Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina New & Renewable Energy atau Pertamina NRE bersama IDXCarbon, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., dan Jejakin mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam gaya hidup rendah karbon, melalui langkah yang sederhana, terukur, dan dapat diakses secara luas.
Kali ini, Pertamina NRE menerbitkan kredit karbon dari proyek yang berbeda, yakni pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang dikelolanya.
Kredit karbon ini berkontribusi dalam bentuk aksi kampanye bersama pengurangan emisi karbon melalui Livin’ Planet dalam aplikasi Livin’ by Mandiri, milik Bank Mandiri. Kampanye ini juga menggandeng Jejakin dalam perhitungan karbonnya.
Melalui kampanye ini, masyarakat khususnya pengguna Livin’ by Mandiri diperkenalkan pada konsep carbon offset, yaitu mekanisme kompensasi atas emisi karbon yang dihasilkan dengan pembelian kredit karbon yang mendukung proyek-proyek penurunan emisi yang telah terverifikasi.
A.A.A. Indira Pratyaksa, Direktur Sumber Daya Manusia & Penunjang Bisnis Pertamina NRE, menjelaskan bahwa kampanye ini mengaitkan langsung antara aksi individu dan dampak nyata di lapangan.
“Ketika seseorang melakukan offsetting, sesungguhnya dia sedang mendukung proyek nyata seperti pengolahan limbah menjadi energi di Sei Mangkei. Di situlah esensi dari transisi energi, bagaimana setiap langkah kecil dapat dikonversi menjadi dampak lingkungan dan sosial yang berkelanjutan,” ujar Indira dalam keterangannya, dikutip Senin (27/4/2026).
Sebagai gambaran, ajakan yang mendorong partisipasi masyarakat untuk bergaya hidup rendah karbon tersebut diluncurkan melalui kampanye ‘AKU NET-ZERO HERO’ pada Rabu (22/04/26) di Gedung Bursa Efek Indonesia.
Di sisi lain, Pertamina NRE sebagai pionir perdagangan kredit karbon di IDXCarbon pertama kali memperdagangkan kredit karbonnya yang bersumber dari proyek pembangkit lisrik tenaga panas bumi area Lahendong unit 5 dan 6.
Sementara itu, peluncuran kampanye ‘AKU NET-ZERO HERO’ juga menjadi bagian dari upaya memperluas literasi publik terkait dengan pasar karbon sekaligus membangun ekosistem yang inklusif dan kredibel.
Dengan menghadirkan akses yang lebih luas kepada masyarakat, kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong partisipasi aktif publik dalam menjawab tantangan global menuju target Net Zero Emission Indonesia 2060.
Adapun, PLTBg Sei Mangkei memiliki kapasitas sebesar 2,4 Megawatt (MW) dan mengolah palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit (POME) untuk menjadi energi listrik, sehingga turut berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas metana secara signifikan.
Proyek ini mencerminkan bagaimana solusi berbasis energi bersih tidak hanya berkontribusi pada penurunan emisi, tetapi juga menghadirkan nilai tambah ekonomi serta keberlanjutan di tingkat operasional.
“Perubahan iklim bukan lagi isu jangka panjang, dampaknya sudah kita rasakan hari ini. Karena itu, aksi harus dimulai sekarang dan melibatkan semua pihak. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan solusi yang membuat kontribusi individu menjadi lebih mudah, terukur, dan terhubung langsung dengan dampak nyata di lapangan,” kata Indira.