Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak untuk meminta maaf setelah dia mengeluarkan kata-kata yang menyerang Paus Leo XIV. Trump ogah menyampaikan maaf meskipun banyak pihak yang mengecam ucapannya, termasuk sekutu dan pendukungnya.
Trump berkata pada para wartawan pada Senin (13/4/2026) waktu AS bahwa dia hanya memberikan respons kepada pemimpin Gereja Katolik di dunia tersebut dan tidak akan meminta maaf.
“Tidak ada yang perlu dimintakan maaf. Dia salah,” ujar Trump, dikutip dari The New York Times, Selasa (14/4/2026).
Trump menyebut bahwa Leo XIV telah mengatakan kata-kata yang salah. Melansir BBC News, Trump menilai bahwa sang Paus memiliki pandangan yang sangat berlawanan dengan apa yang dilakukannya terhadap Iran.
AS dan Israel memang melakukan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026 lalu yang menyebabkan instabilitas energi dunia. Konflik yang hingga kini belum selesai tersebut telah menjalar di kawasan Asia Barat dan telah menghasilkan suatu gencatan senjata, satu negosiasi tatap muka yang gagal membuahkan hasil, dan blokade Selat Hormuz oleh Iran dan AS secara bergantian.
Trump mengatakan bahwa Iran tidak boleh mempunyai senjata nuklir, yang juga menjadi salah satu tujuan dari serangan awalnya. Menurutnya, sang Paus tidak akan senang apabila AS menghilangkan kemampuan nuklir Iran.
Sebelumnya, pada Senin pagi waktu Indonesia (13/4/2026), Trump menulis di media sosialnya bahwa Leo XIV merupakan sosok yang “LEMAH terhadap aksi kriminal” dan juga “buruk dalam Kebijakan Luar Negeri”. Dia menulis bahwa sang Paus sebaiknya memperbaiki perilakunya, menggunakan akal sehatnya, berhenti memuaskan kaum sayap kiri radikal, dan memfokuskan dirinya sebagai seorang Paus.
“Saya tidak mau seorang Paus yang berpikir bahwa itu adalah hal yang OK bagi Iran untuk mempunyai sebuah Senjata Nuklir. Saya tidak mau seorang Paus yang berpikir itu adalah hal buruk jika Amerika menyerang Venezuela, sebuah Negara yang mengirimkan Narkoba dalam jumlah besar ke AS,” tulis Trump di media Truth Social.
Lebih lanjut, dia juga menyatakan bahwa seharusnya sang Paus bersyukur karena dia tidak akan menjadi Paus seandainya Trump tidak menjadi Presiden AS.
Setelah mengeluarkan komentar itu, banyak pihak yang mengecam Trump. Uskup Robert Barron, seorang uskup dengan pandangan konservatif yang menjabat di Komisi Kebebasan Beragama Pemerintah AS mendorong Trump untuk meminta maaf. Menurutnya, kata-kata Trump tidak sopan dan tidak pantas karena Leo XIV hanya menyuarakan prinsip-prinsip Katolik.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, yang memiliki pandangan mirip dan memiliki hubungan baik dengan Trump, mengatakan bahwa kata-kata Trump “tidak bisa diterima”. Kemudian, Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini, yang merupakan pendukung kuat Trump, juga menyayangkan ucapan Trump terhadap sang Paus, yang dia nilai sedang mencoba menyelesaikan masalah-masalah dengan perdamaian.
Paus Leo XIV Tolak Peperangan
Komentar terbaru Trump tersebut datang setelah Leo XIV mengisyaratkan pada sebuah ibadah pada Sabtu malam waktu Vatikan (11/4/2026) bahwa “delusi kemahakuasaan” memicu perang antara Iran dan AS-Israel, seperti dilaporkan oleh The Guardian. Itu merupakan hari yang sama ketika AS dan Iran memulai negosiasi secara langsung di Pakistan selama masa gencatan senjata selama 2 pekan.
Walau tidak menyebutkan nama Trump secara langsung, nada dan pesannya dinilai ditujukan kepada Trump dan anggota pemerintahannya, setelah mereka menyombongkan keunggulan militer AS dan membenarkan perang Iran dengan dalih agama.
