Bisnis.com, JAKARTA — Jajaran saham perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo (big caps) dan emiten komoditas berkinerja solid menjadi rekomendasi saham unggulan sekuritas untuk dikoleksi di sisa tahun 2026.
Fokus pemilihan saham unggulan ini bertumpu pada emiten blue chip dengan likuiditas tinggi yang berpotensi menjadi motor penggerak awal aliran modal asing, sekaligus ditopang saham-saham berfundamental kokoh sebagai jangkar.
Strategi tersebut dinilai potensial guna mengoptimalkan keuntungan investasi setelah mengevaluasi perjalanan indeks sepanjang tahun berjalan 2026.
Rekomendasi saham di sisa tahun ini dibayangi momentum evaluasi aksesibilitas pasar oleh MSCI. Dalam penilaian terbaru, MSCI menyoroti kriteria aliran informasi bursa domestik yang diturunkan peringkatnya dari (+) menjadi (-).
Pemeringkat indeks global tersebut menyoroti kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham atau free float, serta adanya indikasi transaksi terkoordinasi yang mengganggu proses pembentukan harga wajar di Indonesia.
Meski demikian, posisi Indonesia dalam klasifikasi pasar saham global dinilai masih aman karena kriteria aksesibilitas lain seperti restriksi aliran modal, infrastruktur perdagangan, dan regulasi pasar masih kokoh di level positif.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menjelaskan bahwa pergerakan indeks di sisa tahun ini akan bergantung pada hasil akhir tinjauan MSCI. Setidaknya ada dua skenario dengan probabilitas terbesar 65%—70% bahwa Indonesia akan tetap dipertahankan dalam status emerging market.
Jika skenario dasar itu terjadi, pasar berpotensi mengalami relief rally 8%—15% yang membawa IHSG menguji level 6.500—7.000 dalam 1—2 bulan ke depan seiring akumulasi asing pada saham-saham big caps yang sudah jenuh jual.
Sebaliknya, jika terjadi penurunan klasifikasi, risiko forced outflow senilai US$8—10 miliar membayangi dan dapat menyeret IHSG ke 5.200—5.500.
“Menjelang pengumuman, posisi barbell adalah yang paling aman, jangan overweight di satu posisi. Setelah ada konfirmasi positif, saham seperti BBCA dan BMRI akan menjadi first mover bagi dana asing, disusul TLKM yang memiliki katalis independen, serta AADI,” ujar Wafi kepada Bisnis.
Wafi menambahkan, jika hasil evaluasi di luar ekspektasi, saham-saham seperti AADI, PTBA, ANTM, dan INDF menjadi pilihan safe harbor karena didukung kinerja profitabilitas yang solid serta tidak terekspos risiko eksklusi indeks.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia memproyeksikan saham-saham big caps yang selama ini menjadi target utama investor global akan menjadi penerima manfaat paling besar jika sentimen pasar positif.
Sektor perbankan diyakini menjadi motor penguatan indeks. Pilihan utama jatuh pada saham-saham dengan bobot besar dan likuiditas tinggi seperti, BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Selain perbankan, saham TLKM, ASII, serta emiten komoditas skala besar berpotensi menangkap arus pemulihan modal asing ini.
Meski demikian, Liza menggarisbawahi bahwa perbaikan indeks global tidak secara otomatis membalikkan arus dana asing secara jangka panjang.
Valuasi saham domestik saat ini diakui sudah cukup murah dan menarik bagi investor global, tetapi konsistensi di dalam negeri tetap menjadi penentu utama.
“Investor tetap akan memperhatikan faktor yang lebih besar, yaitu stabilitas rupiah, disiplin fiskal pemerintah, arah kebijakan ekonomi, kualitas tata kelola, serta kepastian regulasi ke depan,” ucap Liza.
TARGET IHSG
Sementara itu, target IHSG hingga Desember 2026 diperkirakan berada di level 7.200 seiring adanya peluang pemulihan taktikal jangka pendek. Saham BBCA, ISAT, EXCL, ANTM, dan TINS pun direkomendasikan sebagai pilihan utama.
Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan menilai bahwa pasar domestik berpeluang mengalami pemulihan taktikal.
Adapun skenario pemulihan tersebut mulai berjalan setelah indeks komposit sempat menyentuh level terendah 5.337 pada 8 Juni lalu. Realisasi itu mendekat skenario terburuk BRI Danareksa di level 5.200 yang mengasumsikan peringkat utang secara riil, sebelum akhirnya indeks kembali memantul ke area 6.225.
Erindra mencatat aksi jual investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar yang tidak dihapus dari indeks pun mulai melandai sepekan terakhir. Mata uang rupiah juga pulih ke level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat tertekan hingga menyentuh Rp18.200 per dolar AS.
Dari sisi eksternal, premi risiko komoditas minyak dan konflik geopolitik mulai mereda dengan jatuhnya harga minyak mentah jenis Brent ke kisaran rendah US$80 per barel menyusul pemberitaan kesepakatan antara AS dan Iran.
Meskipun demikian, dia menggarisbawahi pemulihan ini masih bersifat taktikal jangka pendek karena sejumlah tantangan mendasar belum sepenuhnya tuntas.
“Kami melihat ini sebagai tactical relief, mengingat risiko fiskal, prediktabilitas kebijakan dan kekhawatiran terhadap peringkat utang negara masih belum terselesaikan,” ungkap Erindra dalam riset yang dipublikasikan Rabu (17/6).
Di tengah anomali harga, BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi overweight inti pada sektor perbankan, telekomunikasi, dan logam.
Pilihan utama jatuh pada saham BBCA yang disematkan rekomendasi beli dengan target harga Rp10.900. Bank swasta terbesar di Indonesia ini dinilai sebagai saham paling aman dari tekanan net interest margin (NIM).
Di sektor telekomunikasi, prospek pertumbuhan bersih ditawarkan oleh ISAT dengan rekomendasi beli dan target harga di Rp3.000, serta EXCL memiliki target harga Rp3.700. Rekomendasi beli juga diberikan kepada ANTM dengan target harga Rp4.800 serta target harga TINS di level Rp4.500 per saham.
Secara keseluruhan, Erindra mempertahankan target IHSG Desember 2026 di level 7.200. Posisi indeks saat ini dinilai telah mengantisipasi skenario terburuk, sehingga arah pergerakan selanjutnya bakal sangat bergantung pada hasil akhir tinjauan aksesibilitas pasar MSCI serta penilaian peringkat utang oleh S&P.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.