Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri elektronik bersiap untuk menyesuaikan strategi bisnis, termasuk menaikkan harga jual produk, akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang mulai memberikan tekanan terhadap rantai pasok global, kenaikan harga energi, hingga penguatan dolar Amerika Serikat.
National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia Andry Adi Utomo mengungkapkan, gangguan rantai pasok akibat konflik turut berdampak pada ketersediaan kontainer logistik global. Kondisi tersebut sempat menimbulkan kendala dalam distribusi komponen impor yang kini berimbas pada biaya yang jauh lebih mahal.
Selain faktor logistik, tekanan juga datang dari sisi nilai tukar. Penguatan dolar AS terhadap rupiah meningkatkan beban biaya impor komponen, sehingga perusahaan harus melakukan penyesuaian harga.
Lonjakan harga energi global turut memperburuk kondisi tersebut. Andry mengatakan, harga minyak dunia yang menembus lebih dari US$100 per barel berdampak pada kenaikan harga bahan baku turunan seperti plastik yang banyak digunakan dalam produksi elektronik.
“Akibatnya, kami melakukan koreksi harga 3% hingga 5% dan kita tetap fokus untuk program sale out di penjualan,” ujar Andry kepada Bisnis, Senin (6/3/2026).
Toko elektronik di salah satu pusat perbelanjaan
Sharp juga mengambil langkah antisipatif untuk menjaga kelangsungan produksi. Andry menyebut, perusahaan berusaha mengamankan stok komponen serta mencari alternatif pemasok baru agar kelangsungan produksi tetap stabil.
Terkait permintaan produk Sharp di Tanah Air, Andry menyampaikan bahwa sejauh ini dampak konflik dan krisis energi disebut belum terasa signifikan. Namun, jika harga energi domestik ikut meningkat, Andry memprediksi pasar elektronik diperkirakan dapat melemah sekitar 5% hingga 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Di saat itu, produk yang hemat energi akan mempunyai nilai lebih dan Sharp sudah siap dengan product inverter di AC, lemari es, mesin cuci, microwave,” jelasnya
Andry berharap agar pemerintah bisa memberikan kebijakan yang mendukung kestabilan ekonomi nasional di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Tidak hanya Sharp, Asus Indonesia juga bersiap melakukan penyesuaian harga untuk produk gawainya.
“Penyesuaian harga jual pasti ada dan tidak bisa dihindari, akan tetapi kita tetap menjaga kenaikan tidak terlalu eksponensial agar masih dapat terjangkau pengguna kita,” tutur Head of Public Relation Asus Indonesia Muhammad Firman kepada Bisnis, Senin (6/3/2026).
Kenaikan harga memang tidak bisa dihindari. Pasalnya, krisis energi global, berdampak pada biaya produksi. Namun, sejauh mana krisis tersebut berdampak, Firman menyebut masih perlu dikalkulasikan.
Sejauh ini, kenaikan biaya produksi masih lebih diakibatkan oleh kenaikan harga komponen utama laptop dan PC desktop seperti RAM, SSD, CPU dan GPU dan biaya pengiriman (shipping cost).
“Kalau harga komponen akibat minimnya pasokan RAM-SSD dan komponen lain yang mengandung chip silikon, bisa mencapai sekitar 30%,” imbuhnya.
Salas satu laptop milik Asus
Asus, katanya masih memantau perkembangan baik skala geopolitik global maupun kebijakan pemerintah terkait produksi elektronik di dalam negeri. Namun yang pasti, Firman memastikan bahwa Asus telah mengamankan pasokan komponen laptop dan PC desktop untuk tahun ini.
Akan tetapi, Firman menilai, bila konflik terus berlanjut dalam jangka waktu yang panjang, pasokan komponen untuk produk Asus yang dirakit di Indonesia juga pasti terganggu. Dengan demikian, harga produk bisa menjadi semakin mahal yang berujung pada melemahnya daya beli atau permintaan.
