SEBAGAI negara tropis, atap di Indonesia bukan sekadar penutup rumah. Ia adalah perisai pertama dari panas, hujan, dan perubahan iklim.
Saat pemerintah menggulirkan Program Gentengisasi Nasional, yaitu penggantian atap seng atau logam menjadi genteng, khususnya genteng dari tanah liat, yang disentuh dari implementasi program ini bukan hanya fisik bangunan, tapi juga kualitas hidup jutaan rumah tangga.
Program ini bukan urusan teknis perumahan semata. Ia adalah intervensi negara hingga lapisan paling mikro: ruang keluarga, kamar tidur, dapur tempat asap dan panas sering terperangkap.
Gentengisasi menjadi simbol pembangunan yang masuk ke ruang privat warga, mendekatkan budaya pada hunian yang lebih sejuk, lebih layak, dan lebih bermartabat.
Ketika Atap Industri Semakin Efisien
Dalam lima tahun terakhir, lanskap atap rumah tangga Indonesia perlahan berubah. Data Statistik Kesejahteraan Rakyat 2025 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa penggunaan genteng sebagai bahan utama atap terluas mengalami penurunan.
Pada 2020, persentasenya masih 55,97 persen. Namun, pada 2023 turun menjadi 55,26 persen, 54,94 persen pada 2024, dan kembali menyusut menjadi 54,24 persen pada 2025.
Penurunan ini memang tidak drastis, tetapi konsisten selama tiga tahun terakhir.
Pada saat yang sama, beberapa jenis atap berbasis industri justru menunjukkan tren kenaikan. Atap beton meningkat dari 2 persen pada 2024 menjadi 2,27 persen pada 2025.
Seng naik dari 32,63 persen menjadi 33,10 persen. Asbes juga naik dari 9,68 persen menjadi 9,75 persen.
Data ini berbicara tentang dua hal sekaligus. Pertama, terjadi pergeseran preferensi rumah tangga dari material tradisional ke material yang diproduksi industri.
Kedua, atap berbasis manufaktur semakin terjangkau dan efisien sehingga mampu memperluas pangsa pasarnya.
Material seperti seng, asbes, maupun panel beton diproduksi secara massal dengan teknologi pabrik yang efisien.
Skala produksi besar menurunkan biaya per unit, memperpendek waktu pemasangan, serta mempermudah distribusi ke berbagai wilayah.
Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah dan menengah, faktor harga dan kecepatan pemasangan menjadi pertimbangan utama.
Seng, misalnya, relatif ringan, mudah diangkut, dan tidak memerlukan struktur rangka berat. Beton pracetak menawarkan ketahanan dan kesan modern. Semua ini tersedia dalam jaringan distribusi nasional yang semakin merata.
Menggerakkan Industri
Gentengisasi dirancang bukan sebagai proyek distribusi material, melainkan sebagai ekosistem ekonomi desa.
Indonesia memiliki sentra produksi genteng tanah liat yang telah berakar puluhan tahun, seperti Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Meski faktanya, Jawa Barat bukanlah yang terbanyak.
Data Statistik Potensi Desa tahun 2018 memberi gambaran, desa-desa yang memiliki produk unggulan yang ada pengrajin memproduksi genteng tersebar di 11 Provinsi, 3 tertinggi di Jawa Timur sebanyak 62 desa, Jawa Tengah 52 desa, dan Jawa Barat 13 desa.
Lainnya di Lampung, Sumatera selatan, Nusa Tenggara Barat, DI Yogyakarta, Bali, Banten, Jambi, Kalimantan Tengah, di mana masing-masing di bawah 10 desa.
Sentra dan produk unggulan semacam ini bertahan melalui kerja keluarga dan UMKM. Ketika negara menghadirkan kepastian permintaan (demand certainty), pengrajin memiliki alasan untuk meningkatkan kapasitas, berinvestasi pada teknologi pembakaran yang lebih efisien, hingga memperluas jaringan distribusi.
Di atas kertas, gentengisasi tampak seperti angin segar bagi industri rakyat. Permintaan meningkat, pasar terbuka, dan desa-desa pengrajin seolah mendapat kepastian masa depan.
