Bisnis.com, JAKARTA – Usai membawa angin segar pada saham-saham emiten energi terbarukan lewat proyek waste-to-energy (WTE), Danantara kali ini masuk ke segmen unggas. Pemerintah mengumumkan Danantara akan menggelontorkan investasi Rp20 triliun untuk membangun peternakan ayam terintegrasi.
David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menilai program investasi Danantara di sektor unggas senilai Rp20 triliun pada dasarnya berpotensi memberikan dampak tidak langsung bagi emiten sektor ini.
David menjelaskan proyek Danantara tersebut difokuskan untuk memenuhi kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG), bukan untuk kepemilikan atau ekspansi langsung ke emiten publik seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) atau PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN).
"Namun, ada efek turunan (multiplier) yang tetap bisa dirasakan oleh sektor secara umum. Misalnya, permintaan bahan baku pakan, DOC (day old chick), dan fasilitas produksi bisa meningkat, terutama jika proyek Danantara menggandeng pemasok dari pelaku besar seperti JPFA atau CPIN," ujarnya pada Bisnis, Selasa (11/11/2025).
Selain itu, efisiensi rantai pasok nasional unggas bisa membaik sehingga harga ayam dan telur menjadi lebih stabil. Kondisi ini bisa mendukung margin jangka menengah bagi emiten unggas yang sudah mapan, dan pada akhirnya berimbas positif pada kinerja keuangan.
Dengan kata lain, dampaknya lebih bersifat jangka menengah dan sistemik, bukan langsung menambah penjualan atau laba kuartalan JPFA dan CPIN dalam waktu dekat.
Sedangkan di lantai bursa, sentimen Danantara ini rupanya belum terlalu menggairahkan pasar saham, seperti JPFA pada Senin (10/11) hanya naik 0,87% sedangkan CPIN cuma naik 1,08%. Hari ini, Selasa (11/11), JPFA ditutup naik hanya 1,72% ke Rp2.360, sementara CPIN cuma naik 0,64% ke Rp4.700.
"Berbeda dengan sektor WTE yang saat pengumuman Danantara langsung dikaitkan dengan emiten spesifik, misalnya BREN, OASA, TOBA, proyek unggas ini tidak terkait langsung dengan perusahaan tercatat di bursa," jelasnya.
David menilai respons pasar tersebut disebabkan karena tidak ada hubungan langsung atau afiliasi kepemilikan saham Danantara dan emiten unggas terdaftar, sehingga potensi cuan jangka pendek sulit diukur.
Selain itu, sektor unggas sendiri saat ini masih menghadapi tantangan harga pakan tinggi dan fluktuasi harga ayam hidup, yang menekan margin laba.
"Alhasil, reaksi pasar lebih rasional dan lambat, karena investor menunggu bukti nyata bahwa proyek Danantara benar-benar berpengaruh pada permintaan industri unggas nasional," tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.