Bisnis.com, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan dua spesies ngengat baru yang berasal dari Papua dan Sulawesi. Temuan ini menambah daftar panjang kekayaan serangga Indonesia yang masih terus terungkap melalui riset ilmiah.
Penemuan dua spesies baru ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah. Riset dilakukan melalui survei lapangan di Papua dan Sulawesi pada periode 2002–2017 serta kajian koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor.
Dalam publikasinya, tim peneliti melaporkan adanya dua spesies baru dari famili Crambidae yang memiliki karakter unik. Kedua spesies tersebut ditetapkan sebagai spesies baru berdasarkan perbedaan morfologi yang jelas dibandingkan kerabat terdekatnya.
Berikut dua spesies yang ditemukan oleh BRIN:
- Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah
Spesies ini merupakan satu-satunya anggota genus Glyphodella yang ditemukan di Indonesia dan bersifat endemik Papua, khususnya di Pegunungan Foja. Ngengat ini hidup di hutan tropis primer dan aktif pada malam hari atau nokturnal.
- Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah
Spesies ini endemik Sulawesi dan ditemukan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, serta Sulawesi Utara. Habitatnya berada di hutan sekunder tropis dan juga memiliki aktivitas nokturnal.
Peneliti BRIN, Rosichon Ubaidillah, menjelaskan bahwa identifikasi spesies dilakukan melalui pengamatan detail terhadap ciri fisik, terutama pada pola sayap dan struktur organ reproduksi. Karakter tersebut menjadi penanda penting dalam klasifikasi ngengat.
“Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan, serta struktur genitalia jantan yang berbeda dari spesies kerabatnya. Sementara Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap dan bentuk genitalia yang khas,” ujarnya dikutip dalam laman resmi BRIN, Rabu (4/3/2026).
Dia menambahkan bahwa perbedaan karakter tersebut menjadi dasar utama dalam penetapan spesies baru dalam kajian taksonomi. Menurutnya, perbedaan morfologi yang ditemukan memperlihatkan proses evolusi dan kemampuan adaptasi masing-masing spesies terhadap kondisi habitatnya.
“Karakter morfologi ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi pada masing-masing habitat, baik di Papua maupun Sulawesi,” ungkapnya.
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode perangkap cahaya untuk mengoleksi spesimen di alam. Spesimen yang diperoleh kemudian diamati menggunakan mikroskop dan seluruhnya disimpan serta didokumentasikan sebagai koleksi nasional di MZB.
Penemuan ini menambah data keanekaragaman serangga Indonesia, khususnya kelompok ngengat famili Crambidae. Temuan tersebut juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.
Menurut Rosichon, spesies endemik yang hanya hidup di wilayah tertentu memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan lingkungan. Deforestasi dan degradasi habitat dapat mengancam kelangsungan hidup kedua spesies tersebut.
“Oleh karena itu, diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari,” jelasnya.
Kedepannya, tim peneliti BRIN akan melanjutkan eksplorasi dan kajian biodiversitas serangga di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pendataan, pelestarian, serta pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.