Jakarta (ANTARA) - Pakaian adalah benda yang paling dekat dengan tubuh manusia, namun sering kali paling jarang dipikirkan secara mendalam.
Ia dikenakan setiap hari, menyertai aktivitas sosial, pekerjaan, dan peristiwa penting dalam hidup, tetapi kerap diperlakukan sebagai sesuatu yang mudah diganti dan dilupakan. Di balik kebiasaan berpakaian tersebut, sesungguhnya tersimpan persoalan yang lebih besar tentang bagaimana kita memaknai desain, nilai guna, dan keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ekonomi kreatif Indonesia, fesyen menempati posisi strategis. Sektor ini tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, tetapi juga menjadi medium ekspresi budaya dan identitas bangsa.
Namun, tantangan yang dihadapi industri fesyen, hari ini, bukan semata-mata soal daya saing global atau inovasi visual, melainkan bagaimana desain busana dapat berkontribusi secara berkelanjutan bagi masyarakat dan masa depan ekonomi kreatif nasional.
Keberlanjutan dalam desain busana sering kali dipahami secara sempit sebagai persoalan bahan atau teknologi produksi. Padahal, keberlanjutan juga sangat ditentukan oleh bagaimana sebuah pakaian dirancang untuk digunakan, dirawat, dan dipertahankan dalam jangka panjang.
Pakaian yang memiliki kualitas konstruksi baik, fungsi yang jelas, serta estetika yang tidak cepat usang akan cenderung digunakan lebih lama oleh pemakainya. Dengan kata lain, memperpanjang usia pakaian merupakan salah satu pendekatan paling mendasar dalam desain busana berkelanjutan.
Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran dalam konsep slow fashion, yang menekankan perubahan relasi antara manusia dan pakaian. Kate Fletcher (2010), menjelaskan bahwa fesyen berkelanjutan menuntut pergeseran cara pandang dari konsumsi cepat menuju hubungan yang lebih sadar, personal, dan bertanggung jawab terhadap pakaian yang dikenakan. Pakaian tidak lagi dilihat sebagai produk sesaat, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki nilai guna dan makna berkelanjutan.
Indonesia, sesungguhnya memiliki landasan budaya yang kuat untuk mengembangkan pendekatan ini. Dalam tradisi busana Nusantara, pakaian tidak dirancang untuk penggunaan singkat. Kain batik, tenun, dan songket dibuat dengan ketelitian tinggi, digunakan berulang kali, serta sering kali diwariskan lintas generasi.
Sebuah kain, bahkan dapat mengalami perubahan fungsi, sesuai dengan siklus hidup pemakainya, tanpa kehilangan nilai estetika maupun simboliknya. Praktik ini menunjukkan bahwa memperpanjang usia pakaian telah lama menjadi bagian dari kebudayaan berpakaian masyarakat Indonesia.
Hanya saja, dinamika industri fesyen modern membawa tantangan tersendiri. Arus tren global yang bergerak cepat mendorong perubahan selera dan kebiasaan berpakaian. Pakaian semakin diposisikan sebagai penanda gaya sesaat, bukan sebagai benda yang dirancang untuk bertahan.
Dalam konteks ini, peran desain busana menjadi sangat penting. Desainer tidak hanya dituntut menciptakan bentuk yang menarik, tetapi juga memikirkan bagaimana pakaian tersebut akan digunakan dalam jangka waktu yang panjang dan beragam konteks kehidupan.
Penelitian Chapman (2005) menunjukkan bahwa keterikatan emosional antara pengguna dan produk berpengaruh besar terhadap lamanya suatu produk dipertahankan. Dalam desain busana, keterikatan ini dapat dibangun melalui kenyamanan, fleksibilitas penggunaan, kemudahan perawatan, serta narasi budaya yang melekat pada pakaian. Ketika pakaian memiliki relevansi personal dan kultural, pemakainya cenderung lebih menghargai dan mempertahankannya.
Dari titik ini, diskursus desain busana berkelanjutan tidak dapat berhenti pada persoalan estetika dan relasi emosional semata. Ia beririsan langsung dengan model ekonomi yang menopang industri fesyen itu sendiri.
Pendekatan memperpanjang usia pakaian menuntut perubahan mendasar dalam model ekonomi fesyen Indonesia. Selama ini, sebagian pelaku industri masih bertumpu pada produksi massal dengan margin tipis dan siklus tren cepat. Desain busana berkelanjutan justru mendorong pergeseran menuju ekonomi berbasis nilai tambah, di mana kualitas desain, daya tahan produk, dan narasi budaya menjadi sumber utama keunggulan kompetitif. Model produksi terbatas, made-to-order, serta penguatan layanan purna-jual, seperti perbaikan dan penyesuaian busana membuka peluang pendapatan baru bagi desainer dan UMKM, sekaligus mengurangi tekanan eksploitasi sumber daya.
