Bisnis.com, JAKARTA - Memasuki musim pancaroba seperti sekarang, anak-anak cenderung lebih rentan terserang batuk dan pilek akibat perubahan cuaca yang tidak menentu. Kondisi ini kerap membuat orang tua khawatir, terlebih ketika si kecil menjadi rewel dan sulit beristirahat.
dr. Clavelina Astriani, Senior Medical Affairs Manager Combiphar, menyebut beberapa studi klinis menunjukkan adanya perubahan respons imun tubuh saat terpapar suhu panas maupun dingin. Hal ii dapat menyebabkan tubuh rentan terkena infeksi.
Pada masa pancaroba, suhu dan kelembapan udara juga sering berubah dan dapat memengaruhi kondisi saluran napas, misalnya membuat lapisan pelindung di hidung dan tenggorokan bekerja kurang optimal.
"Pada masa pancaroba, perubahan pola cuaca seperti suhu dan kelembaban dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, seperti batuk dan pilek," katanya dalam acara edukasi kesehatan Waspada ISPA di Musim Pancaroba: Jaga Kesehatan Pernapasan Keluarga di Jakarta, Rabu, (15/4/2026)
Dokter Clavelina Astriani menjelaskan bahwa ketika anak sudah mengalami batuk dan pilek, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu meredakan gejalanya. Salah satunya adalah memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup dan berkualitas, serta tidak terlalu banyak beraktivitas bermain agar tubuhnya bisa beristirahat.
Selain itu, penting juga untuk menjaga asupan cairan dengan memberikan anak minum air putih yang cukup agar tidak mengalami dehidrasi. Jika diperlukan, penggunaan baby balm juga dapat menjadi pilihan untuk membantu memberikan rasa nyaman pada anak selama masa pemulihan.
"Terkait baby balm, kita perlu lebih banyak membaca lagi studinya, tetapi ada yang bilang itu memang bisa membantu," katanya.
Oleh karena itu, menurutnya, fokus utama sebaiknya diarahkan pada penguatan daya tahan tubuh anak. Salah satu kunci pentingnya adalah memastikan pemenuhan nutrisi yang cukup dan seimbang agar sistem imun tetap optimal dalam melawan infeksi.
Namun, tantangan yang sering muncul adalah ketika anak sedang sakit justru kehilangan nafsu makan. Menurutnya, kondisi ini perlu tetap diperhatikan orang tua, karena jika asupan makanan terus berkurang, proses pemulihan bisa berlangsung lebih lama dan anak menjadi sulit untuk segera pulih.
Dokter Clavelina menyebut jika orang tua ingin memberikan obat, hal penting yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian jenis obat dengan kondisi batuk yang dialami anak. Secara umum, katanya, batuk terbagi menjadi dua jenis, yakni batuk kering dan batuk berdahak, yang masing-masing membutuhkan penanganan berbeda.
Perbedaannya dapat dikenali dari gejalanya. Batuk kering umumnya tidak disertai suara “grok-grok” atau berlendir, sedangkan batuk berdahak biasanya terdengar lebih basah karena adanya produksi dahak di saluran pernapasan.
Keduanya membutuhkan obat yang berbeda. Kesalahan dalam memilih obat, misalnya batuk berdahak yang justru diberi obat batuk kering, dapat membuat lendir tertahan di saluran napas. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penumpukan dahak yang pada kasus tertentu bisa berujung pada sesak napas.
“Kalau lendirnya tidak dikeluarkan, dia bisa menumpuk dan membuat saluran pernapasan menjadi tertutup, jadi sesak,” terangnya.
Namun, jika gejala batuk dan pilek pada anak tidak kunjung membaik, sebaiknya orang tua segera membawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Biasanya, dokter akan meresepkan obat pengencer dahak serta obat-obatan lain yang disesuaikan dengan kondisi dan gejala yang dialami anak agar proses pemulihan dapat berjalan lebih optimal.