4 Dampak ke Industri Elektronik ...
Dampak Utama yang Perlu Diwaspadai
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai, setidaknya terdapat empat dampak utama yang perlu diwaspadai pelaku industri elektronik seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Pertama, ketidakstabilan geopolitik, seperti persaingan AS-China dan konflik regional, menambah risiko pada rantai pasokan komponen elektronik, khususnya semikonduktor yang penting bagi kecerdasan buatan (AI).
Kedua, adanya risiko restrukturisasi dan pembatasan ekspor. Kebijakan pembatasan ekspor, seperti tindakan AS terhadap perusahaan China seperti Huawei, memperlambat perkembangan teknologi dari negara tersebut dan memaksa perusahaan global merestrukturisasi sumber bahan baku mereka.
Ketiga adanya inflasi biaya produksi. Konflik global, termasuk di Timur Tengah, memicu kenaikan harga energi dan bahan baku penting.
“Ini meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan dalam industri elektronik, otomotif, dan tekstil,” tambah Esther.
Dampak keempat adalah ketidakpastian perdagangan. Ketegangan geopolitik menciptakan lingkungan perdagangan digital yang tidak pasti, yang berisiko mengganggu aliran barang elektronik global.
Adapun dampak kelima terbilang positif yakni peluang investasi baru. Rivalitas teknologi AS-China menyebabkan relokasi investasi, yang dipandang sebagai peluang bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk menarik investor di sektor semikonduktor.
Oleh karena itu, Esther berharap pemerintah mempercepat pengembangan ekosistem industri dalam negeri melalui peta jalan (roadmap) industrialisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. “Harus dipetakan rantai pasoknya, mana yang masih kosong. Kalau misalnya dari US nggak bisa ngisi atau China nggak bisa ngisi, ya Korea misalnya atau Jepang, harus ada alternatifnya, sampai terbentuk ekosistemnya,” tutur Esther.
Dalam jangka panjang, penguatan riset dan pengembangan (R&D) juga dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Namun, Esther menekankan bahwa strategi tersebut tetap perlu disesuaikan dengan keunggulan kompetitif Indonesia.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai konflik di kawasan Timur Tengah bisa membawa dampak ganda bagi industri elektronik nasional.
Di satu sisi, kondisi itu menekan rantai pasok global, tetapi di sisi lain membuka peluang untuk memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada produk elektronik. Artinya, gangguan rantai pasok global dapat menjadi momentum untuk mendorong substitusi impor.
Namun, dia mengingatkan karakter industri elektronik yang sangat bergantung pada komponen impor, membuat proses substitusi tidak bisa dilakukan secara instan.
“Yang lebih realistis dalam jangka pendek adalah peningkatan peran domestik pada beberapa tahapan produksi, bukan penggantian penuh terhadap produk impor,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (6/3/2026).
Bangunan di Israel rusak usai digempur rudal Iran
Menurutnya, penguatan TKDN perlu diposisikan sebagai bagian dari strategi industrialisasi yang lebih mendalam, bukan sekadar kewajiban administratif. Upaya tersebut harus diiringi dengan pengembangan industri komponen, transfer teknologi, serta penguatan ekosistem pemasok domestik.
“Jika dilakukan dengan pendekatan yang tepat, TKDN bisa menjadi instrumen untuk mempercepat pendalaman industri. Tetapi jika dipaksakan tanpa kesiapan, justru berisiko menaikkan biaya produksi dan menekan daya saing,” jelasnya.
Yusuf menerangkan, kenaikan biaya logistik global memang secara teori membuat produk lokal lebih kompetitif dibandingkan produk impor. Ketika ongkos pengiriman meningkat, harga barang impor ikut terdorong naik, sehingga produk lokal menjadi lebih menarik secara relatif.
Tetapi dalam praktiknya, efek ini tidak sepenuhnya sederhana. Produsen dalam negeri juga masih bergantung pada impor komponen, sehingga mereka ikut terkena dampak kenaikan biaya logistik.
