kapal global dari pesanan kapal baru pasca Covid-19.
Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas Irsyady Hanief dalam risetnya memberikan peringkat buy untuk CDIA dengan target harga Rp2.430 per lembar.
"Didasarkan pada ekspansi CDIA yang berkelanjutan sebagai penggerak infrastruktur utama, yang kini diperkuat oleh ekspansinya yang berkelanjutan ke segmen logistik dengan margin tinggi," tulis Irsyady.
Sebelumnya, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan emiten pelayaran mulai bergeliat seiring dengan permintaan pasar yang sudah tinggi. Tercatat, sejumlah emiten pelayaran pun berekspansi menambah jumlah armadanya.
"Penambahan kapal baru dan ekspansi bisnis lainnya itu akan menjadi sentimen positif bagi emiten ke depan khususnya yang berbasis pelayaran," ujar Nafan kepada Bisnis.
Di sisi lain, emiten pelayaran juga masih menghadapi tantangan pergerakan harga komoditas yang relatif volatil serta pertumbuhan ekonomi global yang memberikan dampak pada supply chain.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.