Kritik Leo XIV terhadap perang telah meningkat sejak serangan AS-Israel ke Iran dimulai. Sebelumnya, dalam salah satu kecamannya yang paling keras, dia mengatakan dalam homili Minggu Palmanya (29/3/2026) bahwa Tuhan “tidak mendengarkan doa-doa mereka yang memulai perang, tetapi menolaknya.”
Di luar perang, sang Paus juga pernah mengkritik kebijakan Trump yang keras terhadap imigrasi AS. Dia mempertanyakan gerakan “prokehidupan” (pro-life) yang ada di AS apabila Pemerintah AS masih memberlakukan imigran dengan tidak manusiawi.
Setelah unggahan Trump tersebut, Leo XIV menyatakan bahwa dirinya tidak ingin berdebat dengan Trump. Dia pun tidak melihat dirinya sebagai seorang politikus, melainkan sebagai seorang pewarta perdamaian.
“Saya tidak memiliki ketakutan terhadap pemerintahan Trump atau berbicara dengan lantang mengenai pesan dari kabar baik, yang menurut saya adalah tujuan dari yang saya lakukan di sini, tujuan dari yang dilakukan Gereja di sini,” kata Paus kepada awak media dalam perjalanannya ke Aljazair dalam Perjalanan Apostolik terbaru.
Dia pun mengatakan bahwa dirinya akan terus mempromosikan dialog dan multilateralisme di antara negara-negara untuk menemukan berbagai penyelesaian dari masalah-masalah yang ada. Saat ini, menurutnya, telah ada terlalu banyak orang yang menderita dan kehilangan nyawa akibat konflik-konflik di dunia.
Dia mengatakan bahwa pesan Injil tidak seharusnya disalahgunakan “seperti yang dilakukan beberapa orang”.
“Hal-hal yang saya katakan tentunya tidak dimaksudkan sebagai serangan-serangan terhadap siapa pun. Pesan dari Injil sangat jelas: ‘Berbahagialah orang yang membawa damai,’” ungkapnya kepada jurnalis Associated Press (AP).
Gambar AI Trump tuai banyak kecaman
Setelah menulis kecamannya di internet, Trump kemudian lanjut mengunggah sebuah gambar hasil kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang menampilkan dirinya sebagai sosok mirip Yesus, yang tampak sedang menyembuhkan seseorang. Lagi-lagi, unggahan Trump tersebut menuai banyak kritik, terutama dengan tuduhan penistaan.
Diunggah tanpa ada tulisan (caption) apa pun, gambar tersebut memperlihatkan Trump mengenakan jubah putih dan merah, dengan tangannya yang memancarkan cahaya yang bersinar. Tangan kanannya menyentuh dahi seorang pria yang terbaring di tempat tidur dengan mengenakan baju rumah sakit. Gambar tersebut memiliki kemiripan dengan gambar-gambar Yesus menyembuhkan orang sakit.
Kini, unggahan tersebut telah dihapus oleh Trump. Namun, sejumlah akun media sosial telah menyimpan dan mendokumentasikan unggahan tersebut, seperti di media sosial X (Twitter).
Setelah menghapusnya, Trump mengaku bahwa dia secara sadar memang mengunggah foto tersebut di akun resmi sosial medianya. Meski begitu, dia beralasan bahwa dia mengira bahwa foto itu mengilustrasikan dirinya sebagai seorang dokter yang berada di sebelah seseorang dari Palang Merah.
“Itu seharusnya adalah saya sebagai seorang dokter, membuat orang lain merasa lebih baik, dan saya memang membuat orang merasa lebih baik,” katanya.
Kepada CBS News, Trump mengatakan bahwa dia menghapus unggahannya karena tidak ingin membuat orang-orang menjadi kebingungan. Menurutnya, orang-orang merasa bingung tentang gambar tersebut.
Kecaman pun langsung muncul dari berbagai pihak, mulai dari aktivis konservatif, media-media keagamaan, politikus AS, hingga kardinal Gereja Katolik.
“Eksploitasi penggambaran suci secara vulgar sangat menyinggung dan merendahkan penghormatan yang seharusnya diberikan kepada hal-hal yang paling dihargai oleh umat beriman,” ujar Kardinal Joseph William Tobin dalam sebuah wawancara. (Laurensius Katon Kandela)