Artinya, keunggulan kompetitif yang muncul sangat bergantung pada seberapa dalam rantai pasok sudah terlokalisasi. “Semakin tinggi kandungan lokal, semakin besar peluang menikmati keuntungan dari perubahan ini,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yusuf melihat konflik geopolitik juga membuka peluang relokasi produksi global ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Akan tetapi, realisasi peluang tersebut sangat bergantung pada kesiapan domestik dan daya saing dibandingkan negara lain seperti Vietnam, India, dan Thailand yang lebih dahulu memiliki ekosistem manufaktur matang.
Dalam jangka pendek, ia memperkirakan respons industri lebih banyak datang dari pelaku usaha yang telah beroperasi di dalam negeri melalui peningkatan kapasitas produksi. Sementara itu, investasi baru berskala besar menurutnya cenderung tertahan akibat ketidakpastian global.
Di tengah dinamika tersebut, Yusuf berpendapat bahwa peran pemerintah dinilai menjadi kunci dalam mendorong penguatan TKDN. Selain memberikan insentif fiskal, pemerintah juga perlu memastikan pengembangan sumber daya manusia, integrasi kawasan industri, serta sinkronisasi kebijakan perdagangan dan industri.
“Pemerintah juga perlu menciptakan kepastian permintaan, misalnya melalui pengadaan barang dengan TKDN tinggi, sehingga pelaku industri memiliki dasar kuat untuk berekspansi,” tutur Yusuf.
Krisis semikonduktor global memicu kenaikan harga smartphone, termasuk HP murah dari Samsung dan Xiaomi. Produsen berupaya menjaga harga terjangkau meski biaya produksi naik. [963] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Produsen smartphone dihadapkan masalah rantai pasok yang terjadi di industri, termasuk perihal krisis komponen semikonduktor di global. Nasib smarphone entry level atau HP murah menjadi pertanyaan karena secara komponen memiliki kebutuhan yang sama dengan smartphone kelas premium.
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, biaya logistik, fluktuasi nilai tukar, serta naiknya harga bahan baku seperti memori dan sensor kamera akan memperbesar biaya produksi. Hal ini berpotensi mendorong produsen smartphone seperti Xiaomi, Samsung, Honor, dan lain sebagainya menaikan harga perangkat di konsumen.
“Dari sisi kisaran, peningkatan harga umumnya berada di rentang 5–15% tergantung segmen produk,” kata Heru kepada Bisnis pada Rabu (21/1/2026).
Heru menjelaskan ponsel kelas menengah hingga atas yang menggunakan chipset berperforma tinggi cenderung mengalami kenaikan harga lebih besar. Sementara itu, segmen entry-level relatif lebih tertahan karena produsen berupaya menjaga keterjangkauan harga.
Dia menambahkan kenaikan harga berpotensi menekan volume penjualan, khususnya di segmen menengah ke bawah yang sangat sensitif terhadap perubahan harga.
Menurutnya, konsumen cenderung menunda pembelian, memperpanjang siklus penggantian ponsel, atau beralih ke merek dan model yang lebih terjangkau. Namun, dampaknya tidak terjadi secara merata.
Heru mengatakan, segmen premium relatif lebih tahan terhadap tekanan tersebut karena konsumennya lebih mengutamakan spesifikasi dan kekuatan merek. Selain itu, kebutuhan digital masyarakat yang terus meningkat masih menjadi penopang permintaan dasar.
“Secara keseluruhan, pasar kemungkinan mengalami perlambatan pertumbuhan, bukan penurunan yang tajam selama kenaikan harga masih dalam batas wajar dan tidak berkepanjangan,” katanya.
Pengguna mengambil gambar smartphone Xiaomi di sebuah pameran
Dari sisi produsen, Heru menilai sejumlah strategi dapat ditempuh, antara lain diversifikasi pemasok chipset, optimalisasi desain produk agar lebih efisien dari sisi biaya, serta perluasan lini produk dengan spesifikasi seimbang dan harga terjangkau. Program cicilan, bundling dengan operator, serta promosi juga dinilai penting untuk menjaga minat beli.
Pemerintah pun dapat berperan melalui pemberian insentif fiskal bagi industri perakitan lokal, percepatan pengembangan industri semikonduktor dalam negeri, serta upaya stabilisasi nilai tukar dan biaya logistik.
