Bisnis.com, JAKARTA — Sebuah toko elektronik besar memohon pelanggan untuk menjual PC lama mereka di kawasan Akihabara, Tokyo Jepang, akibat kelangkaan stok perangkat keras, termasuk RAM.
Sofmap Gaming, salah satu gerai elektronik ternama di Akihabara, secara terbuka mengunggah permintaan melalui akun X (Twitter).
Mereka meminta pelanggan yang membeli PC baru untuk menjual kembali PC gaming lama mereka ke toko. Alasannya sederhana stok PC, termasuk yang bekas, hampir habis total.
Dalam unggahannya, Sofmap juga membagikan foto rak-rak kosong di toko tiga lantainya.
“PC gaming, bahkan yang bekas sekalipun, benar-benar sulit ditemukan saat ini,” tulis mereka. Tak hanya itu, toko ini mengaku siap membeli hampir semua jenis PC mulai dari desktop gaming, laptop, hingga komputer biasa non gaming dengan harga yang cukup tinggi.
Fenomena ini bukan terjadi tanpa sebab. Dunia PC saat ini sedang menghadapi krisis pasokan perangkat keras, terutama memori. Permintaan besar-besaran dari industri pusat data dan kecerdasan buatan (AI) membuat produsen memori kewalahan. Akibatnya, pasar konsumen ikut terdampak.
Dilansir dari Tom’s Hardware Senin (19/1/2026), salah satu yang paling terasa adalah kenaikan harga RAM DDR5. Beberapa paket RAM DDR5 kini dijual dengan harga lebih dari tiga kali lipat dibanding beberapa bulan lalu. Kondisi ini membuat banyak orang menunda atau bahkan membatalkan rencana merakit PC baru.
Awalnya, banyak yang berharap DDR4 bisa menjadi solusi sementara karena stok lama masih tersedia. Bahkan, sejumlah produsen motherboard kembali merilis produk yang mendukung DDR4. Namun kenyataannya, dampak krisis terus merembet ke berbagai lini mulai dari PC rakitan, kartu grafis, hingga GPU generasi terbaru yang kabarnya mengalami penundaan.
Hal yang mengejutkan, PC bekas pun kini laris manis. Laporan dari Jepang menunjukkan bahwa konsumen mulai melirik komputer lama sebagai alternatif di tengah mahal dan langkanya perangkat baru. Inilah yang membuat toko seperti Sofmap rela menyapu bersih hampir semua PC yang masih bisa digunakan.
Tentu saja, tidak semua PC tua masih memiliki nilai jual. Umumnya, toko hanya tertarik pada komputer dengan spesifikasi minimal yang masih mendukung sistem modern, seperti platform DDR4 dan prosesor yang kompatibel dengan Windows 11.
Namun, ada cerita lain di balik komputer yang benar-benar lawas. Di Jepang, PC vintage justru punya pasar tersendiri. Toko elektronik bekas seperti Hard-Off masih dipenuhi komputer dari era lama yang diburu kolektor dan penggemar PC retro. Bagi mereka, komputer tua bukan sekadar alat, melainkan bagian dari sejarah teknologi.
Selama krisis perangkat keras belum mereda, tampaknya komputer lama masih akan terus diburu baik oleh pengguna biasa, perakit PC, maupun kolektor. (Nur Amalina)