Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perunggasan PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. menargetkan pertumbuhan kinerja pada 2026 dengan fokus menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya bahan baku.
Direktur Sreeya Sewu Indonesia Natanael Yuyun Suryadi mengatakan perseroan membidik pertumbuhan pendapatan sekitar 10%–15% secara tahunan. Laba bersih ditargetkan meningkat lebih tinggi, dengan pertumbuhan di kisaran 30%–40%.
“Dari sisi top line kami tetap bertumbuh, tetapi tidak terlalu agresif karena kondisi ekonomi global memberi tekanan pada biaya. Fokus kami adalah menjaga struktur biaya dan mempertahankan gross margin,” ujarnya setelah rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada Selasa (21/4/2026).
Pada 2025, SIPD mencatatkan pendapatan Rp5,44 triliun, naik 1,51% secara year on year (YoY) dari sebelumnya Rp5,36 triliun. Laba bersih melonjak tajam menjadi Rp29,32 miliar dari Rp3,32 miliar pada 2024.
Menurutnya, tekanan biaya pada tahun ini antara lain berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah, mengingat sebagian bahan baku masih bergantung pada impor. Selain itu, risiko fenomena El Nino juga diperkirakan berdampak pada kenaikan harga jagung sebagai bahan baku utama pakan.
Perseroan memperkirakan harga jagung berpotensi meningkat terutama pada kuartal III/2026, meskipun bergantung pada hasil panen. Jika kondisi cuaca kering menekan produksi, maka lonjakan harga jagung akan langsung berdampak pada profitabilitas produsen pakan.
Meski demikian, SIPD melihat adanya penopang dari sisi permintaan. Harga ayam hidup (live bird) dan produk downstream relatif kuat, didorong oleh konsumsi masyarakat yang terus tumbuh. Saat ini, harga ayam potong stabil berada di kisaran Rp20.000–Rp23.000 per kilogram, dibandingkan kuartal II/2025 yang sempat anjlok di Rp15.000.
“Permintaan sejak akhir tahun lalu hingga sekarang terus meningkat. Salah satunya berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendukung pertumbuhan industri. Hal Ini membantu menjaga profitabilitas perusahaan,” kata Natanael.
Ke depan, perseroan juga akan memperkuat segmen downstream seperti ayam potong dan produk makanan beku, seiring potensi konsumsi protein hewani yang masih besar di Indonesia.
Konsumsi ayam per kapita domestik saat ini berada di kisaran 10,1–10,5 kg per tahun, masih di bawah negara Asia Tenggara seperti Filipina dan Thailand yang telah melampaui 12 kg per kapita.
SIPD menilai, dengan kondisi ekonomi yang stabil dan daya beli terjaga, konsumsi ayam nasional masih berpotensi tumbuh 10%–20% dalam beberapa tahun ke depan.
Selain itu, perseroan tengah menyiapkan ekspansi portofolio ke pakan ternak non-unggas (non-chicken) guna mengurangi volatilitas bisnis. Segmen ini dinilai memiliki fluktuasi harga yang lebih rendah dibandingkan pakan ayam broiler.
Dari sisi kapasitas, SIPD masih memiliki ruang ekspansi organik tanpa penambahan fasilitas baru. Tingkat utilisasi pabrik pakan ternak saat ini berada di kisaran 70%, sedangkan pabrik baru di segmen penghiliran ayam beroperasi pada level 60%–65%.
“Kapasitas yang ada masih cukup untuk mendukung pertumbuhan penjualan 10%–20% dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.
Dengan strategi tersebut, SIPD optimistis dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas di tengah dinamika biaya dan ketidakpastian pada 2026.