Bisnis.com, JAKARTA – TikTok memastikan tidak akan menambahkan fitur enkripsi end-to-end (E2EE) pada layanan pesan langsung (DM) di platformnya.
Keputusan ini menempatkan TikTok di posisi yang berbeda dibandingkan dengan standar privasi yang diadopsi oleh platform besar lainnya.
Pihak TikTok menyatakan bahwa penerapan enkripsi penuh justru berisiko membuat pengguna menjadi kurang aman. Hal ini disebabkan karena enkripsi tersebut akan menutup akses bagi tim keselamatan internal dan aparat penegak hukum dalam memantau pesan pribadi.
Pihak perusahaan menjelaskan bahwa ketiadaan E2EE memungkinkan otoritas terkait untuk mengakses pesan saat diperlukan untuk investigasi. TikTok juga inogin mematuhi sebagian regulasi keamanan digital di berbagai negara.
"Kami percaya bahwa enkripsi end-to-end dapat menghalangi kemampuan tim keselamatan dan penegak hukum untuk mengakses pesan dalam situasi darurat," ujar perwakilan TikTok dilansir dari PCMag, Jumat (6/3/2026).
Sebagai informasi, E2EE adalah teknologi keamanan yang memastikan hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca isi pesan. Dengan sistem ini, pihak ketiga termasuk penyedia layanan internet maupun pemilik platform tidak dapat mengintip konten percakapan.
Meskipun tidak mengadopsi E2EE, TikTok mengklaim bahwa pesan pengguna tetap terlindungi melalui enkripsi standar saat proses pengiriman dan penyimpanan. Perbedaan utamanya adalah TikTok masih memegang kunci enkripsi untuk membuka data tersebut jika dibutuhkan.
TikTok menegaskan bahwa akses terhadap isi pesan sangat dibatasi hanya untuk staf terlatih. Akses tersebut hanya diberikan apabila terdapat kebutuhan mendesak yang berkaitan dengan hukum atau investigasi keselamatan pengguna.
Sikap TikTok ini berbanding terbalik dengan kebijakan para pesaingnya di industri teknologi global. Meta misalnya, telah menerapkan E2EE secara penuh pada layanan WhatsApp sejak 2016.
Selain WhatsApp, Meta juga telah memperluas fitur keamanan serupa ke layanan Facebook Messenger dan Instagram. Fitur itu bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan pengguna terhadap kerahasiaan percakapan digital mereka.
Platform media sosial X (dahulu Twitter) milik Elon Musk juga telah mengadopsi teknologi serupa pada fitur 'X Messages'. Begitu pula dengan layanan pesan dari Apple (iMessage) dan Google yang telah lama menyediakan proteksi E2EE.
Namun, penerapan E2EE memang kerap memicu perdebatan panjang dengan otoritas keamanan di berbagai belahan dunia. Data menunjukkan bahwa Meta sendiri telah menerima lebih dari 374.000 permintaan data dari pemerintah sepanjang semester I/2025.
Dari total permintaan tersebut, Meta memenuhi sekitar 78% permohonan dengan memberikan data yang diperlukan kepada pihak berwenang. Beberapa kasus hukum tercatat menggunakan log percakapan yang tidak terproteksi sebagai barang bukti utama.