Bisnis.com, CIREBON — Pemerintah Kota Cirebon menargetkan 5 juta kunjungan wisatawan pada 2026 dengan menjadikan penataan kawasan kota tua sebagai strategi utama pengungkit ekonomi daerah.
Target tersebut dicanangkan melalui penguatan destinasi berbasis sejarah dan budaya yang dinilai memiliki daya saing tinggi di tengah persaingan antar kota tujuan wisata di Jawa Barat.
KepalaDinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon,Agus Sukmanjaya, menyampaikan pihaknya optimistis angka tersebut dapat dicapai melalui pembenahan kawasan heritage secara bertahap dan peningkatan kualitas agenda pariwisata tahunan.
Menurutnya, transformasi kota tua bukan sekadar proyek tata ruang, melainkan instrumen ekonomi yang berdampak langsung pada perputaran usaha kecil, jasa perhotelan, kuliner, hingga transportasi lokal.
"Penataan difokuskan pada sejumlah titik strategis yang selama ini menjadi simpul sejarah Kota Cirebon. Kawasan Pecinan menjadi salah satu prioritas dengan pendekatan wisata tematik berbasis budaya Tionghoa yang telah lama menjadi bagian dari identitas kota pesisir tersebut," kata Agus, Jumat (27/2/2026).
"Konsep pengembangan diarahkan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih terstruktur, tertib, dan nyaman bagi pengunjung," imbuhnya.
Di kawasan tersebut, kata Agus, Disbudpar mulai menyiapkan aktivasi night market sebagai magnet kunjungan malam hari. Selain itu, penataan pedagang kaki lima dilakukan agar tidak mengganggu akses pejalan kaki maupun estetika kawasan.
Sistem parkir juga akan dibenahi guna mengurangi kepadatan kendaraan yang kerap menjadi keluhan wisatawan saat musim liburan.
Selain Pecinan, Lapangan Kebumen diproyeksikan menjadi pusat aktivitas seni dan budaya yang terintegrasi dengan ruang publik di sekitarnya. Area ini akan dikembangkan sebagai pasar seni sekaligus ruang ekspresi bagi komunitas kreatif lokal.
"Aktivasi ruang budaya telah dimulai melalui pertunjukan seni yang digelar secara berkala, termasuk pemanfaatan Gedung Bundar sebagai titik kegiatan pertunjukan," katanya.
Selain itu, rencana pembangunan tugu titik nol kilometer turut masuk dalam agenda penguatan identitas kawasan kota tua. Infrastruktur simbolik tersebut diharapkan menjadi landmark baru sekaligus penanda geografis yang mempertegas positioning Kota Cirebon sebagai destinasi heritage di jalur Pantura Jawa.
Secara ekonomi, peningkatan jumlah wisatawan menjadi faktor penting dalam memperbesar kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan asli daerah.
Kunjungan dalam jumlah besar diyakini akan menciptakan efek berganda, mulai dari peningkatan okupansi hotel, pertumbuhan usaha kuliner, penjualan cendera mata, hingga terbukanya lapangan kerja informal di sekitar kawasan wisata.
"Optimisme terhadap capaian 5 juta kunjungan pada 2026 didasarkan pada potensi historis dan budaya yang dimiliki Kota Cirebon. Kota ini dikenal sebagai simpul pertemuan budaya Jawa, Sunda, Arab, dan Tionghoa yang tercermin dalam arsitektur, tradisi, serta kuliner khasnya. Diversitas tersebut menjadi modal kuat untuk membangun citra destinasi yang autentik dan berbeda dari kota lain," katanya.