Bisnis.com, JAKARTA — Emiten produsen komponen otomotif PT Indospring Tbk. (INDS) tengah membidik ekspansi pasar ke wilayah Timur Tengah dan Asia Tengah sebagai bagian dari strategi memperluas jangkauan ekspor.
Direktur Indospring Bob Budiono menjelaskan bahwa pasar Timur Tengah memiliki potensi besar yang relevan dengan portofolio produk perseroan. Dia menilai karakteristik pasar di kawasan tersebut memiliki kemiripan dengan pasar domestik Indonesia, terutama pada segmen kendaraan komersial.
“Untuk itu, strategi perseroan tahun ini akan berfokus pada ekspansi ekspor ke wilayah Timur Tengah dan Asia Tengah guna memperkuat pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (7/2/2026). Struktur pendapatan emiten produsen pegas kendaraan tersebut ditopang oleh tiga pilar utama, yakni pasar original equipment manufacturer (OEM) domestik, pasar suku cadang pengganti, serta pasar ekspor.
Adapun diversifikasi, lanjut Bob, turut menjadi landasan perseroan dalam menjaga stabilitas kinerja usaha di tengah fluktuasi ekonomi global.
Sementara untuk pasar domestik, INDS memfokuskan lini produk fastener (U-bolt) pada pasar aftermarket. Perseroan juga membuka peluang investasi baru guna memproduksi fastener non-otomotif sebagai bagian dari diversifikasi bisnis.
Di sisi lain, optimisme perseroan didorong oleh performa keuangan hingga kuartal III/2025 dengan capaian penjualan neto sebesar Rp2,46 triliun. Ke depan, perseroan meyakini permintaan suku cadang akan terus terkerek seiring dengan proyeksi kenaikan penjualan mobil nasional.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai 850.000 unit. Angka itu mencerminkan peningkatan sekitar 5,4% dibandingkan dengan realisasi tahun 2025 yang tercatat sebanyak 803.687 unit.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham INDS kini bertengger di level Rp1.075 per saham hingga perdagangan Jumat (6/2). Harga itu mencerminkan lonjakan sebesar 375,66% sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD).
Kenaikan harga saham ini seturut langkah perseroan memperkuat efisiensi operasional. Pada Desember 2025, INDS mengumumkan transaksi afiliasi berupa pembelian aset dari entitas anak, PT Indobaja Primamurni (IBPM).
Perseroan tercatat menyerap delapan unit mesin dan empat unit komputer bekas senilai Rp3,01 miliar (di luar PPN) guna menunjang produksi.
Untuk 2026, INDS juga mengamankan perjanjian sewa kantor dengan entitas induk, PT Indoprima Investama (IIV) yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai pergerakan harga saham INDS tidak hanya dipicu oleh pengalihan aset, tetapi juga cerminan antisipasi terhadap potensi pembagian dividen dan re-rating valuasi.
“Investor cenderung mengantisipasi pembagian dividen dan re-rating valuasi saham, mengingat semester I/2026 terdapat beberapa sentimen positif seperti rilis laporan keuangan, dividen, dan pemulihan sektor otomotif,” ujar Wafi.
Sementara itu, respons pasar juga didorong oleh rekam jejak perseroan dalam membagikan keuntungannya. Pada tahun lalu, INDS tercatat menebar dividen tunai sebesar Rp52,49 miliar atau setara dengan Rp8 per saham.
Selain itu, manajemen perseroan juga menyisihkan cadangan wajib sebesar Rp1,5 miliar dan membukukan saldo laba senilai Rp15,59 miliar.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.