“Kolaborasi pemerintah dan industri menjadi kunci agar daya beli tetap terjaga sekaligus mendorong kemandirian rantai pasok jangka panjang,” kata Heru.
Harga Makin Mahal
Sebelumnya, sejak November 2025, manajemen Xiaomi telah memperingatkan potensi kenaikan harga smartphone secara global pada 2026 seiring meningkatnya harga chip memori. Lonjakan harga memori terjadi akibat meningkatnya permintaan dari sektor kecerdasan buatan.
Presiden Xiaomi Lu Weibing menyampaikan tekanan biaya pada industri smartphone diperkirakan akan lebih besar pada 2026 dibandingkan 2025.
“Secara keseluruhan, konsumen kemungkinan akan melihat kenaikan harga ritel produk yang cukup signifikan. Sebagian tekanan mungkin harus diatasi melalui kenaikan harga, tetapi kenaikan harga saja tidak akan cukup untuk menyerap seluruh tekanan tersebut,” kata Lu Weibing, dikutip dari laman GSM Arena.
Sementara itu, Counterpoint Research memprediksi pengiriman smartphone global akan turun 2,1% pada 2026. Penurunan tersebut dipicu oleh kenaikan biaya komponen yang membebani produsen sekaligus melemahkan daya beli konsumen.
Counterpoint menyebutkan angka tersebut merupakan revisi turun sebesar 2,6 poin persentase dari perkiraan sebelumnya untuk 2026. Pabrikan smartphone asal China seperti HONOR, OPPO, dan vivo diperkirakan mengalami perubahan estimasi terbesar dibandingkan proyeksi awal.
Kenaikan biaya material atau bill of materials (BoM) menjadi faktor utama yang menekan industri. Direktur Riset Counterpoint MS Hwang menjelaskan segmen pasar kelas bawah dengan harga di bawah US$200 atau sekitar Rp3,3 juta menjadi yang paling terdampak.
“Apa yang kita lihat sekarang adalah segmen pasar kelas bawah terkena dampak paling parah, dengan biaya BoM meningkat sebesar 20%-30% sejak awal tahun,” kata Hwang, dikutip dari laman resmi Counterpoint, Rabu (17/12/2025).
Adapun, segmen pasar menengah dan atas juga mengalami tekanan dengan kenaikan harga komponen di kisaran 10% hingga 15%.
Strategi
Sementara itu President of HONOR South Pacific Justin Li mengakui dinamika industri smartphone global saat ini dipengaruhi oleh berbagai tantangan, mulai dari kondisi rantai pasok hingga keterbatasan komponen yang berdampak pada banyak perangkat secara global.
“Situasi ini membuat sebagian pelaku industri perlu menyesuaikan strategi bisnisnya,” kata Justin kepada Bisnis.
Justin mengatakan HONOR akan terus memantau perkembangan pasar secara cermat dan berupaya menjaga agar produk-produknya tetap dapat diakses konsumen dengan nilai yang kompetitif.
Di tengah keterbatasan chip, lanjut Justin, HONOR berfokus pada perencanaan yang matang, optimalisasi rantai pasok, serta pengembangan portofolio produk yang seimbang.
Perseroan melihat kebutuhan pasar secara menyeluruh dan berkomitmen menghadirkan price to value terbaik bagi konsumen di seluruh segmen, mulai dari entry-level hingga premium.
Smartphone Honor
Justin menekankan keputusan terkait produksi dan pengembangan produk selalu didasarkan pada relevansi serta permintaan pasar.
“Sehingga HONOR akan terus berupaya memenuhi kebutuhan konsumen lintas segmen tanpa mengorbankan kualitas dan pengalaman pengguna,” katanya.
Head of PR Xiaomi Indonesia Abee Hakim mengatakan perusahaan tetap berupaya menjaga daya tarik produk dengan menawarkan nilai yang relevan bagi konsumen, termasuk menghadirkan inovasi yang sesuai bagi anak muda maupun seluruh segmen pengguna Xiaomi.
