Bisnis.com, JAKARTA — Ukraina menguji senjata laser Sunray untuk menembak jatuh drone Rusia di tengah meningkatnya serangan udara. Drone menjadi ancama utama dalam perang tersebut.
Empat tahun setelah invasi Rusia, Ukraina kini berada di garis depan perubahan besar dalam sistem pertahanan udara.
Perang modern yang semakin bergantung pada drone memaksa banyak negara memikirkan ulang cara bertahan dari serangan udara murah namun mematikan.
Dalam konflik Rusia dan Ukraina, drone menjadi senjata utama kedua belah pihak. Diperkirakan sekitar 70% korban jiwa berkaitan dengan penggunaan drone.
Serangan ini tidak hanya memperluas jangkauan medan perang, tetapi juga membuat kota, jalur logistik, hingga infrastruktur sipil menjadi target. Kondisi tersebut menuntut sistem pertahanan yang mampu menghadapi serangan massal drone dengan biaya yang lebih efisien.
Laser Sunray, Senjata Baru Anti Drone
Di tengah tekanan tersebut, Ukraina menguji coba senjata laser berenergi tinggi bernama Sunray. Menurut aporan Simon Shuster dari The Atlantic yang dikutip dari BGR Selasa (24/2/2026), mengenai senjata ini muncul pada Februari 2026. Bentuknya menyerupai teleskop kecil dengan kamera di kedua sisi untuk mendeteksi dan melacak target.
Ukurannya cukup ringkas hingga bisa dimasukkan ke bagasi mobil. Dalam uji coba tentara Ukraina berhasil menembak jatuh drone dari jarak beberapa ratus meter hanya dari atas kap mobil pikap.
Berbeda dari gambaran laser di film-film, Sunray tidak memancarkan cahaya mencolok atau suara keras. Drone sasaran tiba-tiba terbakar di udara, seolah tersambar petir tak terlihat, lalu jatuh ke tanah.
Pengembangan Sunray memakan waktu sekitar dua tahun dengan biaya beberapa juta dolar. Harga produksinya diperkirakan hanya ratusan ribu dolar per unit jauh lebih murah dibandingkan proyek laser Barat.
Sebagai perbandingan, Inggris menggelontorkan sekitar US$427 juta untuk proyek laser DragonFire, sementara Amerika Serikat mengembangkan sistem Helios lewat kontrak senilai US$150 juta dengan Lockheed Martin.
Komandan pertahanan udara Ukraina Pavlo Yelizarov, berpendapat perbedaan biaya ini mencerminkan kebutuhan mendesak di medan perang. Jika perusahaan Barat didorong oleh pendanaan besar, Ukraina didorong oleh kebutuhan untuk bertahan hidup.
Serangan drone Rusia berlangsung hampir setiap minggu, terutama di kota-kota seperti Kherson dan Nikopol. Ribuan drone kecil bermuatan bahan peledak membanjiri wilayah tersebut. Pada 2025 saja, sedikitnya 2.514 warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan.
Masalah terbesar bagi Ukraina adalah biaya. Drone Shahed produksi massal Rusia yang berakar dari desain Iran diperkirakan berharga sekitar US$35.000 per unit.
Namun untuk menembaknya jatuh, Ukraina sebelumnya harus menggunakan sistem rudal mahal seperti Patriot buatan AS, yang biayanya bisa mencapai jutaan dolar per tembakan. Ketimpangan biaya ini membuat pertahanan udara konvensional menjadi tidak efisien dalam jangka panjang.
Di sinilah laser seperti Sunray dinilai berpotensi mengubah permainan. Tanpa membutuhkan amunisi mahal, senjata ini hanya memerlukan energi listrik untuk menembakkan sinarnya. (Nur Amalina)