Bisnis.com, JAKARTA — Pengemudi ojek online menilai jumlah mitra yang makin banyak saat ini berdampak pada pendapatan yang kian sedikit, yang mereka kantongi. Pengemudi berharap pihak aplikator seperti Gojek, Grab, dan Maxim, dapat memberikan solusi terbaik.
Berdasarkan hasil wawancara, para driver mengaku kondisi saat ini, di mana lapangan kerja belum tumbuh optimal dan badai PHK tahun lalu, memengaruhi jumlah pelanggan dan berdampak langsung pada penurunan pendapatan mereka.
Salah satu pengemudi ojek online, Syaiful, mengatakan awal mula dirinya bergabung menjadi driver ojol disebabkan oleh pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan tempatnya bekerja.
Saat pertama kali bergabung, Syaiful merasakan jumlah pelanggan ojek online masih tergolong cukup banyak. Namun, seiring berjalannya waktu terjadi penurunan jumlah pelanggan.
“Kalau sekarang makin ke sini, penumpang malah jadi driver ojol juga. Banyak yang gabung karena kena PHK, akhirnya mau tidak mau jadi ojol,” kata Syaiful kepada Bisnis, Sabtu (5/4/2026).
Pengemudi yang telah bergabung selama 10 tahun tersebut menjelaskan kondisi ini membuat jumlah driver kini lebih banyak daripada pelanggan ojek online. Tidak hanya itu, masalah tarif juga sangat berpengaruh terhadap pendapatan driver.
Dari sisi pengemudi, tarif yang diberikan oleh perusahaan dinilai cukup rendah. Apalagi, terdapat beberapa layanan yang membuat tarif semakin kecil, seperti layanan hemat hingga argo goceng. Belum lagi adanya potongan dari perusahaan yang dinilai cukup memberatkan.
“Yang ada di aplikasi pelanggan sama yang kita dapat itu beda. Misalkan pakai Aceng [argo goceng], di aplikasi pelanggan Rp10.500, kita hanya dapat sekitar Rp5.000,” jelasnya.
Selain itu, Syaiful juga mengungkapkan pendapatan yang diperoleh dari ojol sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarga. Biaya operasional seperti bensin dan perawatan motor menjadi beban utama. Pendapatan yang kecil seringkali tidak cukup untuk menutupi kebutuhan tersebut.
“Makan mungkin bisa ditahan, tapi kalau bensin? Kalau makan pasti ketemu, namanya juga di jalan,” ujarnya
Biaya Makin Mahal dan Dampaknya ke Pelanggan
Dia juga menilai jika biaya layanan ojek online meningkat, hal tersebut tidak akan terlalu memengaruhi jumlah pelanggan. Menurutnya, urusan harga sepenuhnya berada di antara pelanggan dan pihak aplikasi, sementara driver hanya menerima order tanpa mengetahui detail transaksi.
Hal serupa juga dialami oleh pengemudi ojol lainnya, Irfan. Dia mulai bergabung sebagai driver pada tahun 2021 karena sulitnya mencari pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Irfan menjalani beberapa pekerjaan sekaligus termasuk menjadi ojol.
Menurut Irfan, jumlah pelanggan ojol terasa semakin berkurang sejak awal dirinya bergabung. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk semakin banyaknya orang yang menjadi driver ojol.
“Agak berkurang sekarang, karena transportasi umum semakin banyak. Tapi yang paling terasa, driver ojol juga makin banyak,” ujar Irfan.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi para driver karena persaingan semakin ketat dalam mencari penumpang. Menurut Irfan, saat ini jumlah driver dan pelanggan tidak seimbang sehingga terjadi ketimpangan.
Dari sisi tarif yang ditetapkan perusahaan, menurutnya terdapat perbedaan dampak antara pengemudi dan pelanggan. Beberapa program seperti slot hemat dinilai merugikan driver karena pendapatan yang diterima jauh lebih kecil, sehingga turut menekan pendapatan driver reguler.
Namun di sisi lain, program hemat justru menjadi daya tarik bagi pelanggan karena perbedaan tarif yang cukup signifikan.
“Pelanggan masih ada, bisa dibilang lumayan,” tutupnya. (Nur Amalina)