Bisnis.com, JAKARTA — Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) mendorong program SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia) berkembang menjadi gerakan nasional dalam momentum peringatan Hari Kartini guna menjawab tingginya angka kematian ibu serta berbagai persoalan kesehatan perempuan di Indonesia.
Dorongan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa (21/4/2026). Acara ini turut dihadiri Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dan Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, serta berbagai pemangku kepentingan lintas sektor.
Dalam data yang dipaparkan, kondisi kesehatan perempuan di Indonesia masih memprihatinkan. Setiap hari, rata-rata 22 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas atau setara satu kematian setiap jam.
Selain itu, angka kematian ibu (AKI) masih berada di kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara.
Di sisi lain, beban penyakit seperti kanker serviks juga masih tinggi. Setiap tahun, lebih dari 36.000 kasus baru terdeteksi dengan lebih dari 21.000 kematian atau sekitar satu perempuan meninggal setiap 25 menit.
Ketua Umum POGI, Budi Wiweko, menjelaskan bahwa kondisi ini menjadi alasan utama lahirnya SPRIN. Program ini tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan, tetapi juga perubahan pola pikir masyarakat.
“SPRIN bukan sekadar program, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk mendorong perubahan nyata dan berkelanjutan. Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa kesehatan perempuan adalah pondasi pembangunan bangsa,” ujarnya dalam konferensi pers SPRIN, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Dia menambahkan bahwa perempuan yang sehat akan berdampak langsung pada kualitas keluarga dan generasi. Oleh karena itu, SPRIN didorong menjadi gerakan nasional yang melibatkan banyak pihak.
“Ke depan, SPRIN kami dorong menjadi Gerakan Nasional dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Kami juga menargetkan pembentukan Satgas agar program berjalan terstruktur dan berkelanjutan,” lanjutnya.
Dalam implementasinya, SPRIN akan diperkuat melalui SPRIN Summit 2026 sebagai forum tahunan. Kegiatan ini akan menjadi wadah evaluasi dan penguatan komitmen bersama lintas sektor.
Selain itu, POGI juga tengah menyiapkan Rumah Perempuan Indonesia (R-PRIN). Fasilitas ini dirancang sebagai pusat edukasi, layanan, dan pemberdayaan perempuan secara terpadu.
“R-PRIN diharapkan menjadi pusat layanan terpadu yang mendukung keberlanjutan gerakan ini,” jelas Budi.
Adapun pelaksanaan SPRIN dilakukan melalui pendekatan kolaborasi lintas sektor atau model pentahelix. Model ini melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga media.
Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), FISIP UI, Pegadaian, serta KADIN. Kolaborasi ini diharapkan memperluas jangkauan program ke berbagai daerah.
Menurut Budi, terdapat empat tantangan utama yang menjadi fokus penanganan. Tantangan tersebut meliputi tingginya angka kematian ibu, mutu layanan yang belum merata, kesenjangan akses, serta rendahnya literasi masyarakat.
“Melalui SPRIN, kami mendorong pendekatan terintegrasi mulai dari peningkatan kesadaran hingga memastikan layanan kesehatan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, SPRIN memiliki 10 fokus utama yang dijalankan secara bertahap. Program ini dirancang untuk menjangkau berbagai kelompok perempuan dari remaja hingga lansia.
Berikut fokus utama SPRIN:
- Skrining DNA HPV dan vaksinasi HPV massal
- Edukasi kesehatan reproduksi
- Pemberian suplemen ibu hamil
- Program perencanaan kehamilan
- Skrining anemia
- Pemeriksaan kesehatan menopause
- Podcast edukasi kesehatan
- Sertifikasi mutu layanan
- Pendidikan kader kesehatan (SPRINTER)
- Program finansial untuk kesehatan reproduksi
Sejumlah inisiatif juga telah dijalankan untuk mendukung program ini. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak dan dilakukan di sejumlah wilayah.
Di antaranya adalah vaksinasi HPV di 10 titik cabang POGI, pemberian suplemen, hingga gerakan kader kesehatan. Selain itu, terdapat pula program kolaborasi untuk menekan angka kematian ibu, bayi, dan stunting.
Ketua Umum POGI juga menegaskan bahwa dalam pelaksanaannya, pihaknya menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar program dapat berjalan lebih luas, efektif, dan berkelanjutan.
“Kolaborasi adalah kunci utama agar dampak program semakin luas. Kami ingin memastikan lebih banyak perempuan mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak,” kata Budi.
SPRIN juga mengusung semangat “When we educate a woman, we educate a nation” sebagai dasar gerakan. Prinsip ini menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa.
“Ketika perempuan sehat dan berdaya, maka keluarga dan generasi juga akan lebih kuat. Menyelamatkan perempuan hari ini berarti menyelamatkan masa depan Indonesia,” tutupnya.