Bisnis.com, JAKARTA— Mantan insinyur dan talenta kunci OpenAI menggalang dana modal ventura baru bertajuk Zero Shot dengan target mencapai US$100 juta atau sekitar Rp1,7 triliun untuk berinvestasi di startup kecerdasan buatan (AI).
Melansir laman TechCrunch pada Selasa (7/4/2026) dana tersebut telah mencapai tahap penutupan awal (first close) dengan perolehan sekitar US$20 juta atau setara Rp340 miliar. Para pendirinya juga telah mulai menyalurkan investasi ke sejumlah startup tahap awal.
Zero Shot didirikan oleh lima mitra, termasuk tiga alumni OpenAI, yakni Evan Morikawa, Andrew Mayne, dan Shawn Jain. Mereka bergabung dengan investor ventura Kelly Kovacs serta mantan eksekutif teknologi Brett Rounsaville.
Kelima pendiri tersebut telah saling mengenal sejak bekerja di OpenAI, bahkan sebelum peluncuran ChatGPT hingga masa pertumbuhan pesat perusahaan tersebut. Setelah keluar, mereka kerap diminta memberikan masukan kepada investor dan pendiri startup terkait arah perkembangan teknologi AI.
Pengalaman tersebut mendorong mereka membentuk dana investasi sendiri, seiring munculnya kesenjangan antara tren pendanaan startup AI dan kebutuhan nyata pasar.
Sejumlah investasi awal telah dilakukan, salah satunya pada Worktrace AI yang didirikan oleh mantan manajer produk OpenAI, Angela Jiang. Startup ini mengembangkan platform berbasis AI untuk membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengotomatisasi pekerjaan yang berpotensi meningkatkan efisiensi. Worktrace AI telah menghimpun pendanaan awal sebesar US$10 juta atau sekitar Rp170 miliar.
Selain itu, Zero Shot juga berinvestasi pada Foundry Robotics, perusahaan yang mengembangkan robot industri berbasis AI generasi baru. Startup tersebut baru saja meraih pendanaan awal US$13,5 juta atau sekitar Rp229,5 miliar. Satu investasi lainnya telah dilakukan, namun masih dalam tahap stealth dan belum diumumkan ke publik.
Dalam strategi investasinya, para pendiri Zero Shot menekankan selektivitas terhadap sektor tertentu di industri AI. Andrew Mayne menilai tren “vibe coding” berpotensi menurun karena kemampuan pemrograman model AI terus berkembang, sehingga layanan tersebut bisa kehilangan relevansi.
Sementara itu, Evan Morikawa mengaku tidak terlalu tertarik pada perusahaan yang berfokus pada data video untuk pelatihan robotika, karena masih adanya kesenjangan besar antara pengembangan data dan penerapannya di dunia nyata.
Mayne juga bersikap skeptis terhadap sebagian besar startup yang mengembangkan konsep “digital twins”. Berdasarkan evaluasinya, model bahasa besar (LLM) dinilai sudah mampu memberikan hasil serupa tanpa pendekatan tersebut.
Para pendiri menilai kemampuan membaca arah perkembangan AI menjadi kunci dalam menentukan investasi. Mereka menekankan bahwa evolusi teknologi ini tidak berjalan linear dan kerap sulit diprediksi.
Selain para mitra utama, Zero Shot juga didukung oleh sejumlah penasihat dari kalangan profesional berpengalaman yang turut berkontribusi dalam strategi pengelolaan dana dan pemilihan investasi.