Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC+ memutuskan untuk mempertahankan rencana menahan kenaikan produksi minyak sepanjang kuartal I/2026, di tengah semakin kuatnya sinyal potensi kelebihan pasokan (surplus) di pasar global.
Melansir Bloomberg pada Senin (1/12/2025) sejumlah anggota kunci yang dipimpin Arab Saudi menegaskan kembali jeda pasokan selama tiga bulan tersebut, yang pertama kali diumumkan awal bulan ini, usai rangkaian pertemuan via konferensi video pada Minggu.
Dalam pernyataannya, OPEC+ menyebut keputusan itu sejalan dengan ekspektasi pasar musiman yang diperkirakan melemah.
OPEC+ juga menyetujui mekanisme peninjauan kapasitas produksi individual tiap negara anggota, proses yang akan menjadi dasar penetapan kuota produksi pada 2027. Mereka menunjuk konsultan berbasis di Dallas, DeGolyer and MacNaughton Corp., untuk melakukan sebagian besar penilaian.
Meski penundaan kenaikan produksi ini mencerminkan sikap kehati-hatian aliansi setelah sempat mempercepat pemulihan output pada awal tahun, langkah tersebut dinilai masih membuka peluang terjadinya kelebihan pasokan signifikan di pasar pada awal 2026 yang berpotensi menekan harga lebih lanjut.
Analis Rystad Energy AS, Jorge Leon mengatakan, OPEC+ memilih menahan langkah agresif dan mempertahankan strategi saat ini.
“Pesan dari kelompok ini jelas: stabilitas lebih penting dibanding ambisi, terutama ketika prospek pasar memburuk dengan cepat," kata Leon
Harga minyak berjangka telah terkoreksi sekitar 15% sepanjang tahun ini dan diperdagangkan mendekati US$63 per barel di London, seiring lonjakan pasokan dari kawasan Amerika yang bersamaan dengan peningkatan produksi OPEC+ melampaui pertumbuhan permintaan.
Badan Energi Internasional (IEA) berbasis di Paris memproyeksikan potensi rekor surplus pada 2026, sementara Goldman Sachs Group Inc. dan JPMorgan Chase & Co. juga memperkirakan harga berjangka masih cenderung melemah.
Pembekuan produksi selama tiga bulan memberikan waktu bagi OPEC+ untuk mengevaluasi meningkatnya risiko geopolitik terhadap pasokan dari negara anggota, serta memantau kembali berbagai upaya mengakhiri perang di Ukraina.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump meningkatkan ketegangan dengan Venezuela pada Sabtu dengan memperingatkan maskapai penerbangan agar menganggap wilayah udara di atas dan sekitar negara tersebut sebagai zona tertutup, di tengah langkah pemerintahannya menindak tegas perdagangan narkotika.
Pelemahan harga minyak juga terjadi seiring seruan Trump yang berulang kali meminta harga bahan bakar lebih rendah, menyusul kekhawatiran pemilih terhadap kenaikan biaya hidup.
Presiden AS itu juga menyambut hangat Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih awal bulan ini, bersamaan dengan persetujuan pemerintah AS atas rencana pembelian jet tempur F-35 dan chip kecerdasan buatan oleh kerajaan tersebut.
Delapan negara kunci OPEC+ sempat mengejutkan pasar minyak pada April, ketika mereka mempercepat pengembalian produksi yang ditahan sejak 2023. Para pejabat menyebut langkah tersebut sebagai upaya Riyadh merebut kembali pangsa pasar yang sebelumnya direbut pesaing, seperti produsen shale oil AS, sekaligus menekan negara anggota OPEC+ yang dinilai melanggar kuota produksi.
Meski Arab Saudi berhasil menarik kembali sebagian pangsa pasar, penurunan harga minyak justru menekan kondisi fiskal kerajaan, memperlebar defisit anggaran dan memaksa penyesuaian skala sejumlah proyek ekonomi unggulan.
Tekanan serupa juga dirasakan produsen di luar OPEC+, termasuk perusahaan pengeboran minyak serpih (shale) di Amerika Serikat.
Hingga kini, OPEC+ telah menghidupkan kembali sekitar 70% dari dua lapisan pemangkasan produksi yang diberlakukan sejak 2023—setidaknya secara administratif—dan masih menyisakan sekitar 1,1 juta barel per hari yang belum dikembalikan ke pasar.
OPEC+ juga mempertahankan satu lapisan pemangkasan lain yang mencakup 22 negara anggota dengan volume sekitar 2 juta barel per hari hingga akhir 2026.
Meski demikian, realisasi kenaikan produksi bulanan kelompok inti ini masih lebih kecil dari angka yang diumumkan. Sejumlah negara harus mengompensasi kelebihan produksi sebelumnya, sementara sebagian lainnya secara fisik kesulitan meningkatkan output.
Kondisi tersebut menjadi latar belakang peninjauan jangka panjang kapasitas produksi negara anggota yang pertama kali diumumkan pada Mei lalu. Beberapa negara berupaya agar kapasitas barunya diakui, sementara negara lainnya justru kesulitan memenuhi kuota yang diberikan.
Kejelasan mengenai kapasitas produksi aktual dinilai akan membantu menyelaraskan penetapan kuota dengan kondisi riil di lapangan, sekaligus memperkuat kredibilitas setiap kebijakan pemangkasan produksi pada masa mendatang.