Transformasi model ekonomi ini juga membawa konsekuensi sosial yang tidak kalah penting. Keberlanjutan fesyen tidak dapat dilepaskan dari kondisi tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Industri fesyen Indonesia menyerap jutaan pekerja, mulai dari perajin tradisional, hingga penjahit rumahan. Desain busana yang menekankan kualitas dan umur panjang berpotensi menciptakan relasi kerja yang lebih adil dan stabil.
Produksi yang tidak diburu tenggat tren memungkinkan praktik kerja yang lebih manusiawi, pelestarian keterampilan, serta penghargaan terhadap keahlian lokal. Dalam konteks ekonomi kreatif, keberlanjutan berarti memastikan bahwa nilai ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada merek, tetapi juga mengalir ke para pelaku di sepanjang rantai produksi.
Di sisi lain, keberlanjutan desain busana juga harus dibaca dalam konteks persoalan struktural yang dihadapi Indonesia saat ini, terutama terkait lingkungan dan pola konsumsi.
Masuknya merek fast fashion global dan meningkatnya konsumsi pakaian siap pakai memperbesar persoalan limbah tekstil. Sementara itu, sistem daur ulang tekstil di Indonesia masih terbatas. Dalam situasi ini, memperpanjang usia pakaian menjadi pendekatan paling realistis dan berdampak langsung. Setiap pakaian yang dipakai lebih lama berarti penundaan limbah, penghematan energi, dan pengurangan tekanan produksi baru, sekaligus memberi waktu bagi Indonesia untuk membangun sistem pengelolaan limbah yang lebih matang.
Meskipun demikian, desain busana berkelanjutan tidak akan efektif, tanpa perubahan di sisi pengguna. Konsumen memegang peran penting dalam menentukan arah industri fesyen.
Literasi berpakaian perlu dipandang sebagai bagian dari pembangunan ekonomi kreatif. Kemampuan menilai kualitas bahan, memahami cara perawatan, serta menghargai proses produksi akan membentuk relasi jangka panjang antara konsumen dan pakaian. Konsumen yang sadar nilai cenderung tidak terjebak pada konsumsi sesaat. Dalam jangka panjang, perubahan perilaku ini menciptakan pasar yang lebih sehat bagi pelaku fesyen berbasis kualitas dan keberlanjutan. Untuk memperkuat perubahan ini, dukungan kebijakan publik menjadi faktor penentu.
Pendidikan desain busana juga memegang peran kunci dalam membangun paradigma keberlanjutan ini. Mahasiswa desain perlu dibekali pemahaman bahwa setiap rancangan akan berinteraksi dengan tubuh, waktu, dan kebiasaan pemakainya. Gwilt (2014) menegaskan bahwa pendidikan fesyen berkelanjutan mendorong calon desainer untuk berpikir reflektif tentang bagaimana pakaian digunakan, dirawat, dan dipertahankan sepanjang siklus hidupnya.
Hal yang terpenting adalah, negara memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem fesyen berkelanjutan. Dukungan negara dapat berupa insentif bagi pelaku fesyen ramah lingkungan, fasilitasi riset material lokal, hingga penguatan inkubator ekonomi kreatif. Integrasi prinsip keberlanjutan dalam peta jalan subsektor fesyen nasional akan memberikan kepastian arah bagi pelaku industri. Tanpa dukungan ekosistem yang memadai, desain busana berkelanjutan berisiko terjebak sebagai praktik eksklusif, bukan sebagai arus utama ekonomi kreatif Indonesia.
Meski demikian, penting untuk mengakui bahwa penerapan desain busana berkelanjutan di Indonesia tidak lepas dari tantangan nyata di lapangan.
Harga produk berkualitas sering kali berhadapan dengan daya beli masyarakat yang terbatas. Di sisi lain, tekanan tren global dan media sosial mendorong konsumsi instan. Desainer dan pelaku usaha kerap berada di persimpangan antara idealisme keberlanjutan dan tuntutan bisnis. Mengakui kontradiksi ini penting agar wacana fesyen berkelanjutan tidak terjebak pada narasi utopis, melainkan berpijak pada realitas industri nasional.
Dalam lanskap tantangan tersebut, masa depan fesyen Indonesia justru menyimpan peluang strategis. Dengan memadukan kearifan lokal, desain adaptif, dan model ekonomi bernilai tambah, Indonesia berpeluang memosisikan diri sebagai rujukan fesyen berkelanjutan berbasis budaya.
Desain busana yang memperpanjang usia pakaian bukan hanya strategi lingkungan, tetapi juga fondasi bagi ekonomi kreatif yang lebih tangguh dan berdaulat. Dengan menempatkan kualitas, nilai, dan relasi jangka panjang sebagai fondasi desain, fesyen Indonesia dapat berkontribusi pada masa depan ekonomi kreatif yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara budaya.
*) Prof Wesnina, PhD adalah guru besar bidang desain busana Universitas Negeri Jakarta
Copyright © ANTARA 2026