Bisnis.com, SURABAYA – Gelaran Misi Dagang dan Investasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan Pemprov Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil membukukan nilai transaksi yang fantastis senilai Rp1.882.272.300.000.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, menjelaskan nominal tersebut adalah capaian tertinggi sepanjang sejarah misi dagang yang digelar oleh Pemprov Jatim.
Dalam pelaksanaan misi dagang di 10 provinsi pada tahun 2025, total transaksi tercatat mencapai nominal Rp10,77 triliun.
"Alhamdulillah tercatat transaksi Rp1,882 triliun lebih. Dari 46 perjalanan misi dagang kami, ini adalah transaksi tertinggi dalam misi dagang yang pernah kami lakukan," ucap Khofifah dalam keterangan resminya, Jumat (7/11/2025).
Dari capaian tersebut, transaksi penjualan produk Jatim mencapai Rp1,727 triliun, disusul dengan pembelian produk dari NTT senilai Rp 102,183 miliar, serta komitmen investasi sebesar Rp52,500 miliar.
Adapun komoditas Jatim yang menjadi primadona dalam forum dagang Jatim-NTT antara lain adalah kopi robusta, percetakan kemasan kopi, produk peternakan seperti telur, daging ayam, susu, olahan daging sapi dan ayam, beras, madu murni dan fermentasi, serta mesin pengurai sabut kelapa.
Selain itu terdapat pula benih tanaman hortikultura, cabai merah besar dan cabai rawit, bahan bangunan seperti atap, granite, aksesoris pintu jendela, shoun, dan pupuk bionira.
Di sisi lain, Provinsi NTT menjual sejumlah komoditas alam, seperti ikan tuna, tuna loin, kelapa utuh, madu, dan rumput laut.
Sementara untuk Jatim, investasi yang disepakati antara lain kandang layer dan broiler, konsumsi, dan peralatan dapur.
Khofifah menjelaskan, hubungan dagang antara Jatim-NTT selalu menunjukkan tren positif. Bahkan berdasarkan data BPS, Perdagangan Antar Wilayah (PAW) Jatim Tahun 2022, nilai perdagangan kedua provinsi ini mencapai Rp5,29 triliun, terdiri atas nilai bongkar (pembelian Jatim dari NTT) sebesar Rp533 miliar dan nilai muat (penjualan Jatim ke NTT) sebesar Rp 4,76 triliun. Sehingga, neraca perdagangan Jawa Timur terhadap NTT tercatat surplus Rp 4,22 triliun.
Lima komoditas utama Jatim yang paling banyak dijual ke NTT meliputi beras (42,34%), makanan hewan (9,30%), mobil penumpang (7,78%), alat transportasi umum bermotor (5,06%), dan sepeda motor (2,5%).
Sebaliknya, Jatim banyak membeli jagung (44,52%), kopi hijau (18,93%), buah berlemak (11,71%), bahan anyaman (6,79%), dan kakao (4,02%) dari NTT.
"Hubungan dagang antara Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur telah tumbuh dengan baik dan memberi manfaat ekonomi nyata. Kita ingin hubungan ini terus meningkat dan melahirkan banyak pelaku usaha baru yang siap naik kelas," ucapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, Jawa Timur saat ini masih menjadi salah satu motor penggerak perekonomian nasional, dengan kontribusi 14,44% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Bahkan pada triwulan II-2025, ekonomi Jatim tumbuh 5,23% (Year-on-Year/YoY), lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 5,12%.
Adapun Nilai PDRB ADHB Jatim pada semester I-2025 tercatat mencapai Rp1.668,6 triliun. Dari sisi perdagangan, Jatim juga mencatat surplus Rp120,61 triliun pada semester I-2025, setelah pada 2024 membukukan surplus Rp187,93 triliun dari total aktivitas ekspor-impor.
"Capaian ini tentunya, tidak terlepas dari peran serta dan kerja sama yang baik dengan provinsi-provinsi mitra, termasuk Provinsi NTT," katanya.
Khofifah berharap, Jatim dapat semakin berperan aktif membangun jembatan ekonomi antara wilayah barat hingga timur Indonesia sekaligus memperkuat konektivitas dan pemerataan pertumbuhan antarwilayah.
"Pertemuan kita hari ini tidak semata-mata pertemuan misi dagang dan investasi, tetapi dari Bumi Majapahit, kita merajut keterhubungan budaya, persaudaraan dan persatuan ke seluruh nusantara. Konektivitas antara Indonesia barat dan timur harus terus dibangun. Harus ada yang menjadi penghubungnya, yang membangun sinerginya," jelasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTT, Johni menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Misi Dagang dan Investasi Jatim di Kupang.
Ia menilai kegiatan tersebut menjadi sarana penting dalam memperkuat sinergi ekonomi antarprovinsi, sekaligus memenuhi kebutuhan komoditas strategis di wilayah NTT.
Selama ini, sejumlah produk asal Jatim seperti pakan ternak, beras, gandum, buah-buahan, kedelai, serta benih ikan lele dan bandeng, merupakan kebutuhan utama masyarakat dan para pelaku usaha di NTT.
"Khusus untuk beras serta benih ikan lele dan bandeng, pasokan dari Jawa Timur sangat membantu menjaga ketahanan pangan dan mendukung perkembangan budidaya perikanan di NTT. Kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat agar ekonomi kedua daerah semakin maju dan saling menopang," pungkasnya.