#30 tag 24jam
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Delegasi tim nasional sepak bola Iran akan dilindungi dengan langkah-langkah keamanan yang ketat di Meksiko. Saat delegasi Iran bersiap untuk pindah ke kota Tijuana,... | Halaman Lengkap [999] url asal
#piala-dunia #piala-dunia-2026 #iran #fifa-piala-dunia #meksiko
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/06/26 23:20
v/249861/
TIJUANA - Delegasi tim nasional sepak bola Iran akan dilindungi dengan langkah-langkah keamanan yang ketat di Meksiko. Saat delegasi Iran bersiap untuk pindah ke kota Tijuana, Meksiko, untuk mendirikan kamp pelatihan Piala Dunia mereka.Menurut laporan, 300 pasukan khusus Meksiko ditugaskan oleh FIFA untuk memastikan keamanan delegasi tim nasional Iran. Pasalnya, Tijuana dikenal sebagai salah satu kota yang cukup berbahaya karena dikuasai kartel narkoba terkenal.
Sebelumnya, kamp tim nasional Iran dijadwalkan akan diadakan di kota Tucson di negara bagian Arizona, tetapi karena halangan dari pemerintah AS, Federasi Iran memilih kota perbatasan Meksiko, Tijuana, sebagai gantinya.
Sekarang, L’Équipe melaporkan bahwa beberapa hari sebelum kedatangan tim nasional Iran di kamp mereka, suasana di Tijuana telah menjadi sangat aman.
Keamanan delegasi tim nasional Iran tidak hanya dijamin oleh Garda Nasional dan militer Meksiko, tetapi FIFA juga mengirimkan sejumlah besar agen keamanan ke Meksiko untuk menjaga keselamatan tim Iran.
Melansir The Guardian, pasukan elite itu berpatroli di jalan-jalan sekitar Stadion Caliente, dikendarai oleh pria-pria berhelm dan bermasker serta membawa senapan mesin. Mereka melewati pintu masuk utama setiap beberapa jam, menjaga blok kota besar, yang biasanya dipenuhi mobil dan kabut asap, yang telah dijadikan rumah sementara, dan sebagian besar darurat, oleh tim nasional Iran untuk Piala Dunia ini.
Ini telah menjadi hal biasa di sini, di barat laut Meksiko, di arena yang dibenci oleh sebagian besar tim di liga domestik karena jaraknya dari pusat-pusat sepak bola lainnya di negara itu dan permukaan lapangan rumput sintetisnya yang buruk.
Tim tersebut awalnya dijadwalkan untuk tetap berada sekitar 400 mil dan satu perbatasan internasional jauhnya, di Tucson, Arizona, di Kompleks Olahraga Kino yang luas; fasilitas tingkat profesional dengan banyak lapangan. Rencana tersebut dibatalkan secara tergesa-gesa beberapa minggu setelah AS dan Israel melancarkan serangan mereka terhadap Iran, yang menewaskan kepala negara dan beberapa pemimpin puncak negara itu. Lokasi sekarang, di tengah Tijuana yang ramai, berada di hilir dari agresi, ancaman, dan kebijakan yang tak terhitung jumlahnya.
Staf yang bekerja untuk Club Tijuana baru diberitahu tentang perpindahan tim dua minggu lalu dalam panggilan dengan FIFA. Sejak itu, mereka telah bekerja 18 jam sehari untuk mempersiapkan lapangan latihan bagi salah satu tim terbaik Asia – kompleks tersebut hanya memiliki satu lapangan dengan rumput alami. Itu belum termasuk masalah logistik. Akses masuk ke fasilitas tersebut dikontrol dengan ketat. Identitas diperiksa, diperiksa ulang, dan diperiksa lagi. Meskipun tim menginap di hotel terdekat, situasi politik menuntut keamanan yang sangat ketat. Oleh karena itu, ada senapan mesin, keamanan yang ketat, kurangnya informasi tentang waktu latihan, lokasi syuting, dan siapa, jika ada, yang akan berbicara tentang situasi luar biasa terbaru yang dialami tim.
Hampir satu-satunya penduduk yang menyambut Iran dengan tangan terbuka adalah warga Meksiko. Para staf klub Tijuana, meskipun jelas stres dengan perubahan rencana yang tiba-tiba, telah melakukan segala upaya untuk membuat para pemain merasa seperti di rumah – sebuah spanduk besar di sekitar lapangan bertuliskan “Cheetah Iran, selamat datang di Tijuana” dalam bahasa Farsi. Para penggemar Meksiko berkumpul di luar hotel tim, mengantar mereka dalam perjalanan singkat menuju sesi latihan dengan sorak-sorai dan permintaan tanda tangan.
