Bisnis.com, JAKARTA — Para tokoh besar di dunia teknologi sepakat bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya akan melahirkan pekerjaan berbasis digital, tetapi juga membuka banyak peluang kerja fisik yang membutuhkan keahlian teknis.
Mulai dari teknisi, tukang listrik, hingga pekerja konstruksi diprediksi akan menjadi bagian penting dari ekosistem AI di masa depan.
Pandangan ini mencuat dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, ketika para pemimpin industri AI berkumpul untuk membahas masa depan teknologi, dampaknya terhadap lapangan kerja, serta isu apakah ledakan AI saat ini hanyalah sebuah gelembung ekonomi.
CEO Nvidia Jensen Huang mengatakan bahwa AI bukanlah gelembung. Menurutnya, salah satu bukti terkuat adalah tingginya permintaan GPU Nvidia di seluruh dunia.
Saat ini, GPU Nvidia digunakan di hampir semua layanan cloud, dan menyewanya menjadi semakin sulit karena permintaan yang terus meningkat, bahkan untuk model lama.
Huang menjelaskan bahwa lonjakan investasi AI terjadi karena hampir semua sektor kini membutuhkannya. Perusahaan farmasi, misalnya, mulai mengalihkan anggaran riset dari laboratorium tradisional ke superkomputer AI.
Akibatnya, dunia kini sedang membangun infrastruktur AI dalam skala masif mulai dari pusat data, pembangkit listrik, hingga jaringan pendukung lainnya.
“Ini adalah pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia,” ujar Huang mengutip The Verge, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, proyek-proyek ini menciptakan banyak lapangan kerja bergaji tinggi, terutama bagi tenaga teknis seperti teknisi chip, pekerja pabrik, dan ahli infrastruktur.
Pandangan serupa disampaikan CEO Microsoft Satya Nadella. Dia juga menilai AI bukan sekadar tren sesaat. Menurut Nadella, jika AI benar-benar hanya gelembung, dampaknya akan terbatas di sektor teknologi.
Namun kenyataannya AI sudah mempercepat riset obat, meningkatkan efisiensi layanan publik, dan mendorong produktivitas di berbagai industri.
Meski begitu, Nadella menekankan bahwa keberhasilan AI harus diukur dari manfaat nyatanya bagi masyarakat. Jika AI hanya menghabiskan energi tanpa memberikan dampak positif pada kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, maka dukungan publik terhadap teknologi ini bisa hilang.
Pandangan para ahli mengenai dampak AI terhadap Pekerjaan
Soal dampak AI terhadap pekerjaan, pendapat para ahli masih beragam. Beberapa riset memperkirakan AI dapat menggantikan jutaan pekerjaan dalam satu dekade ke depan.
Bahkan ada laporan yang memperingatkan bahwa hingga puluhan juta pekerjaan di Amerika Serikat berisiko terdampak oleh otomatisasi.
Namun Huang justru melihat sisi lain. Menurutnya, AI akan menciptakan banyak pekerjaan baru, terutama di sektor keahlian teknis.
“Industri energi, chip, dan pusat data semuanya menciptakan lapangan kerja,” katanya.
Bahkan, pekerjaan-pekerjaan ini bisa menawarkan gaji sangat tinggi bagi tenaga terampil.
Begitu juga dengan CEO Palantir Alex Palantir yang juga memprediksi bahwa pekerjaan berbasis kejuruan dan keterampilan teknis akan menjadi tulang punggung pasar kerja yang stabil. Menurutnya, teknisi dan pekerja terlatih justru akan semakin dibutuhkan dan dihargai di era AI.
Sementara itu, Nadella menekankan pentingnya keterampilan AI yang bisa dipelajari dan diterapkan langsung. Ia berharap ada hubungan yang jelas antara menguasai keterampilan AI dan peluang mendapatkan pekerjaan, seperti dulu ketika kemampuan menggunakan Excel atau Word menjadi nilai tambah di dunia kerja.
Di tengah optimisme tersebut, CEO Salesforce Marc Benioff justru menyampaikan peringatan. Meski perusahaannya sangat agresif mengadopsi AI, Benioff menyoroti risiko serius dari teknologi ini, terutama terkait keselamatan pengguna dan anak-anak.
Benioff menekankan bahwa AI masih sering menghasilkan informasi yang keliru dan bisa berdampak berbahaya jika tidak diatur dengan baik. Menurutnya, pemerintah perlu segera hadir dengan regulasi yang jelas agar perkembangan AI tidak mengorbankan keselamatan dan nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, masa depan AI bukan hanya soal algoritma dan chatbot pintar. Dunia juga membutuhkan lebih banyak pekerja lapangan mereka yang mengenakan helm pengaman dan sepatu bot untuk membangun fondasi fisik dari revolusi teknologi terbesar abad ini. (Nur Amalina)