Bisnis.com, JAKARTA — Asia menghadapi rangkaian cuaca ekstrem sepanjang 2025, mulai dari gelombang panas, banjir, hingga kekeringan, yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi besar. Kondisi tersebut terjadi seiring tren pemanasan kawasan yang terus meningkat, menurut laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO).
Dalam laporan State of the Climate in Asia 2025 yang dirilis Selasa (17/6/2026), WMO mencatat suhu rata-rata tahunan Asia pada 2025 berada 0,96 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991–2020. Dengan kondisi tersebut, 2025 menjadi salah satu dari empat tahun terpanas yang pernah tercatat di kawasan itu. WMO juga mencatat laju pemanasan Asia selama 1991–2025 berlangsung hampir dua kali lebih cepat dibandingkan periode 1961–1990.
Gelombang panas menjadi fenomena cuaca yang mendominasi sebagian besar wilayah Asia. Kawasan Asia Timur seperti Jepang, China, dan Korea Selatan mencatat musim panas terpanas dalam sejarah.
Sementara itu, Kazakhstan mencatat suhu hingga 14 derajat Celsius di atas normal pada Maret, April, Juni, dan Juli. Adapun Bahrain mencatat sepuluh hari berturut-turut dengan suhu di atas 40 derajat Celsius pada musim panas 2025. Kondisi panas, kering, dan berangin juga memicu kebakaran hutan terbesar yang pernah tercatat di Korea Selatan.
Di sisi curah hujan, sebagian besar Asia Selatan menerima curah hujan di atas rata-rata. Banjir monsun di Pakistan menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memaksa lebih dari 3 juta orang membutuhkan bantuan. Di Vietnam, banjir berkepanjangan yang dipicu dinamika sistem cuaca telah menyebabkan setidaknya 200 kematian dan kerugian ekonomi sebesar US$1,9 miliar.
Kawasan Asia Tenggara juga tak luput dari curah hujan tinggi. Siklon Senyar pada akhir 2025 membawa curah hujan luar biasa dan banjir parah di sebagian wilayah Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Fenomena ini menandai munculnya risiko aktivitas siklon tropis yang tidak biasa dan berkembang dengan cepat di kawasan dekat ekuator.
Sebaliknya, kondisi kering yang berkepanjangan melanda Asia Barat dan Asia Tengah. Di Iran, kekeringan jangka panjang berkontribusi pada krisis kekurangan air. Badai debu parah juga melanda sebagian besar Asia Barat pada pertengahan April dan berdampak pada transportasi, kesehatan, dan aktivitas ekonomi.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan Asia menghadapi dampak berlapis dari perubahan iklim yang makin intensif.
"Asia terdampak oleh kenaikan suhu, pemanasan air laut, kenaikan permukaan laut, dan mundurnya gletser. Hujan lebat, banjir, dan kekeringan membawa biaya ekonomi dan kemanusiaan yang besar, sementara gelombang panas, badai debu, dan banjir glasial menjadi ancaman utama yang makin besar," katanya, dikutip dari siaran pers, Selasa (17/6/2026).
Panas Laut Asia Sentuh Rekor
Laporan ini juga mencatat kondisi lautan di kawasan Asia yang mencapai rekor baru. Kandungan panas laut di kawasan Asia mencapai rekor tertinggi pada 2025, dengan gelombang panas laut yang melanda hampir seluruh area laut Asia. Setidaknya ada lebih dari 10 juta kilometer persegi area yang terdampak selama Juli–September, lebih luas dari daratan China maupun Amerika Serikat.
Permukaan laut di kawasan Asia juga mencapai level tertinggi sejak pencatatan satelit dimulai pada 1999. Laju kenaikan permukaan laut di sepanjang pantai utara Samudra Hindia melampaui rata-rata global sebesar 3,6 milimeter per tahun, mencapai sekitar 4,9 milimeter per tahun di sepanjang pantai India dan lebih dari 6 milimeter per tahun di kawasan Arus Kuroshio.
Kondisi gletser di kawasan Asia turut memburuk. Seluruh 23 gletser yang dipantau di kawasan Pegunungan Asia Tinggi tercatat kehilangan massa pada tahun glasiologi 2025. Hilangnya gletser terutama disebabkan oleh akumulasi salju musim dingin yang berada di bawah rata-rata, serta tingkat suhu yang terus-menerus di atas rata-rata dari Mei hingga September.
WMO mencatat pencairan gletser ini mengancam ketahanan air jangka panjang di kawasan dengan populasi terpadat di dunia tersebut, sekaligus memicu sejumlah banjir danau glasial dan keruntuhan gletser.
Di Sri Lanka, Siklon Ditwah membawa curah hujan yang setara dengan sekitar 10% dari total curah hujan tahunan hanya dalam waktu 24 jam. Bencana tersebut menyebabkan jatuhnya lebih dari 640 korban jiwa, memaksa lebih dari 200.000 orang mengungsi, dan menimbulkan kerugian ekonomi sekitar 4% dari produk domestik bruto (PDB).
Sebaliknya, evakuasi dini yang dilakukan saat hujan lebat melanda Provinsi Sichuan di China terbukti membantu menekan jumlah korban jiwa.
Pejabat senior PBB sekaligus Sekretaris Eksekutif United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP), Armida Salsiah Alisjahbana, menilai kesiapsiagaan menjadi kunci menghadapi risiko iklim yang makin kompleks.
"Di seluruh Asia dan Pasifik, panas memperparah risiko multibahaya, bersinggungan dengan sistem pangan, kesehatan masyarakat, infrastruktur, dan lautan. Peringatan dini dan tindakan dini menyelamatkan nyawa ketika peringatan tepat waktu, pesan dipercaya, dan pengiriman informasi menjangkau kelompok rentan," katanya.