Bisnis.com, BATAM — Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra menempatkan Batam pada jalur pertumbuhan yang relatif agresif di tingkat regional.
Sejak dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, duet tersebut mengawal akselerasi investasi dan penguatan indikator makroekonomi kota industri tersebut.
Pertumbuhan ekonomi Batam pada triwulan III 2025 tercatat 6,89%, melampaui rata-rata provinsi dan nasional. Laju tersebut ditopang oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, serta jasa yang masih menjadi tulang punggung struktur ekonomi kota.
Dari sisi penanaman modal, realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp69,3 triliun atau 115,5% dari target. Capaian ini mempertegas posisi Batam sebagai salah satu magnet investasi nasional, terutama untuk sektor manufaktur berorientasi ekspor dan logistik.
Amsakar menyebut stabilitas iklim usaha menjadi faktor kunci.
“Pertumbuhan ekonomi meningkat dan investasi melampaui target. Ini hasil kerja kolektif seluruh elemen,” ujarnya dalam dialog satu tahun kepemimpinan di Kantor Wali Kota.
Kinerja ekonomi tersebut berdampak pada perbaikan sejumlah indikator sosial. Tingkat kemiskinan turun menjadi 3,81% pada 2025, terendah dalam lima tahun terakhir. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga menurun menjadi 7,57%, seiring ekspansi industri dan penyerapan tenaga kerja. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat ke level 83,80.
Di sisi daya saing, pemerintah kota mengombinasikan stimulus sosial dengan penguatan ekonomi riil. Program pinjaman modal tanpa bunga hingga Rp20 juta bagi 1.500 pelaku UMKM diluncurkan untuk memperluas akses pembiayaan usaha mikro. Pelatihan tenaga kerja dan pengembangan industri kreatif juga diperluas guna menyesuaikan kebutuhan pasar kerja industri.
Belanja publik turut diarahkan untuk menopang produktivitas jangka panjang, antara lain melalui pembangunan ruang kelas baru, unit sekolah, serta perlindungan jaminan sosial bagi pekerja rentan. Cakupan JKN-KIS yang mencapai 97,86 persen dinilai mendukung stabilitas sosial yang berimplikasi pada iklim investasi.
Namun demikian, pemerintah Kota Batam masih menghadapi tantangan infrastruktur dasar yang berpengaruh langsung terhadap efisiensi ekonomi, seperti pengelolaan sampah, penanganan banjir, dan optimalisasi layanan air bersih bersama BP Batam. Perbaikan distribusi air dan penanganan titik krisis menjadi prioritas untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Wakil Wali Kota Batam Li Claudia menegaskan agenda pembangunan difokuskan pada pertumbuhan yang inklusif.
“Semua membutuhkan proses dan dukungan bersama agar pembangunan berjalan berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan kombinasi pertumbuhan tinggi dan realisasi investasi yang melampaui target, Batam berupaya mengonsolidasikan posisinya sebagai hub industri dan perdagangan di kawasan barat Indonesia, sekaligus menjaga kualitas pertumbuhan agar tetap inklusif dan berkelanjutan.