Bisnis.com, JAKARTA — Laporan terbaru dari Pew Charitable Trusts bersama ICF International mengestimasi bahwa polusi atau sampah plastik global akan menembus 280 juta ton per tahun pada 2040. Volume ini setara dengan satu truk timbunan sampah yang dibuang setiap detik.
Mengutip Bloomberg, laporan berjudul Breaking the Plastic Wave 2025 tersebut menelaah polusi plastik dan dampaknya terhadap kesehatan manusia serta lingkungan dengan pendekatan hybrid. Kajian ini menggabungkan riset terkini dan mengujinya melalui model yang memproyeksikan hasil di bawah sejumlah skenario.
Winnie Lau, direktur Pew untuk pencegahan polusi plastik laut sekaligus salah satu penulis laporan, menyatakan bahwa timnya berupaya menghadirkan analisis terintegrasi untuk menilai dampak polusi plastik di berbagai sektor.
Pew pernah merilis laporan serupa pada 2020, tetapi cakupannya saat itu terbatas pada polusi dari plastik konsumsi, seperti kemasan yang berakhir di sistem pengelolaan sampah. Laporan terbaru kini memperluas cakupan hingga ke plastik “tersembunyi” yang digunakan di sektor konstruksi, pertanian, dan transportasi.
Jika tren saat ini berlanjut, gambaran polusi plastik pada 2040 terlihat suram. Produksi plastik murni diproyeksikan meningkat 52%, atau dua kali lebih cepat daripada kapasitas sistem pengelolaan sampah.
Sementara itu, emisi gas rumah kaca terkait plastik diperkirakan melonjak 58% menjadi 4,2 gigaton ekuivalen CO₂ per tahun. Angka tersebut akan menempatkan sektor plastik sebagai penghasil emisi terbesar ketiga di dunia apabila ia diperlakukan sebagai sebuah negara. Jejak emisi jumbo ini tidak terlepas dari fakta bahwa sebagian besar plastik berasal dari bahan bakar fosil.
Saat ini terdapat sekitar 16.000 kandungan bahan kimia dalam plastik, dan ilmuwan telah mengidentifikasi bahwa lebih dari seperempatnya berpotensi membahayakan kesehatan manusia.
Dalam lima tahun sejak laporan Pew sebelumnya, gelombang riset berfokus pada pemahaman soal bagaimana kelompok bahan kimia yang dikenal sebagai endocrine disruptors yang banyak ditemukan dalam produk kosmetik dan peralatan masak dapat memengaruhi fungsi pencernaan, reproduksi, dan kognitif.
Pew juga memodelkan dampak kesehatan global yang terkait dengan proses produksi dan pembuangan plastik beserta polusi turunannya, tetapi tidak termasuk mikroplastik. Para penulis turut memperkirakan bahwa populasi dunia akan kehilangan 5,6 juta total tahun hidup sehat pada 2025 dan 9,8 juta tahun pada 2040. Produksi plastik primer menjadi penyumbang terbesar atas proyeksi ini, karena kaitan bahan tersebut dengan kanker dan penyakit pernapasan.
Negara dan komunitas sebenarnya telah memiliki instrumen untuk menekan produksi dan penggunaan plastik secara signifikan. Kebijakan dapat diarahkan untuk mewajibkan desain produk dan kemasan yang lebih baik serta berinvestasi pada infrastruktur yang mendukung sistem daur ulang.
Dalam skenario ideal Pew, subsidi untuk produksi plastik dihapuskan dan layanan pengumpulan sampah diperluas secara besar-besaran. Jika hal ini terwujud, hampir 100% kemasan konsumen dapat dikumpulkan dan tingkat daur ulang berpotensi meningkat dua kali lipat.
Namun bahkan dalam kondisi ideal sekalipun, mikroplastik akan jauh lebih sulit dikendalikan. Sumber utama mikroplastik berasal dari debu ban kendaraan, cat, dan produk pertanian yang hampir tidak memiliki material substitusi langsung.
Pew merekomendasikan penurunan produksi plastik secara total, penggunaan bahan kimia yang lebih aman, serta intervensi spesifik untuk mengurangi pelepasan mikroplastik. Kelompok antiplastik pun menyambut laporan tersebut.
“Kita memerlukan regulasi yang mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya dalam plastik dan membatasi produksi plastik, dan kami mengapresiasi Pew karena memprioritaskan langkah-langkah ini,” ujar Judith Enck, Presiden Beyond Plastics dan mantan pejabat Regional Administrator di Environmental Protection Agency.
Namun Enck menilai proyeksi penulis laporan mengenai peningkatan signifikan daur ulang plastik terlalu optimistis.
“Ada alasan kuat mengapa tingkat daur ulang plastik tidak pernah menembus dua digit. Kompleksitas kimia dan polimer plastik membuat daur ulang skala besar secara teknis dan ekonomis hampir mustahil. Kita membuang waktu berharga dengan terus mengandalkan sistem yang sudah puluhan tahun tidak bekerja,” kata Enck.