Bisnis.com, JAKARTA - Virus Nipah kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan kasus baru di India pada awal 2026. Meski kerap disandingkan dengan Covid-19 karena sama-sama penyakit menular, para ahli menegaskan bahwa Nipah memiliki karakteristik, pola penyebaran, dan tingkat risiko yang sangat berbeda.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat virus Nipah tidak menyebar luas secara global seperti Covid-19, tetapi berulang kali memicu wabah lokal dengan tingkat kematian yang jauh lebih tinggi. Sejak 2001 hingga 2025, tercatat lebih dari 347 kasus Nipah dengan tingkat kematian sekitar 71,7 persen. Sementara itu, Covid-19 dikenal memiliki tingkat penularan sangat cepat antar manusia, namun dengan fatalitas yang lebih rendah secara global.
Perbedaan Virus Nipah dan Covid-19
Meski sama-sama menyerang manusia dan dapat menular antar manusia, berikut perbedaan utama virus Nipah dan Covid-19 berdasarkan data dan temuan ilmiah:
1. Asal dan Inang Alami
- Virus Nipah: Merupakan penyakit zoonotik dengan reservoir alami berupa kelelawar buah (Pteropodidae). Virus dapat menular ke manusia melalui hewan perantara seperti babi atau makanan yang terkontaminasi.
- Covid-19: Menular terutama antar manusia dan menyebar luas secara global setelah muncul pertama kali pada 2019.
2. Pola Penyebaran
- Virus Nipah: Tidak menyebar secara masif, namun kerap menimbulkan wabah lokal dalam klaster kecil, seperti di Bangladesh, India, dan beberapa negara Asia lainnya.
- Covid-19: Menyebar cepat lintas negara dan benua, memicu pandemi global.
3. Tingkat Kematian
- Virus Nipah: Memiliki tingkat kematian sangat tinggi, mencapai sekitar 71,7 persen berdasarkan catatan WHO.
- Covid-19: Tingkat kematian relatif lebih rendah dibanding Nipah, meski jumlah kasusnya jauh lebih besar.
4. Gejala Klinis
- Virus Nipah: Gejala bervariasi, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut hingga ensefalitis (peradangan otak) yang dapat berujung kematian.
- Covid-19: Umumnya menyebabkan gangguan pernapasan, dari ringan hingga berat, dengan spektrum gejala yang luas.
5. Pengobatan dan Vaksin
- Virus Nipah: Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus. Penanganan masih bergantung pada perawatan suportif.
- Covid-19: Telah tersedia vaksin dan sejumlah terapi pendukung untuk menekan keparahan penyakit.
Meski belum ditemukan kasus Nipah pada manusia di Indonesia, para peneliti mengingatkan bahwa virus ini telah bersirkulasi di alam. Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti, menyatakan:
“Virus ini memiliki tingkat kematian tinggi dan berpotensi menimbulkan wabah jika tidak diantisipasi.” ujarnya.
Penelitian di Indonesia menemukan antibodi Nipah pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus di Kalimantan Barat, serta deteksi genom virus pada sampel saliva dan urin kelelawar di Sumatra Utara dan Jawa. Kondisi ekologis Indonesia, keanekaragaman kelelawar, serta interaksi intens antara manusia dan satwa meningkatkan risiko spillover.
Pencegahan Virus Nipah dan Covid-19
Karena virus Nipah belum memiliki vaksin atau pengobatan khusus, pencegahan menjadi langkah paling penting. Berikut poin-poin pencegahan yang direkomendasikan WHO, Kemenkes, dan para ahli:
- Hindari kontak dengan hewan berisiko
Jangan menyentuh kelelawar buah atau hewan lain yang dicurigai terinfeksi, termasuk babi. Hindari mengonsumsi hewan yang sakit atau mati mendadak. - Perhatikan keamanan makanan dan minuman
Jangan mengonsumsi buah yang berpotensi terkontaminasi air liur atau urin hewan. Nira atau aren sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Buang buah yang terdapat tanda gigitan hewan. - Jaga kebersihan tangan
Cuci tangan secara rutin menggunakan sabun dan air mengalir, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau kontak dengan hewan. - Hindari kontak erat dengan orang yang sakit
Penularan antar manusia dapat terjadi melalui kontak dekat dengan penderita, terutama pada virus Nipah dan Covid-19. Gunakan masker dan jaga jarak bila diperlukan. - Gunakan alat pelindung diri (APD)
Tenaga kesehatan dan pengasuh pasien dianjurkan menggunakan masker, sarung tangan, dan pelindung mata saat menangani pasien. - Segera periksa jika muncul gejala
Jika mengalami demam, sakit kepala, batuk, atau gejala neurologis setelah kontak berisiko, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan. - Perkuat pengawasan dan edukasi publik
Kemenkes mendorong peningkatan surveilans penyakit seperti ISPA, pneumonia, meningitis, dan ensefalitis, serta edukasi masyarakat terkait risiko zoonosis.
Virus Nipah dan Covid-19 sama-sama menular, namun memiliki karakter ancaman yang berbeda. Covid-19 menyebar cepat secara global, sementara Nipah bergerak senyap dalam wabah lokal dengan tingkat kematian yang jauh lebih tinggi. Tanpa vaksin dan obat khusus, kewaspadaan, edukasi, serta pencegahan menjadi kunci agar Indonesia tetap siap menghadapi potensi ancaman virus Nipah.