“Saya malu dengan apa yang dilakukan Amerika Serikat,” kata seorang penggemar kepada Agence France-Presse.
“Itu salah... [Amerika Serikat] memperlakukan semua orang seperti teroris,” kata penggemar lainnya.
Ketika mereka pindah ke Los Angeles untuk konferensi pers yang diwajibkan FIFA pada hari Minggu, mereka akan melakukannya tanpa 15 anggota staf pendukung, seorang pejabat federasi mengkonfirmasi, termasuk seluruh departemen operasi media mereka. Ketika ditanya siapa yang akan menjalankan konferensi pers dan mengelola akses potensial ke para pemain setelah pertandingan pembuka Piala Dunia melawan Selandia Baru, pejabat tersebut berspekulasi bahwa itu mungkin harus dilakukan oleh petugas perlengkapan.
Saat ini, federasi hanya memberikan sedikit cuplikan tim yang menjadi sorotan, terlebih lagi sekarang dibandingkan saat-saat sebelumnya mereka mengikuti Piala Dunia. Tidak ada pemain yang akan berbicara, karena tidak banyak yang bisa mereka dapatkan jika mereka melakukannya.
Di dalam negeri, rezim itu sendiri dan para pendukungnya akan menyerang setiap penghinaan yang dirasakan pada saat bangsa sedang mencari persatuan. Di antara diaspora, lawan rezim akan mengkritik tim karena mewakili penindasan yang telah mereka hindari. Di tengah-tengah, ada orang-orang Iran yang hanya ingin melihat tim berprestasi, karena mereka adalah pemain sepak bola yang bermain di turnamen sepak bola, dan sepak bola membawa kegembiraan bagi bangsa yang sangat tergila-gila pada olahraga ini. Para pemain berada dalam situasi yang serba salah; terjebak dalam rawa politik dan budaya di mana satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan tidak bergerak sama sekali.
Namun para pemain Iran tetap bergerak. Hari ini adalah sesi pemulihan ringan, dengan tim memulihkan diri dari kemenangan 3-0 kemarin atas tim U-21 Klub Tijuana, tuan rumah mereka. Ini adalah kompetisi terbaik yang dapat mereka hadapi saat ini, mengingat negara mereka dianggap sebagai negara terpinggirkan di panggung internasional dan karenanya tampak berbahaya bagi tim-tim yang mencari ujian berat melawan tim berpengalaman yang telah lolos ke Piala Dunia keempat berturut-turut. Pertandingan persahabatan yang direncanakan melawan negara Karibia, Grenada, tiba-tiba dibatalkan, sehingga perlu untuk bermain melawan tim U-21 tersebut.
Pada tahun 2022, Iran bermain di Qatar di tengah protes yang sedang berlangsung di negara tersebut atas kematian Mahsa Amini, seorang wanita Iran yang ditangkap karena mengenakan hijab yang tidak pantas dan kemudian meninggal dalam tahanan. Pada pertandingan pertama dari tiga pertandingan di Timur Tengah tersebut, para penggemar Iran menggunakan kesempatan itu untuk meneriakkan seruan perjuangan saat itu: Wanita, Kehidupan, Kebebasan. Selama dua pertandingan berikutnya, suasana penonton berubah, dilaporkan diawasi dari dalam oleh ratusan anggota IRGC yang dikirim dari seberang lautan.
Penolakan visa kepada banyak pejabat Iran membuat pemandangan serupa tidak mungkin terjadi kali ini. Namun, ini adalah tim yang tidak mendapat dukungan dari seluruh rakyat Iran, dan terutama bukan dari diaspora yang di AS berpusat di wilayah Los Angeles, tempat tim akan memainkan dua dari tiga pertandingan grup mereka. Ada perpecahan di dalam perpecahan yang hampir melekat pada penggemar ini, meskipun FIFA akan berpura-pura tidak ada, dan bahwa penampilan tim ini di ajang bergengsi dunia semata-mata tentang sepak bola.