“Value yang ditawarkan sesuai dan paling oke untuk mereka,” kata Abee kepada Bisnis.
Sepanjang tahun ini, Xiaomi memastikan akan terus menghadirkan inovasi yang semakin lengkap di berbagai lini produk. Dari sisi segmentasi, Abee mengungkapkan sejak akhir 2025 ponsel premium Xiaomi menunjukkan animo yang cukup kuat di pasar.
Kendati demikian, untuk 2026 perseroan belum dapat memastikan segmen mana yang akan menjadi pendorong utama permintaan.
“Kami belum tahu. Tujuan Xiaomi di tahun ini akan lebih menghadirkan produk-produk yang semakin inovatif, semakin premium, dan yang dibutuhkan oleh pengguna di Indonesia,” tuturnya.
Head of MX Category Management Samsung Electronics Indonesia Selvia Gofar menyampaikan kenaikan harga semikonduktor memori merupakan isu struktural yang berdampak pada seluruh industri smartphone global.
“Kenaikan harga semikonduktor memori merupakan isu global yang diperkirakan akan berdampak pada seluruh industri, tidak hanya pada Samsung,” kata Selvia kepada Bisnis.
Meski demikian, Selvia menilai Samsung memiliki ketahanan pasokan berkat kemitraan strategis jangka panjang dengan para pemasok. Fondasi kepercayaan tersebut dinilai membantu menjaga stabilitas rantai pasok di tengah fluktuasi harga komponen.
“Samsung berada pada posisi yang relatif kuat dari sisi pasokan berkat kemitraan strategis yang dibangun atas dasar kepercayaan, dan akan terus berupaya meminimalkan dampak terhadap konsumen,” katanya.
Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa penjual komputer di Harco Mangga Dua mengungkapkan tren masyarakat yang ingin merakit PC (komputer) cenderung menurun dalam dua bulan terakhir, karena beberapa alasan mulai dari harga komponen komputer yang semakin mahal dan pergeseran penggunaan komputer di mana laptop tengah diminati.
Salah satunya diungkap oleh Nedia (samaran), di mana peminat PC rakitan cenderung menurun dalam dua bulan terakhir, seiring dengan naiknya harga komponen PC seperti RAM, kartu gravis (VGA), processor, dan lain-lain.
"Iya, sudah 2 bulan yang mau rakit PC menurun, padahal sebelumnya cukup ramai. Apalagi setelah Covid-19, banyak yang tertarik untuk melakukan rakit PC," kata Nedia saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa (11/11/2025).
Ia pun mengungkapkan dua alasan peminat PC rakitan cenderung menurun. Pertama yakni harga komponen yang tak kunjung menurun, malah justru merangkak naik.
"Mungkin karena harga komponen PC ya, kebanyakan kalau yang mau rakit PC kan pengennya spek medium hingga high, itu kalau rakit saja yang medium harus siapin uang minimal Rp 15 juta, harga seperti VGA saja bisa Rp 2 juta-Rp 3 juta, belum RAM, belum processor, processor bisa sampai Rp 4,5 juta, itu yang i5-13500," lanjutnya.
Kedua, Nedia mengungkapkan adanya pola pergeseran penggunaan komputer ke laptop. Hal ini karena banyak masyarakat yang sudah jarang bekerja work from home (WFH), sehingga kebutuhan laptop semakin tinggi.
"Alasan lain sekarang kan sudah banyak yang ngantor lagi, alhasil mereka mulai mencari laptop yang terjangkau, kalau PC kan engga bisa dibawa-bawa, laptop? oh bisa dong, cuma ya harga laptop yang agak bagusan juga lumayan mahal," jelasnya.
Senada dengan Nedia, Rizki (samaran) juga mengungkapkan harga komponen PC turut mempengaruhi minat masyarakat akan PC rakitan.
"Iya, yang mau rakit PC engga sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena harga komponen lagi pada mahal. Misal processor, kalau mau yang sudah bagus di i5 gen 13, itu bisa kena Rp 4 jutaan, i3 gen 13 bisa Rp 3 jutaan, VGA belum, yang RTX spek low-mid saja bisa kena Rp 3 juta, kalau yang spek high bisa lebih, RAM belum, yang DDR5 16 gigabyte saja bisa kena Rp 1 juta, belum casing PC, monitor, keyboard, mouse," kata Rizki.
