Bisnis.com, MALANG — Kegiatan edukasi dan literasi keuangan yang telah dilaksanakan sebanyak 100 kegiatan sejak 1 Januari hingga 30 September 2025 yang menjangkau 30.966 peserta.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Farid Faletehan, mengatakan pihaknya secara berkelanjutan berupaya untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan salah satunya melalui kegiatan edukasi.
"Dalam rangka meningkatkan inklusi keuangan secara masif di Indonesia, OJK bersama Pelaku Usaha Jasa Keuangan, asosiasi, dan stakeholders kembali menyelenggarakan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025," kata Farid Faletehan.
Kick-off BIK 2025 OJK Malang berupa penyelenggaraan Seminar Financial Literacy for Youth di Samantha Krida, Universitas Brawijaya pada Senin (6/10/2025).
Acara yang diikuti oleh lebih dari 1.000 mahasiswa se-Malang Raya, Pasuruan, dan Probolinggo tersebut juga diselenggarakan dalam rangka World Investor Week (WIW) 2025.
WIW adalah kampanye global tentang pentingnya pelaksanaan edukasi dan perlindungan investor selama satu pekan di bulan Oktober.
WIW diikuti serentak oleh negara anggota IOSCO C8 yang didukung oleh 118 anggota jurisdiksi dan 14 organisasi internasional. Pada tahun ini, WIW jatuh pada tanggal 6-12 Oktober 2025.
Dari sisi layanan konsumen, sampai dengan 30 September 2025, OJK Malang telah menerima 1.792 permintaan layanan konsumen atau naik 42,34 persen dari posisi yang sama tahun sebelumnya.
Dari permintaan layanan konsumen tersebut, sebanyak 710 layanan berdasar dari sektor perbankan dengan topik layanan terbanyak terkait SLIK (24,31%); 333 layanan berasal dari perusahaan fintech lending dengan topik layanan terbanyak terkait fraud eksternal berupa penipuan, pembobolan rekening, skimming, dan cyber crime (29,13%); 297 layanan terkait perusahaan pembiayaan dengan topik layanan terbanyak terkait SLIK (25,25%); dan seterusnya.
OJK Malang menerima 241 permintaan layanan konsumen terkait aktivitas keuangan ilegal, di mana 57,26% di antaranya terkait masyarakat yang terjebak pinjaman online ilegal.
Menurutnya, perusahaan fintech lending yang berizin perlu diperbarui dan dipublikasikan secara berkala di situs resmi OJK.
Masyarakat dapat langsung mengecek legalitas lembaga jasa keuangan melalui layanan konsumen OJK via WhatsApp 081157157157.
Dalam upaya pemberantasan kegiatan keuangan ilegal, sejak 1 Januari hingga 21 September 2025, OJK secara nasional telah menerima 16.685 pengaduan terkait entitas tidak resmi.
Dari total tersebut, 13.313 pengaduan mengenai pinjaman online ilegal dan 3.372 pengaduan terkait investasi ilegal.
Selain itu, Satgas PASTI memonitor laporan penipuan yang disampaikan masyarakat di Indonesia kepada Indonesia Anti Scam Centre (IASC) dan menemukan sebanyak 22.993 nomor kontak yang dilaporkan oleh korban penipuan.
Menindaklanjuti hal tersebut, Satgas PASTI telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital RI untuk menganalisis dan melakukan pemblokiran nomor jika terbukti digunakan dalam upaya penipuan.
Sejak peluncuran pada November 2024 sampai dengan 21 September 2025, IASC atau Pusat Penanganan Penipuan Transaksi Keuangan menjadi wadah untuk mendukung komitmen nasional dalam pemberantasan scam dan fraud.
IASC telah menerima 264.781 laporan yang terdiri dari 158.895 laporan disampaikan oleh korban melalui Pelaku Usaha Sektor Keuangan (bank dan penyedia sistem pembayaran) yang kemudian dikoordinasikan penanganannya melalui sistem IASC dan 105.796 laporan yang langsung disampaikan korban ke sistem IASC.
Jumlah rekening yang dilaporkan terkait penipuan sebanyak 424.808 dan jumlah rekening yang sudah diblokir sebanyak 84.539.
Sejauh ini, total kerugian dana yang telah dilaporkan sebesar Rp5,6 triliun dan total dana korban yang sudah diblokir sebesar Rp353,5 miliar.
"IASC akan terus meningkatkan kapasitasnya mempercepat penanganan kasus penipuan di sektor keuangan," kata dia.
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai sosialisasi secara masif yang dilakukan oleh OJK melalui berbagai event yang menyasar berbagai kalangan, khususnya generasi milenial dan gen Z dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
"Hal ini tampak dari kesadaran dan keberanian masyarakat dalam melaporkan tindak scamming pembiayaan maupun pinjol ilegal pada layanan konsumen OJK. Informasi masyarakat ini sangat berguna untuk tindakan cepat dari Satgas PASTI dalam menindak aktivitas ilegal tersebut," ucap Joko, Senin (13/10/2025).
Literasi keuangan yang terus meningkat juga akan menghindarkan masyarakat pada jebakan berbagai modus scamming pembiayaan.
Selain itu, literasi keuangan turut membantu masyarakat untuk pemanfaatan kredit konsumsi dengan bijak dan meningkatkan preferensi investasi.