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
Turnamen sepak bola terbesar di planet bumi, FIFA World Cup atau Piala Dunia selalu dipromosikan kepada kota-kota penyelenggara sebagai jackpot ekonomi, bagaimana... | Halaman Lengkap [1,077] url asal
#piala-dunia #dampak-ekonomi #fifa-piala-dunia #piala-dunia-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 11/06/26 20:51
v/247705/
JAKARTA - Turnamen sepak bola terbesar di planet bumi, FIFA World Cup atau Piala Dunia selalu dipromosikan kepada kota-kota penyelenggara sebagai 'jackpot' ekonomi. Narasi yang dibangun selalu sama dan menggiurkan, banjir turis asing, hotel-hotel yang penuh sesak, jutaan lapangan kerja baru, serta perputaran uang senilai miliaran dolar.Namun menjelang peluit kick-off pertama Piala Dunia 2026 dibunyikan, janji manis itu bisa berubah menjadi mimpi buruk finansial. Melambungnya harga tiket, lesunya pemesanan hotel, kebijakan imigrasi yang ketat, serta ketidakpastian ekonomi global kini memicu pertanyaan besar.
Apakah Piala Dunia 2026 kali ini yang diadakan secara bersamaan di tiga negara tuan rumah, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bakal benar-benar mendatangkan keuntungan, atau justru berujung zonk bagi kota-kota di AS dan Kanada?
Kombinasi Visa Macet dan Isu Geopolitik Ancam Sepi Penonton
Salah satu faktor terbesar yang menahan minat penonton internasional untuk datang ke edisi Piala Dunia 2026 kali ini yang menjadi sejarah baru karena diikuti oleh 48 negara (terbanyak sepanjang sejarah) dan terbagi ke dalam 12 grup adalah agenda imigrasi di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.Seperempat Laga Piala Dunia 2026 Berisiko Tinggi
Bahkan pada April lalu, lembaga swadaya masyarakat seperti American Civil Liberties Union (ACLU) secara resmi merilis peringatan bahaya bagi turis asing yang hendak berkunjung ke AS. Sementara itu gelaran pertandingan bakal berlangsung di 16 kota yang tersebar dalam tiga negara.
Tak hanya itu, karut-marut birokrasi visa membuat calon penonton frustrasi. Meskipun pemerintah AS sempat membatalkan aturan deposit jaminan visa senilai USD15.000 bagi pemegang tiket resmi Piala Dunia 2026 pada bulan Mei, namun keterlambatan dalam proses penerbitan visa membuat banyak turis internasional terancam tidak bisa datang tepat waktu.
Situasi ini mengancam tingkat kedatangan wisatawan ke beberapa kota-kota di AS yang menggelar pertandingan yakni New York/New Jersey (tempat laga final), Los Angeles, Dallas, San Francisco Bay Area, Miami, Atlanta, Seattle, Houston, Philadelphia, Kansas City, hingga Boston.
Dampaknya langsung memukul bisnis perhotelan secara ekstrem, saat target hunian meleset jauh. Menurut American Hotel and Lodging Association, 80% tingkat pemesanan hotel berada di bawah ekspektasi. Dimana ada sebanyak 70% pengusaha hotel menunjuk hambatan visa dan kekacauan geopolitik global sebagai penyebab utamanya.
Di New York yang akan menjadi lokasi laga final, pemesanan hotel hanya menyentuh angka 65% dari target. Sementara di Seattle, 80% hotel mencatatkan performa yang jauh lebih sepi dibanding musim panas biasanya.
Kanada yang kebagian dua kota untuk menggelar pertandingan Piala Dunia 2026 yakni Toronto dan Vancouver ikut terimbas. Di luar AS, Kota Vancouver di Kanada juga melaporkan penurunan tingkat hunian kamar yang serupa.
“Meski punya profil global, FIFA tidak menghasilkan permintaan hotel yang luas seperti yang banyak orang harapkan,” kata Asosiasi Hotel British Columbia bulan lalu.
Meski begitu beberapa pejabat kota dan pemimpin bisnis tidak terlalu khawatir bahwa perlambatan ini akan separah yang diperkirakan sebelumnya. Pejabat Kota New York mengatakan, bahwa mereka berharap pemesanan akan kembali ke tingkatan mendekati normal saat turnamen dimulai.
Bersama-sama, kombinasi tekanan itu membuat permintaan perjalanan untuk menyaksikan langsung Piala Dunia 2026 menurun, hingga mengancam mengurangi ledakan ekonomi yang diharapkan oleh penyelenggara dan kota-kota tuan rumah.
