Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pembangunan kapal perang baru bertajuk Trump-class untuk memodernisasi armada Angkatan Laut AS sekaligus mengejar ketertinggalan produksi kapal dari China.
Dalam acara yang digelar di resor Mar-a-Lago milik Trump di Florida, ditampilkan poster bergambar ilustrasi kapal perang futuristis bernama USS Defiant. Ilustrasi tersebut menampilkan kapal berdesain ramping yang membelah gelombang laut, dengan sorotan sinar laser dari dek kapal dan asap membubung dari sasaran di kejauhan.
Di samping gambar kapal, terdapat foto Trump mengangkat tinjunya ke udara—menyerupai pose simbolis yang dia lakukan beberapa menit setelah selamat dari upaya pembunuhan pada 2024. Poster lain menampilkan USS Defiant berlayar di dekat Patung Liberty.
“Sebagian armada kita sudah tua, lelah, dan usang, dan kita akan bergerak ke arah yang sepenuhnya berlawanan,” ujar Trump dikutip dari Bloomberg, Selasa (23/12/2025).
Dia menambahkan bahwa Angkatan Laut AS akan memimpin desain kapal tersebut bersamanya.
“Saya orang yang sangat memperhatikan estetika,” katanya.
Selain kapal perang baru tersebut, Angkatan Laut AS juga tengah mengembangkan fregat baru berbasis Legend-class cutter untuk memperkuat armada kapal tempur permukaan yang saat ini hanya sepertiga dari kebutuhan ideal. Proyek kapal yang dinamai FF(X) itu akan dibangun oleh HII yang berbasis di Newport News, Virginia, sebagaimana diumumkan pada 19 Desember.
Kapal-kapal baru ini merupakan bagian dari inisiatif Golden Fleet Trump, yang bertujuan menghidupkan kembali industri galangan kapal AS sekaligus mengatasi kekurangan kapal berukuran kecil, di tengah persaingan strategis dengan China.
Menurut kajian terbaru Center for Strategic and International Studies (CSIS), saat ini, sekitar 53% produksi kapal dunia dilakukan di China, sementara AS hanya menyumbang sekitar 0,1%.
Amerika Serikat tercatat belum membangun kapal tempur jenis battleship sejak era 1940-an. Selama beberapa dekade terakhir, AS lebih memilih membangun kapal induk, kapal perusak, dan kapal bersenjata rudal jarak jauh ketimbang kapal besar dengan meriam berat. Trump menyebut pembangunan akan dimulai dengan dua unit dan ditargetkan mencapai hingga 25 kapal.
Namun demikian, realisasi produksi diperkirakan masih memerlukan waktu panjang. Upaya Trump pada masa jabatan sebelumnya untuk membangun fregat baru berakhir dengan keterlambatan signifikan dan lonjakan biaya. Rencana awal pembangunan 20 kapal terpaksa dipangkas drastis akibat kendala tersebut.
Sebelumnya, Trump juga telah mengaitkan namanya dengan sistem persenjataan lain, yakni jet siluman F-47, merujuk posisinya sebagai presiden ke-47 AS. Namanya juga disematkan pada sejumlah institusi, termasuk Donald J. Trump and the John F. Kennedy Memorial Center for the Performing Arts serta Donald J. Trump Institute of Peace.
Menteri Angkatan Laut AS John Phelan menyatakan bahwa proyek tersebut kini telah menjadi kebutuhan resmi militer.
“Bukan hanya ide Presiden yang baik, tetapi Angkatan Laut sangat membutuhkannya dan kini memiliki persyaratan formal,” ujar Phelan.
Dia menegaskan kapal perang Trump-class USS Defiant akan menjadi yang terbesar, paling mematikan, paling serbaguna, sekaligus paling menarik secara visual di lautan dunia.
Industri galangan kapal AS saat ini tertinggal jauh dari laju produksi China. Untuk mempersempit kesenjangan tersebut, pemerintahan Trump memprioritaskan investasi di sektor perkapalan domestik. Awal tahun ini, Trump membentuk Office of Shipbuilding dengan rencana pemberian insentif pajak guna menarik perusahaan manufaktur kembali ke AS.
Menurut Bryan Clark, senior fellow di Hudson Institute, pengumuman tersebut mencerminkan upaya Angkatan Laut memanfaatkan antusiasme pemerintahan terhadap pembangunan kapal.
“Jika pemerintah memiliki dana dan energi untuk membangun kapal, Angkatan Laut ingin memastikan investasi itu diarahkan pada kebutuhan nyata mereka,” ujarnya.
Kapal Trump-class direncanakan untuk menggantikan kapal perusak Arleigh Burke class, yang masih memiliki sisa masa pakai sekitar empat dekade dan dilengkapi sistem tempur Aegis dengan kemampuan pertahanan rudal.