Namun di balik optimisme itu, tersimpan satu kegelisahan yang tak boleh diabaikan: ketika kebijakan menciptakan pasar besar dan stabil, yang paling siap menangkapnya sering kali bukan usaha rumahan, melainkan industri besar.
Produksi genteng tanah liat pada dasarnya bukan teknologi yang sulit ditiru. Ia tidak memerlukan hak paten canggih, bukan pula inovasi eksklusif yang hanya dikuasai satu dua sentra tradisional seperti Jatiwangi.
Prosesnya, pengolahan tanah liat, pencetakan, pengeringan, pembakaran, sangat mungkin direplikasi dalam skala besar dengan mesin modern, tungku efisien berbahan bakar gas, dan sistem distribusi nasional.
Ketika permintaan dijamin oleh negara, insentif ekonomi bagi korporasi untuk masuk ke sektor ini menjadi sangat kuat.
Industri besar memiliki keunggulan skala. Mereka mampu membeli bahan baku dalam jumlah besar, mengakses pembiayaan murah, mengotomatisasi proses produksi, dan menekan biaya per unit hingga lebih rendah dari pengrajin tradisional.
Sertifikasi mutu dan standar nasional bisa mereka penuhi dengan cepat karena memiliki laboratorium uji dan tim teknis internal.
Sementara itu, usaha rumahan yang bergantung pada tenaga keluarga dan pembakaran tradisional harus berhadapan dengan kenaikan biaya energi, keterbatasan modal kerja, dan daya tawar yang lemah di pasar distribusi.
Atap Krusial
Secara akademis, atap adalah elemen bangunan yang paling terdampak radiasi surya. Berbagai studi menunjukkan bahwa atap berkontribusi sekitar 50–70 persen dari total panas yang masuk ke dalam rumah.
Seng, walau murah dan praktis, menyerap panas tinggi dan memantulkannya ke dalam ruang, menciptakan efek oven pada siang hari.
Sebaliknya, genteng tanah liat memiliki sifat alami meredam panas dan memungkinkan sirkulasi udara mikro di sela-selanya. Kenyamanan termal meningkat tanpa harus mengandalkan pendingin ruangan.
Penelitian komparatif oleh Tun dkk, dengan judul Cooling the cities: A comprehensive review of urban heat island mitigation strategies in Southeast Asia mengenai cool roof thermal performance menunjukkan bahwa penggunaan material atap yang tepat dapat menghemat energi pendinginan antara 15 persen hingga 35,7 persen, tergantung zona iklim.
Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, penghematan ini berarti pengurangan beban listrik bulanan.
Lebih jauh lagi, hunian yang lebih sejuk secara pasif meningkatkan kualitas tidur, produktivitas, dan kesehatan lingkungan rumah tangga.
Gentengisasi, dengan demikian, bukan sekadar proyek fisik, lebih pada intervensi kesehatan publik.
Di beberapa negara, atap diintegrasikan ke dalam strategi efisiensi energi dan mitigasi perubahan iklim.
Di Singapura, standar BCA Green Mark mendorong penggunaan cool roofs dan green roofs untuk mengurangi efek Urban Heat Island.
Di India, kota-kota seperti Hyderabad dan Ahmedabad menjalankan program cool roof dengan pelapisan reflektif pada atap beton atau tradisional.
Hasilnya, suhu dalam ruangan dapat turun 2–5 derajat celcius. Angka yang signifikan bagi rumah tangga miskin yang tidak memiliki AC.
Di California, regulasi nilai albedo (reflektivitas) atap diterapkan ketat untuk bangunan residensial dan komersial. Atap bukan lagi pilihan estetika, tetapi standar efisiensi energi.
Akhirnya, keberhasilan gentengisasi tak boleh diukur dari banyaknya atap yang tertutup, melainkan dari dampaknya: apakah rumah benar-benar lebih aman dan nyaman, apakah industri desa dan koperasi ikut tumbuh, apakah standar mutu (SNI) ditegakkan adil, serta apakah kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan dijaga.
Gentengisasi akan menjadi penanda kemajuan hanya bila ia menumbuhkan ekosistem ekonomi rakyat, bukan justru membuka peluang dengan memperluas pasar industri besar yang ujungnya menghancurkan pengrajin desa setempat.
Karena membangun negeri bukan hanya soal atap yang terpasang, tetapi juga tentang siapa yang berdiri tegak di bawahnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang