Bisnis.com, SINGAPURA – Keberhasilan proyek ekspor listrik diproyeksi akan meningkatkan minat investor di sektor energi terbarukan di Tanah Air. Investor yang terlibat dalam proyek pembangkit energi bersih hingga 3,4 gigawatt hingga 2035 ini menanti terbitnya izin ekspor listrik dari Kementerian ESDM.
Salah satu anggota konsorsium proyek ekspor listrik ke Singapura, PT Medco Power Indonesia (Medco Power) melihat proyek ini menjadi peluang strategis yang dapat mendorong industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hal ini dipandang mirip dengan momentum ekspor LNG pada era 1970-80an. Namun, untuk mendorong industrialisasi, investor memerlukan kepastian regulasi dan iklim investasi yang kompetitif agar potensi besar energi terbarukan dalam negeri dapat lebih dimanfaatkan.
President Director & Chief Executive Officer Medco Power Eka Satria menjelaskan Indonesia memiliki potensi besar di tenaga surya hingga 3.200 GW, sementara pemanfaatannya masih di bawah 1%
Eka menegaskan bahwa proyek ekspor listrik berbasis energi tenaga surya ke Singapura, seperti yang sedang digarap Medco Power di Pulau Bulan merupakan peluang yang tidak akan datang dua kali.
“Kita membutuhkan devisa dan investasi (FDI) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (GROW). Proyek ekspor listrik ini memenuhi kedua hal tersebut. Ini baik untuk negara kita,” ujar Eka di sela Singapore International Energy Week (SIEW) 2025, Selasa (28/10/2025).
Menurutnya, peluang Indonesia perlu dibarengi dengan kewaspadaan. Pasalnya, Ketua Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) menyoroti negara seperti Malaysia (Sarawak) dan Thailand juga agresif menawarkan listrik hijau ke Singapura.
“Kita berkompetisi. Potensi ini kalau tidak digarap secepatnya ya hilang. Yang rugi kita sendiri,” katanya.
Adapun Medco Power bersama dengan Konsorsium Pacific Light Power Pte Ltd (PLP) dan Gallant Venture Ltd, yang merupakan bagian dari Salim Group, akan mengerjakan PLTS berkapasitas 670 MWp sebagai tahap awal, yang akan menyediakan listrik yang setara dengan 100 MW non-intermittent ke Singapura.
“Progress-nya bagus, kita sudah melakukan studi, kita mungkin salah satu pengembang yang mendapatkan the first import license, kita juga udah punya tempatnya,” katanya.
Selain itu, Gurin Energy juga optimistis proyek ekspor listrik tenaga surya (PLTS) ke Singapura, mengungkapkan investasi proyek ekspor listrik di Kepulauan Riau akan memberikan banyak manfaat bagi Indonesia.
Chief Financial Officer Gurin Energy, Michael Boardman menyatakan investasi senilai triliunan rupiah dari proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kepulauan Riau akan secara masif menyerap produk dan komponen dalam negeri. “Perusahaan-perusahaan global itu mendirikan pabrik di Indonesia karena mereka tahu proyek-proyek ekspor listrik ini sedang dimulai, sehingga mereka ingin bisa memasok panel yang mereka produksi di sini kepada kami,” ujarnya kepada Bisnis.
Boardman memperkirakan total investasi untuk seluruh proyek ekspor listrik, yang saat ini berjumlah lima proyek, diperkirakan mencapai US$50 miliar atau setara dengan Rp800 triliun (asumsi kurs Rp16.000).
Dari investasi tersebut, menurutnya, diperkirakan pemerintah akan menerima pendapatan pajak sekitar US$15 miliar dari mengekspor listrik ke Singapura.
Tidak hanya investasi di sektor panel surya, Boardman memperkirakan akan ada investasi untuk baterai penyimpanan. Boardman mengaku perusahaan-perusahaan telah mendirikan pabrik di Indonesia untuk merakit battery pack yang akan dibeli dan dipasang di pembangkit.
“Jadi, akan ada banyak uang yang diinvestasikan di Indonesia untuk membangun baterai, struktur pemasangan (mounting structures), dan panel untuk memasok proyek-proyek ini,” tegas Boardman.
Seperti Medco Power, saat ini, Gurin Energy juga menanti terbitnya lisensi ekspor listrik dari Kementerian ESDM. Lebih lanjut, Boardman menyatakan komitmen jangka panjang Gurin Energy di Indonesia, tidak hanya untuk pasar ekspor.
Setelah proyek di Kepulauan Riau ini, perusahaan asal Selandia Baru ini terbuka untuk mengembangkan proyek energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri.
“Kami ingin melakukan banyak hal di Indonesia, untuk Indonesia, di sektor energi terbarukan. Kami akan fokus bergerak di surya, angin, dan baterai. Kami melihat banyak potensi di Indonesia untuk melakukan proyek ini dan menjual listriknya di Indonesia,” tambahnya.
Sebelumnya, pemerintah Singapura berharap proyek ekspor listrik dari Indonesia dapat didorong seiring dengan komitmen kedua negara. Menteri Energi dan Ilmu Pengetahuan & Teknologi Singapura, Tan See Leng, menyatakan dalam upaya mengamankan masa depan energi rendah karbon, Singapura, harus bekerja lebih cerdas dan keras.
Tan menggambarkan kondisi yang dihadapi Singapura sebagai pulau kecil dengan kota metropolitan tetapi kurang beruntung dalam hal pasokan energi.
"Dengan dukungan kuat dari kedua pemerintah, saya optimistis bahwa fase pertama proyek impor listrik akan mencapai financial closed segera. Dan kita dapat melihat dimulainya aliran dalam dekade ini," katanya dalam pembukaan Singapore International Energy Week (SIEW) 2025, Senin (27/10/2025).
Bagi Indonesia, kesepakatan ekspor listrik menjadi yang perdana dalam hal perdagangan energi lintas batas. Di sisi lain, kerja sama ini Singapura - Indonesia dalam perdagangan listrik lintas batas juga didorong dalam rangka memanfaatkan potensi energi terbarukan Indonesia yang melimpah, khususnya energi surya.
Di sisi lain, bagi Singapura, kerja sama ini dapat digunakan untuk mendiversifikasi sumber energinya dan mencapai tujuan dekarbonisasi.
Setidaknya ada tiga poin dalam perjanjian kerja sama pada proyek energi hijau ini, yang meliputi perdagangan listrik energi yang bersih, lalu carbon capture storage (CCS), dan yang ketiga membangun kawasan industri hijau bersama di Provinsi Kepulauan Riau.
Melihat potensi ini, Wakil Ketua MPR RI yang juga Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno mengatakan keberhasilan proyek ini menjadi bukti perencanaan kerja sama Indonesia sebagai bagian dari Asean.
“Kita lihat, Singapura pada akhirnya butuh banyak energi, dia menjadi user (offtaker). Dan sumber-sumber energi terbarukan yang besar datang dari Indonesia, Malaysia dan mungkin Vietnam,” ujarnya.
Akhirnya, lanjut Eddy, proyek ekspor listrik dari Indonesia ke Singapura juga jadi jalan untuk mewujudkan Asean Power Grid yang sesungguhnya. Wacana APG ini sudah lebih dari 25 tahun digulirkan, tetapi belum juga terwujud hingga kini.