Rizki mengungkapkan harga komponen sempat turun, tetapi penurunannya tidak signifikan. Bahkan dalam sebulan terakhir, sudah kembali mengalami kenaikan.
"Biasanya memang kalau menjelang akhir tahun, harga processor, VGA, RAM, dan lain-lain lumayan mahal, ini juga mungkin lagi mahal karena bahan baku, ya chip lah lagi susah katanya," terangnya.
Foto: Seorang pengunjung berjalan melewati kios-kios sentra komputer dan komponen pendukung di Harco Mangga Dua, Jakarta Utara, Selasa (11/11/2025) tampak mulai sepi tak seramai dahulu. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Seorang pengunjung berjalan melewati kios-kios sentra komputer dan komponen pendukung di Harco Mangga Dua, Jakarta Utara, Selasa (11/11/2025) tampak mulai sepi tak seramai dahulu. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Selama beberapa tahun terakhir, biaya komponen seperti semikonduktor dan chip memori telah meningkat karena kekurangan pasokan dan gangguan dalam perdagangan global. Biaya ini telah dibebankan kepada konsumen, membuat PC lebih mahal dari sebelumnya.
Hal ini terutama terlihat pada model berkinerja tinggi, di mana biaya komponen merupakan bagian yang signifikan dari harga akhir.
Pasar PC juga terpukul keras oleh pesatnya peningkatan perangkat alternatif, seperti ponsel pintar dan tablet. Perangkat ini dapat menjalankan banyak tugas yang sama dengan yang dapat dilakukan PC seperti browsing, streaming, dan komunikasi, dengan harga yang jauh lebih murah.
Bagi banyak konsumen, PC berperforma tinggi tidak lagi diperlukan saat tablet atau ponsel pintar dapat memenuhi kebutuhan komputasi dasar mereka.
Uang yang Harus Disiapkan Untuk Merakit PC
Tentunya, uang yang harus disiapkan untuk merakit PC atau komputer dengan spesifikasi medium hingga tinggi, perlu menyiapkan dana hingga belasan juta. Itupun belum termasuk komponen pendukung seperti monitor, keyboard, mouse, dan speaker.
Meski begitu, ada beberapa toko di Harco Mangga Dua yang menawarkan paket rakit PC dengan harga Rp 15 jutaan. Spesifikasinya tergolong medium hingga semi tinggi, seperti processor menggunakan i3 gen 12, RAM sudah mencapai 16 GB, VGA menggunakan NVIDIA RTX 3020, dan lain-lain. Ada juga yang sudah termasuk keyboard standar dan mouse standar.
Jika ingin memiliki spesifikasi PC cukup tinggi, maka tentunya perlu menyiapkan dana hingga Rp 20 jutaan. Hal ini karena semakin tinggi spesifikasinya, maka semakin mahal komponennya.
Contoh lain yakni spesifikasi PC menggunakan processor Intel Core i7-13620H, VGA menggunakan NVIDIA RTX 3050 Dual 6 gb DDR6, RAM 16 gb DDR5, dan memory internal menggunakan SSD 1 TB, bisa mencapai Rp 16,3 juta. Itupun baru komponen utama PC, belum termasuk monitor, keyboard, dan mouse.
Produsen smartphone seperti HONOR, Xiaomi, dan Samsung menghadapi tantangan kenaikan harga komponen akibat kelangkaan semikonduktor. Mereka berupaya menjaga margin dengan strategi inovasi dan efisiens [49] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Produsen smartphone memutar otak untuk menyajikan produk terbaru yang relevan dengan masyarakat di tengah keterbatasan semikonduktor atau cip. Pabrikan HP berupaya untuk tetap menjaga pertumbuhan bisnis di tengah kondisi ini.
HONOR Indonesia menjadi salah satu vendor yang merespons isu kenaikan harga smartphone di pasar Tanah Air.