Bisnis.com, BANDUNG - Penyelenggaraan event di Jawa Barat sepanjang Maret hingga April 2026 terus menunjukkan kontribusi signifikan terhadap sektor pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat ratusan miliar rupiah perputaran ekonomi dari puluhan event yang digelar di berbagai daerah.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Iendra Sofyan mengatakan event daerah kini tidak hanya menjadi ruang hiburan dan promosi budaya, tetapi telah berkembang menjadi instrumen penggerak ekonomi masyarakat.
“Event di Jawa Barat terbukti memberikan dampak ekonomi nyata. Bukan hanya untuk sektor pariwisata, tetapi juga menggerakkan UMKM, pelaku seni, ekonomi kreatif, hingga tenaga kerja lokal,” ujar Iendra Sofyan di Bandung, Rabu (6/5/2026).
Berdasarkan hasil analisis Disparbud Jabar, selama Maret 2026 sebanyak 18 event digelar di delapan kabupaten/kota dengan total kunjungan mencapai 525.000 orang. Sebanyak 78 persen pengunjung berasal dari Jawa Barat, 18 persen dari luar Jawa Barat, dan 4 persen merupakan wisatawan mancanegara.
Dari sisi ekonomi, event pada Maret 2026 menghasilkan total perputaran uang sebesar Rp164 miliar. Capaian tersebut didukung keterlibatan 5.250 tenaga kerja, 1.761 pelaku seni, serta 2.032 pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
Beberapa event tercatat menjadi penyumbang transaksi terbesar, di antaranya Indonesia HijabFest dan Jagat Aroma yang masing-masing mencatatkan transaksi Rp50 miliar. Selain itu, TradeMark Market menghasilkan Rp27,6 miliar dan Roadshow Kuliner Viral Indonesia 2026 sebesar Rp12 miliar.
Sementara itu, pada April 2026, Disparbud Jabar mencatat sebanyak 19 event terlaksana di sembilan kabupaten/kota dengan total kunjungan mencapai 102.815 orang dan perputaran ekonomi sebesar Rp16,7 miliar.
Event dengan kontribusi ekonomi terbesar pada April antara lain Bandung 90's Run Festival dengan nilai transaksi Rp4,88 miliar, disusul Java Mountain Marathon sebesar Rp3,25 miliar dan Run For Humanity senilai Rp2,1 miliar.
Selain dampak ekonomi, Iendra menilai event di Jawa Barat semakin kuat dalam mengangkat identitas budaya lokal. Akulturasi budaya dan nuansa religi Sunda menjadi tema dominan yang muncul sepanjang penyelenggaraan event.
“Penguatan budaya lokal menjadi daya tarik utama pariwisata Jawa Barat. Ini yang terus kami dorong agar event memiliki karakter khas dan berdaya saing,” katanya.
Dari sisi tata kelola, evaluasi Disparbud menunjukkan mayoritas event telah menerapkan prinsip keberlanjutan, termasuk pengelolaan sampah. Namun, aspek inklusivitas masih menjadi catatan, terutama terkait penyediaan fasilitas ramah difabel pada sejumlah event di April 2026.
Selain itu, pemerintah juga mencatat sejumlah tantangan seperti kepadatan pengunjung pada jam puncak, keterbatasan parkir, antrean aktivitas utama, hingga gangguan teknis akibat cuaca dan konektivitas.
Menurut Iendra, hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar penguatan tata kelola event ke depan, mulai dari peningkatan manajemen kapasitas, infrastruktur pendukung, hingga kualitas operasional kegiatan.
“Kami ingin event di Jawa Barat tidak hanya ramai, tetapi juga berkualitas, inklusif, berkelanjutan, dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Pemprov Jabar menargetkan pengembangan event daerah dapat semakin memperkuat citra pariwisata Jawa Barat di tingkat nasional maupun internasional sekaligus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi daerah.