Bisnis.com, JAKARTA – Penelitian terbaru menemukan kebiasan merebus air minum sebelum dikonsumsi berpotensi dapat membantu mengurangi paparan mikroplastik dan nanoplastik yang masuk ke tubuh manusia melalui air keran.
Mengutip penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology Letters, tim peneliti dari China menemukan proses merebus air lalu menyaring endapannya mampu mengurangi kandungan nano dan mikroplastik di dalam air keran. Metode sederhana tersebut dinilai cukup efektif dan dapat dilakukan masyarakat menggunakan peralatan dapur biasa.
Dalam penelitian itu, para ilmuwan menguji air lunak dan air sadah atau hard water yang mengandung mineral lebih tinggi. Air kemudian dicampur partikel nano dan mikroplastik sebelum direbus dan disaring untuk melihat seberapa besar pengurangan partikel plastik yang terjadi.
Hasil penelitian menunjukkan proses perebusan dan penyaringan mampu mengurangi partikel nano dan mikroplastik hingga 90 persen pada beberapa jenis air. Efektivitasnya disebut berbeda tergantung kandungan mineral dalam air yang digunakan.
“Partikel nano dan mikroplastik dalam air keran menjadi perhatian global karena berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia melalui konsumsi air,” tulis peneliti dalam publikasi tersebut, dikutip Kamis (21/5/2026).
Peneliti menjelaskan air dengan kandungan mineral lebih tinggi atau hard water justru mampu mengurangi partikel plastik lebih banyak setelah direbus. Kondisi tersebut terjadi karena pemanasan membuat kalsium karbonat atau kerak kapur terbentuk dan menangkap partikel plastik di permukaannya.
Kerak kapur yang biasanya muncul di ketel atau panci setelah air direbus disebut membantu menjebak partikel plastik sehingga lebih mudah disaring. Peneliti menyebut partikel plastik yang terperangkap kemudian dapat dipisahkan menggunakan saringan sederhana seperti saringan teh berbahan stainless steel.
“Hasil kami menunjukkan efisiensi pengendapan nanoplastik meningkat seiring naiknya tingkat kesadahan air saat direbus,” tulis tim peneliti.
Dalam penelitian tersebut, air dengan kadar kalsium karbonat tinggi mampu mengurangi partikel plastik hingga sekitar 84 persen sampai 90 persen. Sementara pada air lunak, pengurangan partikel plastik tetap terjadi meski jumlahnya lebih rendah, yakni sekitar 25 persen.
Di sisi lain, penelitian sebelumnya juga menemukan partikel plastik seperti polystyrene, polyethylene, polypropylene, dan polyethylene terephthalate atau PET banyak ditemukan dalam air minum sehari-hari. Partikel tersebut berasal dari berbagai sumber seperti pakaian, peralatan dapur, produk perawatan tubuh, hingga limbah plastik rumah tangga.
Tinjauan literatur dari The University of Texas at Arlington juga menyebut sebagian besar paparan mikroplastik manusia diduga berasal dari air minum. Instalasi pengolahan air limbah disebut memang mampu mengurangi partikel plastik, tetapi belum sepenuhnya efektif menghilangkannya.
Secara global, produksi plastik juga terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Peneliti menyebut sekitar 9 miliar ton plastik telah diproduksi sejak awal penggunaan plastik modern dan sebagian besar kini terurai menjadi partikel kecil yang menyebar ke lingkungan.
Partikel plastik tersebut kini ditemukan hampir di berbagai tempat, termasuk dalam tubuh manusia. Sejumlah penelitian sebelumnya juga mulai mengaitkan mikroplastik dengan gangguan mikrobioma usus hingga peningkatan resistensi antibiotik.
Selain penelitian laboratorium, data paparan harian nano dan mikroplastik melalui air minum juga menunjukkan perbedaan cukup besar antarwilayah dunia. Grafik penelitian memperlihatkan konsumsi air keran menghasilkan paparan partikel plastik lebih tinggi dibandingkan air matang di hampir semua kawasan.
Afrika tercatat menjadi wilayah dengan paparan tertinggi dari air keran, mencapai sekitar 620 partikel nano dan mikroplastik per hari. Asia berada di posisi berikutnya dengan sekitar 500 partikel per hari, sedangkan Amerika Selatan sekitar 400 partikel per hari.
Sementara itu, Eropa, Amerika Utara, dan Oseania memiliki tingkat paparan lebih rendah dari air keran, yakni sekitar 50 hingga 100 partikel per hari. Pada air matang, jumlah partikel yang masuk ke tubuh terlihat jauh lebih rendah di hampir semua wilayah.
Afrika tetap menjadi wilayah dengan paparan tertinggi dari air matang sekitar 150 hingga 170 partikel per hari. Asia berada di kisaran sekitar 150 partikel per hari, sedangkan Eropa, Amerika Utara, dan Oseania hanya sekitar 20 hingga 60 partikel per hari.
Peneliti menilai kebiasaan merebus air minum berpotensi menjadi langkah sederhana untuk mengurangi paparan partikel plastik dalam tubuh. Mereka juga berharap penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk memahami dampak kesehatan jangka panjang dari mikroplastik serta efektivitas metode perebusan air dalam kehidupan sehari-hari.
“Minum air matang tampaknya menjadi strategi jangka panjang yang memungkinkan untuk mengurangi paparan nano dan mikroplastik pada manusia,” tulis peneliti dalam laporan tersebut.