"Sekarang orang-orang kurang berminat untuk bepergian dan membayar harga tiket yang tinggi. Saya rasa beberapa masalah geopolitik pasti membuat orang lebih berhati-hati untuk bepergian ke AS dan menghabiskan uang di AS," kata Mike Edwards, profesor manajemen olahraga di North Carolina State University, seperti dilansir Al Jazeera.
Beberapa pemain besar di industri perhotelan masih berharap pada event olahraga besar seperti gelaran Piala Dunia FIFA. CEO Airbnb, Brian Chesky terdengar optimistis usai berharap adanya peningkatan pemesanan untuk turnamen ini dibandingkan dengan acara lain dalam hampir 18 tahun sejarah perusahaan.
Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026
Daftar penginapan dekat stadion di Dallas menjelang pertandingan tanggal 14 Juni dibanderol hampir USD700 untuk menginap dua malam untuk kategori terendah. Sedangkan penginapan di Philadelphia jelang laga 19 Juni dipatok hampir USD300 untuk dua malam pada kategori terendah.
Sementara menjelang final pada 19 Juli di area metropolitan New York City, dekat MetLife Stadium di East Rutherford, New Jersey, Airbnb di sekitar sana dipatok lebih dari USD5.600.
“Pemesanan mulai meningkat karena waktu tunggu lebih pendek jika orang datang secara domestik. Maskapai sepertinya berjalan lancar, tapi saya pikir pasar yang bisa dijangkau dengan mobil juga akan sangat besar di sini,” kata Allison O’Connor, wakil presiden komunikasi di Asosiasi Perjalanan Amerika Serikat.
Harta Tiket Mahal Bikin Dompet Bolong
Tumpuan beralih ke penonton domestik ketika warga lokal AS yang menguasai 70% pemesanan tiket pesawat diharapkan mampu menjadi penyelamat. Namun warga lokal sendiri saat ini sedang tercekik oleh stagnasi lapangan kerja dan inflasi barang pokok, termasuk harga bensin yang melesat ke USD4,16 per galon akibat imbas konflik geopolitik AS-Israel dengan Iran.Namun keluhan terbesar terletak pada sistem dynamic pricing (harga dinamis) yang diterapkan oleh FIFA. Strategi yang dikecam asosiasi suporter sebagai "pemerasan dan pengkhianatan monumental" ini membuat harga tiket melambung ke angka yang tidak masuk akal.
Presiden FIFA Gianni Infantino membela strategi tersebut di Konferensi Milken Institute awal tahun ini. “Kita berada di pasar di mana hiburan paling berkembang di dunia, jadi kita harus menerapkan tarif pasar,” katanya waktu itu.
Berdasarkan pantauan di situs resmi FIFA dan Ticketmaster, tiket untuk kelas paling bawah (nosebleed section) di Dallas saja sudah dibanderol di atas USD800 (Rp14,2 juta dengan kurs Rp17,822) per lembar. Lebih gila lagi, tiket untuk laga final pada 19 Juli mendatang di MetLife Stadium dijual mulai dari USD9.200 (Rp163 juta) hingga bisa menyentuh angka fantastis USD43.553.
Saking parahnya eksploitasi harga ini, Jaksa Agung New York, Letitia James, dan Jaksa Agung New Jersey secara resmi meluncurkan penyelidikan hukum dan melayangkan panggilan pengadilan (subpoena) kepada pihak FIFA atas dugaan manipulasi harga tiket yang mencekik warga lokal.
Beragam kompensasi lokal diberikan, mulai dari nobar gratisan bagi warga yang tidak mampu membeli tiket stadion. Beberapa pemerintah kota bahkan melakukan langkah darurat demi meredam gejolak sosial.
Contohnya New York dengan menyediakan lotre 1.000 tiket murah seharga USD50 (bukan untuk laga final) serta mengadakan acara nonton bareng (watch party) gratis untuk 50.000 orang di Central Park. Beda lagi dengan Atlanta, dimana ada organisasi nonprofit membuat turnamen tandingan bernama "The People's Cup" agar warga miskin tetap bisa merasakan atmosfer sepak bola.
Di sisi lain, beberapa kota mencoba menghibur diri dengan memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk mempercepat proyek infrastruktur jangka panjang yang selama ini terbengkalai. Houston sukses meluncurkan Green Corridor berupa jalur sepeda dan perluasan trem bawah tanah.
Sementara Kansas City menyewa 215 bus tambahan guna meningkatkan akses transportasi publik, meskipun langkah ini sempat memicu kontroversi lokal.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)